2.26.2020

Emotional Movement Bersama Kak Niko

Hari Jumat, 14 Februari 2020 bertepatan dengan Hari Valentine, kami KPB kelas 10 dan kelas 11 berkegiatan bersama di Tahura, karena hari ini kami ada Kelas Semesta.  Kami masih belum diberitahu kegiatan hari ini akan seperti apa dan ngapain aja. Kami diminta kumpul paling telat jam 07.50 WIB. Saat kami datang, kami membeli tiket dan ternyata saat aku datang, narasumbernya juga datang, jadi kami sudah sempat berkenalan di pintu gerbang.  

Setelah tiba di lokasi berkegiatan, kami berkenalan terlebih dahulu kemudian Kak Niko, narasumber kami mulai memperkenalkan dirinya dan menceritakan beberapa hal, seperti pencapaiannya dan mengapa mengeluarkan emosi dengan cara yang baik menjadi penting untuknya. Menurutku cara beliau menceritakan hal-hal tersebut seru. Aku jadi mudah menyerapnya dan jadi semangat untuk berkegiatan di hari itu. Setelah itu beliau meminta kami untuk memikirkan 1 kegiatan atau kejadian yang paling berkesan, boleh yang baik atau yang buruk dan setelah itu beliau meminta kami menuliskan emosi atau hal hal yang terpikirkan setelah kami memikirkan kegiatan tersebut, tapi bukan menceritakan kegiatannya.  Kami diberi waktu yang cukup lama untuk menuliskan hal itu, aku merasa lebih rileks saja, karena disana udaranya segar, suasananya mendukung banget untuk membayangkan dan merefleksikan diri.  
Kami sedang mendengarkan cerita dari Kak Niko


Setelah itu kami diminta membacakan 3 tulisan yang tadi sudah ditulis secara random dan yang membuat aku panik adalah tulisanku DIBACA dan dibacanya pertama. Jujur aja waktu itu aku deg-degan banget karena kehitungnya tulisanku itu privasi dan tidak mau diketahui banyak orang, cuman ya mau gimana lagi, masa dibilang ga boleh. Saat mendengar tulisanku dibacakan, jantungku masih berdegup sangat kencang, aku tidak berani melihat Carenza yang membaca, karena takut dia tahu kalau itu adalah tulisanku.  Ya, waktu itu tulisanku dibacakan oleh Carenza, sesuai permintaan Kak Niko. Lama kelamaan, suara Carenza menjadi semakin kecil dan mulai terdengar isakan tangis. Akupun panik, kenapa dia menangis setelah membaca tulisanku? Saat itu juga aku menyadari, bahwa apa yang aku tulis ternyata pernah dia rasakan, sehingga ia bisa merasakan emosi dalam tulisanku. Disana perasaanku campur aduk, antara kaget karena dia bisa sampai nangis tapi seneng juga, baru tahu kalau ternyata di dalam tulisanku ada kekuatan yang ternyata bisa sampai juga ke orang lain. Ditulisan-tulisanku sebelum nya, orang sering bilang “wah tulisan kamu keren, ngena” tapi aku sering kali tidak percaya dan akhirnya aku percaya dengan kata-kata itu setelah melihat kejadian ini didepan mataku sendiri. Sepertinya aku akan lebih banyak mengolah kemampuan menulisku, agar ditulisanku yang kedepan bisa lebih ngena dan bermanfaat untuk orang lain. 




Setelah itu kami diajak untuk menari sebentar.  Beliau menjelaskan bahwa mengeluarkan emosi tidak hanya dengan tulisan, bisa dengan sebuah gerakan.  Disana ada juga Kak Raisa sebagai instruktur tari. Jujur aja aku merasa sedikit malu karena aku ga pinter ngedance dan ga pede buat ngedance di depan umum, apalagi di depan orang yang baru aja kenal. Tapi untung aja akhirnya aku bisa melakukannya dengan baik. Setelah kami menari dengan mengikuti koreografer Kak Raisa, kami dibagi perkelompok dan diminta membuat sebuah tarian dengan tema bebas dan nantinya harus ditampilkan didepan teman-teman yang lain. Aku langsung panik dong, karena aku ga pernah membuat koreografer modern dance sebelumnya dan ini aku harus melakukannya dengan waktu hanya 30 menit, bahkan kurang. Tapi walaupun menakutkan, aku jadi merasa tertantang dan akhirnya aku bisa membuktikan pada diriku sendiri, bahwa aku bisa kok melakukan suatu hal dengan baik yang sebelumnya belum pernah aku lakukan. 


 Setelah menari, kami menuliskan apa saja hal yang didapatkan dari kelas tersebut dan terakhir kami dibagikan sebuah buku yang dituliskan oleh kak Niko sendiri, berjudul Cerita Kembang Kertas. Aku merasa senang sekali, karena dari omongan yang dari tadi kak Niko bicarakan, sepertinya buku yang dia tulis itu unik, dan benar saja setelah aku buka, bukunya unik, tulisannya sangat pendek dan untuk mendapatkan maksud dari setiap kalimat kita harus membacanya dengan sungguh-sungguh dan merenungkannya, kalau dibaca selewat saja tidak akan bisa menangkap apa maksud dari setiap kalimatnya. Aku sendiri suka dengan buku seperti itu, karena aku lebih bisa mendapatkan poin yang ingin disampaikan penulis.
Kami berkegiatan bersama Kak Niko




Hal menarik saat tadi berkegiatan dengan Kak Niko adalah saat diajak untuk menuliskan emosi dan hal-hal yang muncul saat membayangkan suatu kejadian. Menurutku ini menarik dan seru, karena aku jarang sekali melakukan hal tersebut, apalagi di ruangan terbuka seperti Tahura ini.  Selain itu petunjuk-petunjuk yang diberikan Kak NIko membuat aku jadi lebih mudah untuk merefleksikan diriku dan aku jadi bisa lebih jujur ke diriku sendiri. Biasanya aku memutuskan untuk melupakan sebuah kejadian apalagi kejadian yang buruk, tapi dengan kegiatan ini aku jadi bisa menemukan hal-hal baik dari sebuah kejadian, bahkan dari kejadian yang paling buruk sekalipun. Selain itu, ada hal baru yang aku dapatkan dari kegiatan hari ini, yaitu menari.  Selama ini aku tidak terpikirkan untuk mengeluarkan emosiku lewat sebuah tarian, mungkin karena memang aku juga kurang suka menari dan lebih sering menuliskan apa yang aku rasakan. Ya walaupun kedepannya aku kemungkinan besar tidak akan mengeluarkan emosiku lewat menari, tapi setidaknya hal itu bisa menambah referensi dan informasi untukku.  




Dari kegiatan ini, aku jadi belajar untuk mengeluarkan emosi, karena kalau tidak dikeluarkan tidak bagus untuk badan dan untuk orang lain juga. Coba keluarkan, lewat tulisan atau apapun yang disukai. Dan dari kegiatan ini aku mendapatkan 1 quotes yang bagus banget, bakal aku ingat sampai kapanpun, yaitu “Kalau kami punya sesuatu yang baik, sebarkan dan bagikan ke orang lain, kalau tidak kalian bagikan sama saja tidak berguna dan tidak positif”. Menurutku ini quotes yang bagus karena selama ini, kalau aku punya karya, aku malu dan ga mau buat nyebarin hal itu, tapi setelah dengar quotes itu, sepertinya aku berubah pikiran, aku akan lebih rajin membagikan karyaku agar bisa bermanfaat bagi orang lain juga.  



1.30.2020

Budayakan Makanan Tradisional Indonesia... #2

Setelah membahas tentang makanan Indonesia yang mendunia, sekarang aku mau membahas tentang makanan-makanan khas Indonesia yang sudah hampir hilang atau jarang ditemukan. Mungkin beberapa dari makanan ini masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional, tapi tergolong susah, bahkan kebanyakan orang sudah tidak tahu lagi.  Berikut adalah makanan-makanan Indonesia yang sudah hampir hilang...
KETIMUS 

Ketimus terbuat dari parutan singkong, gula merah dan dicampur dengan tepung terigu. Tepung terigu disini berfungsi sebagai perekat. Ketimus merupakan kue basah yang dibentuk lonjong, dibungkus daun pisang dan dikukus. Makanan ini biasanya disuguhkan di acara Tahlilan, Mauludan dan sebagainya. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, makanan ini dikenal dengan nama lemet.

GABUS PUCUNG 

Gabus Pucung berawal dari ketidakmampuan masyarakat Betawi di zaman kolonial Belanda untuk mengkonsumsi ikan mas, mujair atau bandeng yang dirasa mahal bagi rakyat jelata. Untuk itu, dimasaklah ikan gabus yang berkembang biak secara liar hingga menjadi masakan lezat.  Tahun 1970-an, Kota Bekasi masih berupa rawa-rawa. Belum banyak permukiman mewah ataupun gedung tinggi seperti sekarang. Keberadaan rawa di sana, akhirnya dimanfaatkan tumbuhan dan binatang untuk bertahan hidup. Seperti halnya ikan gabus yang hidup subur di sana. Ribuan ekor ikan gabus hidup bebas di rawa itu. Warga Bekasi yang melihat potensi pangan, kemudian memanfaatkan situasi ini untuk mengolah ikan gabus menjadi makanan. kata gabus yang berasal dari ikan gabus dan pucung yang merupakan buah kluwak banyak digemari oleh masyarakat Betawi. 


GULO PUAN
Gulo Puan merupakan makanan yang berasal dari Palembang. Makanan yang terbuat dari gula ini kerap disebut sebagai kejunya Sumatera Selatan. Gulo puan terbuat dari campuran gula pasir dan susu kerbau. Untuk memasaknya, dibutuhkan waktu pengolahan sekitar 3-4 jam. Selain karena proses pembuatannya yang sulit, Gulo Puan sekarang makin susah ditemukan karena susu kerbau sudah mulai langka.  Awalnya Gulo Puan adalah makanan para bangsawan sebagai warisan dari raja-raja Kesultanan Palembang Darussalam.


CLOROT

Clorot merupakan makanan yang berasal dari Purworejo.  Kue Clorot termasuk kue yang tergolong unik, meski pembuatannya sederhana yaitu terbuat dari adonan tepung beras dan gula merah, tetapi pada cara memasaknya dibutuhkan keterampilan dan ketelatenan yang cukup tinggi, karena adonan tersebut dimasukan dalam sebuah wadah dari daun kelapa muda ( janur kuning ) yang dipilin melingkar membentuk  kerucut , kemudian di kukus.Cara menyantap kue inipun cukup unik yaitu, pada bagian bawah kerucut kita tekan dulu dengan menggunakan jari, setelah isinya terlihat keluar baru di makan. Kelihatannya ribet ya? Enggak kok cobain aja, pasti seru !



 GRONTOL JAGUNG


Grontol jagung ini merupakan salah satu jenis jajan pasar yang berasal dari Jawa Tengah.  Dibuat dari biji jagung jenis yang kuning. Biji jagung direbus dengan air yang diberi sedikit air kapur sirih dan sedikit garam, sehingga saat matang kulit arinya merekah dan jagung jadi empuk-empuk kenyal. Saat masih panas biasanya ditaburi kelapa parut yang sudah dikukus dan diberi sedikit garam dan gula. Karena itu rasanya gurih-gurih manis. Harganya juga murah, per bungkus cukup Rp.1000 saja.


NASI TIWUL

Nasi Tiwul merupakan makan khas Trenggalek, Jawa Timur.  Zaman dahulu orang Jawa biasa menyantap nasi yang dicampur dengan bahan lain. Bisa jagung atau singkong. Nasi tiwul merupakan pengganti nasi yang berasal dari gaplek, olahan singkong yang sudah dikeringkan. Biasanya tiwul disantap bersama parutan kelapa atau gula. Namun di Trenggalek makanan pokok ini disantap bersama lauk pauk seperti sayur lodeh, urap sayur, dan ikan asin. Kemudian disajikan bersama sambal pedas khas Trenggalek. Namun, sekarang ini sudah jarang orang yang mengkonsumsi nasi tiwul, karena beras sudah sangat mudah ditemukan.  


KERAK TELUR


Siapa yang tidak mengenal kerak telur? Yapp makanan khas Betawi ini sudah sangat susah ditemui bukan? Padahal rasanya nikmat dan cara membuatnya unik sekali.  Bentuknya yang seperti omelet, tak jarang kerak telor kerap disebut omelet Batavia. Bahan kerak telurnya ada dua, yaitu beras ketan dan telur bebek/telur ayam. Supaya rasanya makin nikmat, kerak telor juga diberi campuran rempah-rempah sebagai penyedap. Kerak telor dimasak menggunakan wajan. Saat kerak telor sudah setengah matang, kerak telor pun dibalik dan dibiarkan terkena bara api sambil dikipasi. Ketika agak kering dan matang, barulah kerak telor disajikan dengan serundeng yang berasal dari kelapa parut, juga bawang goreng. Ketika zaman penjajahan Belanda dahulu, kerak telor tercipta secara tidak sengaja karena hasil coba-coba sekawanan orang Betawi yang tinggal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Jakarta yang dulu terkenal dengan nama Batavia memiliki banyak pohon kelapa, sehingga para warga memanfaatkan buah kelapa untuk memasak beragam makanan, salah satunya kerak telor.


BUBUR ASE
 

Bubur Ase merupakan bubur yang toppingnya adalah sayur asinan dan semur daging.  Ase berarti dingin, sebab bubur ini dihidangkan dingin. Semua yang menjadi lauk pendamping bubur ase juga dihidangkan dingin. Rasa bubur ase adalah gabungan rasa gurih, pedas, asin, dan banyak rasa yang menyatu sehingga bubur ini enak disantap.



Selain makanan-makanan ini, masih banyak makanan khas Indonesia yang sudah banyak dilupakan. Yuk, kita lebih peduli dan lestarikan makanan khas Indonesia, karena makanan-makanan itu adalah salah satu tanda pengenal kita sebagai orang Indonesia. Kita harus bangga dengan kebudayaan kita sendiri.. :)

1.23.2020

Budayakan Makanan Tradisional Indonesia #1

Siapa yang tidak kenal nasi goreng? Tentu semua pembaca tahu nasi goreng! Iya nasi goreng merupakan salah satu masakan yang dikenal dunia, tapi tahukah anda kalau sebenarnya nasi goreng dibawa oleh salah seorang pendatang dari Tionghoa? Sekarang, banyak sekali makanan Indonesia yang sudah dilupakan asal usulnya oleh masyarakat, padahal asal-usul sebuah makanan itu penting loh.  Terkadang ada cerita-cerita unik dibaliknya. Namun, seringkali masyarakat melupakan makanan-makanan khas daerahnya, mereka lebih suka makan makanan lain, seperti burger dan pizza, yang tidak lebih sehat dibanding makanan khas daerahnya. Kira-kira apa saja sih cerita dibalik setiap makanan khas Indonesia yang sudah mendunia. Berikut adalah makanan-makanan Indonesia yang mendunia dan asal usulnya.  

SOTO

Siapa yang tidak tahu soto? Yap, soto merupakan makanan berkuah yang seringkali dicari disaat musim hujan, seperti sekarang ini.  Sejarah soto berasal dari penganan orang Tionghoa yang disebut caudo, artinya rerumputan jeroan atau jeroan berempah. Sebab pada zaman Belanda dahulu, daging merupakan makanan mewah. Maka dipilihlah jeroan yang harganya lebih terjangkau. Penganan berkuah ini juga berisi mie ataupun soun yang merupakan khas budaya Tionghoa. Pertama kali soto dikenal adalah di Semarang dan sekitarnya, seperti Kudus.  Awalnya soto merupakan panganan untuk orang kecil, karena bahannya dari jeroan, namun sekarang makanan tersebut bahkan mudah ditemui di berbagai restoran mewah. 
Interaksi masyarakat nusantara dengan penduduk Tionghoa menjadikan soto diterima oleh lidah orang Indonesia. Tentunya disesuaikan dengan kebiasaan setempat, seperti penambahan bumbu maupun bahan isian. Sehingga jadilah soto Semarang dengan kuah cenderung asam, soto Kudus yang umumnya menggunakan daging kerbau sebagai bentuk toleransi terhadap masyarakat Hindu di kota tersebut. Soto Betawi berkuah santan, soto Tegal dengan kuah dicampur fermentasi kacang kedelai, dan beragam jenis soto lainnya. Walaupun telah beradaptasi dengan budaya setempat, ada yang tidak berubah yaitu tetap berisi mie maupun soun pada sebagian besar tipe soto nusantara. Soto pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke 19 di pesisir pantai utara Jawa. 

Soto yang sekarang dikenal luas contohnya ada soto Lamongan (soto berkuah kuning yang terbuat dari kaldu ayam dengan taburan koya), soto Kudus (Kuah dari soto Kudus bening dan terbuat dari kaldu ayam dengan isian daging kerbau atau ayam. Soto Kudus tidak menggunakan daging sapi karena saat penyebarannya menghormati umat Hindu yang tidak mengkonsumsi daging sapi) dan soto Betawi (kuah lebih kental dan creamy karena menggunakan santan dan susu)


NASI GORENG 

Nasi goreng ternyata sudah ada di negara Cina sejak 4.000 tahun sebelum masehi.  Nasi goreng merupakan resep bawaan dari negeri tirai bambu. Yapp, Cina! Ide memasak nasi goreng dimulai dari kebiasaan masyarakat Tionghoa yang tidak suka dengan makanan yang sudah dingin dan malah membuangnya. Biasanya apabila ada makanan sisa, mereka akan menyimpannya di lemari pendingin. Oleh sebab itu, mereka mencoba untuk memasak kembali nasi yang sudah dingin. Agar lebih enak, mereka memasukkan bumbu-bumbu sewaktu memasaknya. Ada cukup banyak jenis nasi goreng, seperti nasi goreng teri, nasi goreng putih (kecap asin sebagai bumbu), nasi goreng pattaya (nasi goreng dibungkus telur) dan nasi goreng jawa (nasi goreng coklat dengan kecap) 



SATE

Tentu sate tidak asing lagi di telingan orang Indonesia.  Jenisnya yang beragam membuat makanan ini banyak digemari orang banyak.  Sate sendiri diperkirakan muncul pada abad ke 19 yang di populerkan oleh pedagang yang berasal dari Arab, Gujarad India, dan pedagang Muslim yang datang ke pulau Jawa. Awalnya masyarakat pribumi memasak daging dengan cara di rebus, namun setelah pedagang Timur Tengah datang ke Indonesia memperkenalkan kebab, makanan yang masak dengan cara dibakar dengan berbagai jenis daging seperti ayam, kambing dan sapi, masyarakat Indonesia tertarik juga untuk memasak daging dengan dibakar.  Kata sate pun diperkirakan berasal dari bahasa Tamil, yaitu catai yang artinya daging. 



RENDANG

Rendang merupakan salah satu warisan dunia.  Oleh sebab itu, tidak usah diragukan lagi kenikmatan dari makanan yang satu ini.  Masakan ini muncul karena masyarakat Minang di kala itu kerap melakukan perjalanan laut menuju Selat Malaka dan Singapura. Perjalanan ini bisa memakan waktu sekitar sebulan lamanya, dan selama itu pulalah rakyat Minang akan terombang-ambing di atas kapal tanpa tempat pemberhentian.  Oleh karena itulah, mereka mencoba menciptakan makanan yang tahan lama dan tidak mudah basi meski disimpan hingga sebulan lamanya. Pada saat itu, rendang dibuat dari daging kerbau yang diberi aneka macam bumbu rempah-rempah alami. Uniknya, gabungan rempah-rempah seperti cabai, kunyit, jahe, lengkuas, dan lain-lainnya ini memiliki sifat antimikroba dan bisa berguna sebagai pengawet alami. Nama rendang sendiri berasal dari kata ''merandang'', yaitu proses memasak daging selama berjam-jam lamanya hingga kuahnya kering dan awet untuk jangka waktu lama.



Itulah beberapa makanan Indonesia yang sudah mendunia beserta asal usulnya.  Yuk, mulai sekarang kita lebih peduli lagi dengan asal-usul setiap makanan khas daerah kalian masing-masing, agar ceritanya tidak hilang ditelan waktu. 

12.14.2019

Resensi Buku The Undomestic Goddess

Judul Buku: The Undomestic Goddess (Bukan Cewek Rumahan)
Penulis:Sophie Kinsella
Penerbit: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 559 halaman
Tahun terbit: 2005
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jenis cover: Soft cover
Kategori: Novel

Cover Belakang: Samantha adalah pengacara top di London.  Ia bekerja sepanjang waktu, tidak ada waktu untuk diam di rumah dan hanya punya satu cita-cita, meraih posisi rekanan di biro hukum ternama.  Seluruh hidupnya dipacu tekanan dan semburan adrenalin.  Hingga suatu saat.... ia membuat satu kesalahan.  Satu kesalahan fatal yang menghancurka seluruh kariernya.  Samantha yang shock berat langsng kabur dari kantor, naik kereta pertama yang dilihatnya dan mendapati dirinya berada di desa antah berantah.  Karena kesalahpahaman, pengacara lulusan Cambridge ber-IQ 158 itu menerima pekerjaan sebagai pengurus rumah tangga, padahal ia bahkan tidak tahu cara menghidupkan oven.  Ini adalah kisah tentang seorang gadis yang perlu sedikit santai. Menemukan jati dirinya. Jatuh cinta dan mengetahui bagaimana cara menghidupkan oven.  

Sinopsis: Buku ini menceritakan tentang gadis muda bernama Samantha yang berprofesi sebagai pengacara.  Secara tidak langsung, orang tuanya yang berprofesi sebagai pengacara menuntut Samantha untuk menjadi pengacara ternama.  Karena itulah, Samantha selalu sibuk, tidak pernah diam di rumah, melakukan hobinya, bahkan ia hanya bisa berada di rumah saat tidur. Di weekend pun ia selalu bekerja ke kantor.  Samantha sangat mengidolakan posisi rekanan di Carter Pink, salah satu biro hukum ternama di London.  Untuk bisa mencapai itu, Samantha perlu bekerja sangat keras, hingga ada salah seorang temannya yang mencoba menjatuhkan Samantha, agar tidak mendapatkan posisi tersebut.  

Teman Samantha yang licik tersebut, berhasil membuat Samantha disalahkan oleh semua orang yang bekerja di biro hukum ternama tersebut, dan berhasil menjatuhkan nama SAMANTHA.  Tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Samantha kabur dari kantor dan pergi entah kemana dengan uang yang seadanya.  Karena panik, tanpa ia sadari, ia malah berhenti di sebuah desa yang berbeda sekali dengan tempat tinggalnya selama ia bekerja sebagai pengacara.  Disana ia bekerja sebagai seorang pengurus rumah tangga, yang perjanjiannya ia sepakati saat sedang mabuk.  Bayangkan apa yang terjadi?? Selama bekerja sebagai pengacara, bahkan ia tidak pernah menggunakan oven dan microwave di apartemennya, dan sekarang ia harus melakukan hal-hal tersebut.

Disana ia bertemu dengan salah seorang tukang kebun, orang pertama yang menyadari kalau Samantha tidak bisa menggunakan semua barang-barang tersebut. Namun ternyata tukang kebun tersebut baik sekali, ia menawari Samantha untuk belajar memasak dengan ibunya.  Awalnya Samantha menolak, tapi setelah dipikir-pikir ia butuh juga belajar memasak.  Begitu banyak lika liku dalam kehidupan Samantha selama ia hidup disini.  Sampai akhirnya ia jatuh cinta kepada sang tukang kebun dan memutuskan untuk melupakan kariernya sebagai pengacara, yang tadinya sangat ia impikan.  Ia tahu, ia akan dimarahi orangtuanya bila ia meninggalkan kariernya sebagai seorang pengacara.  Kira-kira bagaimana kelanjutan kisah Samantha? 


Kekurangan: Menurut saya, cover buku ini kurang menarik karena warnanya yang kurang beragam dan gambarnya yang terlalu sederhana.  Mungkin akan lebih menarik kalau diberi tambahan warna lain dan gambar yang lebih beragam.  Selain itu bahan kertas yang tipis membuat buku ini cepat rusak, mungkin akan lebih baik kalau bahan diganti dengan kertas yang lebih tebal. 

Kelebihan:  Cerita dari buku ini menarik sekali.  Alur yang digunakan membuat pembaca jadi tidak mau berhenti membaca dan kata-kata yang digunakan mudah dimengerti.  Selain itu, ukuran buku yang kecil membuat buku ini mudah dibawa.  

COVER BUKU

12.11.2019

Resensi Buku Mini Shopaholic

Judul Buku: Mini Shopaholic
Penulis:Sophie Kinsella
Penerbit: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 567 halaman
Tahun terbit: 2010
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jenis cover: Soft cover
Kategori: Novel Dewasa (untuk usia 17+)

Cover belakang: Becky Brandon berpikir mudah saja menjadi ibu, dan putrinya akan menjadi teman belanja seumur hidup!  Tapi Minnie yang baru 2 tahun ternyata memiliki pendekatan yang berbeda dalam berbelanja.  Dia sering menjerit "Mauuuu!" tanpa pandang bulu, menciptakan kekacauan dari Harrods sampai Harvey Nichols, suka memanggil taksi untuk pergi ke toko, bahkan memesan baju di eBay tanpa bilang-bilang.  Sementara itu, negara mereka dilanda krisis keuangan. Semua orang melakukan pengikatan ikat pinggang, padahal Becky dan Luka masih tinggal di rumah orangtua Becky.  Rencana untuk membeli rumah pun gagal.  Untuk embangkitkan semangat, Becky memutuskan membuat pesta kejutan dengan biaya hemat.  Tapi bukan Becky namanya kalau tidak terlibat dalam masalah yang lebih rumit.  Sanggupkah Becky mengatasinya? Apakah harapan rahasianya dapat menjadi nyata?


Sinopsis:Buku dengan 567 halaman ini memiliki cerita yang cukup unik dan rumit.  Dicerita ini, diceritakan Becky, sebagai ibu muda yang hobi sekali berbelanja, sedangkan suaminya, Luke merupakan orang yang bisa dibilang gila kerja.  Ia pergi pagi pulang sore, bahkan ia seringkali melupakan acara keluarga, bahkan acara ulang tahunnya sendiri ia lupakan hanya karena pekerjaan. Keluarga unik ini memiliki 1 anak bernama Minnie yang hobi sekali berbelanja (tentunya karena melihat kebiasaan sang ibu) dan seringkali membuat heboh toko. Bahkan Minnie sempat memesan 16 jaket berharga mahal melalui eBay.


Sikapnya itu seringkali menimbulkan prasangka buruk kepadanya. "Minnie anak yang bodoh!" dan "Minnie tidak bisa diatur" adalah kata-kata yang tidak asing lagi didengar Becky.  Karena itulah Becky tidak menyekolahkan Minnie, bahkan sampai ia sudah hampir berumur 4 tahun.  Hidupnya yang terlalu mewah membuat ia selalu lupa menyisihkan uang untuk membeli rumah.  Hingga suatu saat ada krisis keuangan yang menyebabkan ia harus lebih berhemat dan berhenti berbelanja barang-barang mewah.


Karena tidak bisa melakukan hobinya Becky merasa stress, ditambah lagi melihat kondisi keluarganya yang jarang sekali bisa berkumpul.  Oleh karena itu, Becky mencoba merencanakan suatu acara yang akan dilaksanakan di hari ulang tahun suaminya.  Selain untuk menyatukan kembali keluarganya, ia juga ingin memberikan kejutan kepada suaminya di hari ulang tahunnya, yang selama ini sering dilupakan. Becky membuat acara ini secara diam-diam dan tidak diketahui Luke.  Awalnya semua terlihat berjalan dengan lancar, tapi beberapa hari sebelum acara Luke ternyata tidak bisa datang.  Bagaimana bisa, justru bintang acara tidak bisa datang?? Apa yang akan Becky lakukan untuk membujuk suaminya?



Kekurangan: Buku ini memiliki beberapa konten dewasa, jadi kurang cocok dibaca oleh anak dibawah usia 17 tahun.  Bahan untuk halaman bukunya juga menurut saya kurang bagus, karena tipis, sehingga mudah robek dan rusak. 


Kelebihan: Gambar di cover buku ini menarik sekali, walaupun bisa dibilang abstrak, tapi menarik perhatian dan cocok dengan isi cerita.  Pemilihan warnanya juga bagus. Selain cover, tata kalimat didalam buku ini juga enak dan cocok, sehingga pembaca tidak sulit untuk mengerti.  Bentuk buku yang bisa dibilang kecil ini juga unik dan menarik.  Saya sendiri sering membawa dan membaca buku ini dimana-mana karena bentuknya yang kecil sehingga mudah dibawa. 


Cover Buku


11.07.2019

Budidaya Maggot


Selama semester 1, kegiatanku di KPB terbilang cukup padat.  Aku banyak mengerjakan proyek dan bertemu dengan komunitas atau orang-orang baru.  Salah satu komunitas yang aku temui adalah YPBB yang merupakan singkatan dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi.   Kelas 10 bersama YPBB berkolaborasi untuk mengerjakan proyek sistem sampah yang rencananya akan dijalankan di Semi Palar.  



Kami berfoto bersama Pak RW dan beberapa pengurus
Tanggal 6 November kemarin, kami, kelas 10 berkegiatan di daerah Cimahi untuk melakukan riset tentang maggot.  Apa sih maggot itu? Maggot merupakan salah satu jenis larva yang digunakan untuk membantu menguraikan sampah organik, seperti sampah dapur.  Maggot sendiri adalah anak dari jenis lalat Black Soldier Fly yang berwarna hitam dan konon katanya berprotein tinggi.  



Sekitar jam 9, kita berangkat ke Cimahi dan bertemu dengan salah satu pengurus yang bernama Pak Mus.  Sebelum kami melihat pembudidayaan maggot, kami dijelaskan terlebih dahulu apa itu maggot, apa latar belakang masyarakat disana membudidayakan maggot dan sebagainya. Awalnya masyarakat di daerah sana sangat tidak peduli dengan sampah, mereka membuang sampah sembarangan dan masih menyatukan sampahnya, antara yang organik dan anorganik, tapi sejak 2017, beberapa orang bersama dengan YPBB memulai Gerakan Zero Waste yang sampai sekarang masih dilaksanakan.  Ternyata Gerakan tersebut berhasil dilakukan sehingga wilayah tersebut (RW 17) mendapatkan cukup banyak penghargaan dari pemerintah perihal pengelolaan sampah.  




Bebek peliharaan yang diberi makan maggot
Setelah selesai dijelaskan, kami langsung  berjalan ke tempat pembudidayaan maggot.  Perjalanan memakan waktu sekitar 5 menit.  Saat masuk, ternyata disana tidak hanya ada pembudidayaan maggot, tapi ada pembudidayaan lalatnya juga. Selain itu di sana ada pembudidayaan ayam serta bebek. Ternyata maggot yang digunakan untuk memakan sampah organik dijadikan pakan ayam dan bebek juga karena sifatnya yang tinggi protein.  Menurutku ini menarik karena aku dengar penjelasan dari Pak Mus, di masa depan protein (seperti ayam, sapi dan kambing) bisa saja digantikan dengan maggot.  Walaupun aku tidak bisa membayangkan, akan seperti apa nanti jika aku harus mengkonsumsi makanan berbahan dasar maggot di masa depan.  😊



Cara membudidayakan maggot sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi langkah awal yang harus dilakukan adalah menemukan lalat dengan jenis yang tepat terlebih dahulu.  Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membudidayakan lalat tersebut.  Di Cimahi sendiri kandang lalat terbuat dari jaring yang tidak lupa diberikan atap.  Dalam waktu yang cukup singkat, lalat tersebut sudah bisa berkembang biak.  Selanjutnya, larva lalat tersebut akan dikeluarkan dari kandang dan dipindahkan ke tempat  dimana ada banyak sekali sampah organik, mulai dari sisa sayuran, daun-daun kering sampai bangkai ayam.  Anehnya sampah-sampah tersebut tidak sebau kalau kita temukan di jalan.  Ya walaupun masih tetap ada baunya, tapi tidak menyengat. 




Disana terlihat maggot makan dan bertumbuh sangat cepat.  Katanya maggot ini bisa mengolah sampah organik dengan cepat dan banyak.  Itulah sebabnya, maggot itu gemuk-gemuk sekali.  Selain itu karena karakternya yang bisa dengan cepat menguraikan sampah organik, maggot juga banyak dicari orang.  Usia maggot tidak terlalu lama, setelah masa perkembangbiakannya usai biasanya mereka akan mati.  



Maggot yang sedang dikembangbiakan
Pak RW menjelaskan kalau maggot akan lebih cepat menguraikan sampah kalau yang diberikan adalah sisa sampah dapur.  Disana aku sempat melihat ada 1 sampah daun yang sepertinya sudah cukup lama dimasukkan ke tempat maggot berkembang biak dan bentuknya masih utuh, tidak banyak berubah, sedangakn sampah dapur seperti sisa potongan sayur sudah banyak yang hancur. 
Setelah melihat pembudidayaan maggot, kita dijelaskan tentang pembudidayaan ayam, bebek dan beberapa tanaman.  DIsana mereka sudah menghasilkan telur ayam dan telur bebek sendiri yang bisa dibilang telur organik.  Untuk makan bebeknya, mereka menyediakan satu tempat (seperti genangan air).  Disana biasanya bebek makan dan berenang.  Untuk memanfaatkan lahan, mereka menggunakan tempat tersebut untuk menanam kangkung juga.  Menurutku ini menarik karena aku baru pertama kali melihat dengan mata sendiri tentang sistem kombinasi (budidaya maggot, budidaya bebek dan ayam dalam satu tempat yang sama) 




Hal menarik lain yang aku dapatkan selama berkegiatan disana adalah tentang maggot karena aku baru tahu maggot saat berkunjung kesana.  Ternyata budidayanya juga tidak terlalu sulit, tapi manfaat maggot untuk manusia sangatlah banyak.   Selain itu aku juga cukup tertarik dengan masyarakat disana, karena ternyata cukup banyak masyarakat di Bandung yang sudah peduli dengan bahayanya sampah, karena selama ini aku sering malihatnya manusia yang tidai peduli dengan sampah, dengan buang sampah sembarangan, menggunakan plastik sekali pakai dan sebagainya.  Aku harap seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang sadar bahayanya sampah dan mau untuk mengurangi dan memilah sampahnya untuk masa depan yang lebih baik. 




Dari kegiatan ini, aku terinspirasi untuk menerapkan sistem kombinasi (dengan budidaya maggot) juga di Semi Palar, karena sepertinya akan menarik sekali apabila sistem ini diterapkan di Semi Palar.  Selain untuk membantu sistem sampah, bisa juga jadi bahan edukasi untuk murid-murid yang lebih kecil.  Selain budidayanya yang gampang, ternyata ada cukup banyak manfaat maggot selain untuk menguraikan sampah organik.  Selain itu aku juga terinspirasi untuk lebih peduli lagi dan lebih keras perihal sampah.  Contohnya melawan rasa malas untuk memisahkan sampah organic, anorganik untuk ecobrick maupun sampah anorganik biasa, karena orang-orang diluar sana juga bisa melakukan, kenapa aku tidak bisa.  Terakhir inspirasi yang aku dapatkan adalah untuk menerapkan maggot di Bandung, dimulai dari rumah dan sekolah, karena menurutku ini cukup efektif untuk mengurangi sampah organik.  Budidaya yang gampang dan sifatnya yang lebih efektif dan cepat menjadi factor pertimbangan penting.