8.10.2017

Ekspedisi Kecil Kelompok Dolangan

              Di hari Selasa, 8 Agustus 2017, tepat pukul 07.20 aku dan teman-teman kelompok Dolangan berkumpul di Stasiun Kiara Condong.  Kami memulai perjalanan kecil ini dengan berdoa bersama disinari matahari pagi.  Setelah berdoa, kami berkumpul sesuai kelompok yang sudah ditentukan kemarin dan mulai menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan selama ekspedisi.  Di perjalanan kali ini, aku dikelompok bersama Naia dan Linus, seharusnya dikelompok kami ada Cindy namun ia berhalangan hadir di hari itu.  Setelah kami semua siap, kak Diki membriefing setiap kelompok.  Kami memulai ekspedisi dengan mengunjungi Makam Mbah Malim.
                Dihembusi angin pagi, aku, Naia dan Linus terus berjalan menyusuri jalan Kiara Condong.  Tanpa membuang banyak waktu, akhirnya aku dan teman kelompok ku sampai didepan sebuah gang yang bertuliskan “Jl. Embah Malim”.  Tanpa ragu lagi akhirnya aku, Naia dan Linus segera masuk ke dalam gang tersebut kemudian mulai mencari tempat yang kami tuju, yaitu Makan Mbah Malim.  Di tengah perjalanan mencari makam tersebut, seorang bapak-bapak menghampiri kami kemudian berkata”Dek nyari makamnya mbah malim yaa?” tanpa menunggu lama kami semua serentak menjawab dengan semangat”Iyaa pakk!”.  Tanpa segan-segan bapak tersebut segera menunjukkan letak Makam Mbah Malim dan ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami tadi bertemu dengan bapak itu.  Selama di perjalanan aku masih merasakan kentalnya budaya Sunda. Kebanyakan warga disana berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda yang sudah dijadikan bahasa sehari-hari mereka.  Warga yang ada disana juga sangat ramah, bahkan tanpa ditanya pun mereka sudah mau memberitahukan letak tempat yang kami tuju atau bahkan sekedar menyapa.
               Pukul 08.00 WIB kami tiba di Makam Mbah Malim.  Disana kami bertemu dengan Pak Cece, seorang penjaga makan yang sudah 12 tahun menjaga Makam Mbah Malim.  Beliau mengajak kami untuk berkumpul di sebelah Makam Mbah Malim.  Tanpa menunggu lama, suasana di sana langsung hangat penuh canda dan tawa.  Pak Cece juga banyak bercerita mulai dari kisah hidup Mbah Malim,  bahkan sampai kisah mistis yang pernah terjadi di makam itu.  Jujur selama di dalam makam aku sempat merasa takut, mungkin karena orang-orang sering mengatakan kalau makam itu tempat mistis.  Kurang lebih Pak Cece bercerita selama 1 jam. Begini kisah hidup Mbah Malim..
                Mbah Jaludin atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Malim itu merupakan orang  kelahiran Limbangan, Garut.  Selama hidupnya beliau mengembara di sekitar Pulau Jawa dan beliau mengakhiri pengembaraannya di kota Surabaya, Jawa Timur.  Setelah selesai mengembara, Mbah Malim memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Limbangan.  Beberapa tahun kemudian, Mbah Malim dipanggil ke Bandung untuk membantu menjaga orang-orang yang membersihkan sungai Cikapundung-sungai Citarum.  Sebelum kedatangan Mbah Malim, acara kerja bakti membersihkan sungai itu banyak memakan korban, namun setelah mendatangkan Mbah Malim, konon katanya jadi sedikit korban.  Maka dari itu Mbah Jaludin mendapatkan julukan Mbah Malim, karena dalam bahasa sunda, Malim itu artinya orang yang pintar.  Sebagai imbalan, beliau diberikan tanah yang sangat luas, yang sekarang dinamakan Babakan Surabaya.  Konon katanya dinamai Surabaya karena kota yang terakhir kali ia datangi untuk mengembara adalah kota Surabaya makanya beliau menamainya Surabaya.
               Setelah mendapat banyak informasi, kami pun mengucapkan terima kasih kemudian berfoto bersama dengan Pak Cece, narasumber kami.  Setelah itu kami bersiap lagi untuk mengunjungi tempat selanjutnya.  Setelah keluar dari Makam. kami pun dibriefing oleh kakak per kelompok.  Tanpa menunggu lama, aku, Naia dan Linus segera mendatangi kakak dan setelah berkumpul dengan kakak kami diberitahukan kemana kami akan menjelajah selanjutnya.  "Gengs kalian abis ini kumpul yaa di Gereja Kristen Jawa.. Kakak tunggu jam 09.20 WIB"seru kak Olin.  Tanpa menunggu lama, aku dan teman sekelompok ku segera berangkat.  Kami sempat kesulitan mencari Gereja yang dimaksud karena beberapa orang yang kami tanya memberikan pernyataan yang berbeda-beda.  Setelah lama mencari, akhirnya kami pun menemukan gereja yang dimaksud, Gereja Kristen Jawa yang dimaksud terletak di jalan Kebon Jayanti.
                   Disana kami bertemu dengan narasumber kami, yaitu Bu Hesti dan Pak Markus.  Katanya gereja ini sudah didirikan dari tahun 1927.  Gereja ini dibangun tanggal 15 Juni dan dalam sekali misa biasanya ada 700-800 jemaat.  Katanya sih mayoritas umat disini masih 90% asli Jawa.  Orang-orang yang mengurus gereja disini masih menjaga tali silaturahmi dengan warga sekitar, seperti kalau paskah, pasti mereka membagikan telur mentah pada warga sekitar dan kalau 17 an mereka biasanya mengadakan beberapa lomba di gereja jadi tali silaturahminya tetap terjaga.
                 
           
                Setelah mendapatkan banyak informasi, aku dan teman-teman meminta ijin untuk istirahat di gereja.  Setelah istirahat, kami pun berfoto dengan narasumber kami kemudian kami melanjutkan perjalanan. Seperti biasa sebelum perjalanan dilanjutkan pasti diadakan briefing per kelompok.  Kelompok aku mendapatkan kesempatan untuk dibriefing pertama kali.  Selanjutnya kami akan menjelajahi Kantor Kelurahan dan Pasar.  Kami diberi beberapa tantangan oleh kakak, salah satunya adalah mencari Tukang Rampe saat di pasar.  Jujur pada saat mendengar kata Rampe aku bingung bangett soalnya gk pernah denger kata Rampe.  Tanpa banyak bertanya akhirnya aku, Naia dan Linus segera berangkat.  Rencananya kami akan menjelejah ke Kantor Kelurahan dulu.  Kami mengunjungi Kantor Kelurahan Kebon Jayanti yang letaknya di Jalan Stasiun Lama Kiara Condong no.39
                       Saat masuk ke dalam Kantor Kelurahan, kami langsung disambut oleh Pak Nono dan Pak Didi, pekerja disana.  Pak Nono ramah sekali, tanpa kami tanya pun beliau sudah langsung menjelaskan.  Disana kami mendapat banyak informasi tentang Kelurahan Kebon Jayanti.  Kelurahan kebon Jayanti memiliki 14 RW, memiliki 11.993 penduduk tetap dan memiliki 1.197 penduduk tidak tetap.  Kata Pak Nono, tidak semua penduduk disini khas dari Kiara Condong, ada yang dari Ujung Berung, Cicaheum dan Lengkong.  Kelurahan ini dipimpin oleh Pak Abdul Manaf.  Jujur disana aku merasa senang karena mendapatkan banyak informasi dan disana juga kami diberikan sebuah peta Kelurahan Kebon Jayanti.  Karena kami sudah banyak mendapatkan informasi, kami pun pamit kemudian segera meninggalkan Kantor Kecamatan itu.
             Belum 10 langkah kami meninggalkan Kantor Kelurahan, tiba tiba kami mendengar seseorang berteriak dari belakang.  "Dekk tunggu dulu dek"begitu katanya.  Tanpa menunggu lama, aku, Naia dan Linus segera menengok ke belakang.  Ternyata Pak Didi yang dari tadi berteriak.  "Eh dek ayo ke kantor dulu, mau difoto dulu untuk dokumentasi"seru Pak Didi.  Aku, Naia dan Linus merasa sangat senang, serasa jadi artis dimintain foto.  Tapi dibalik rasa senang itu masih tetap ada rasa khawatir di dalam hatiku, karena kami harus kumpul di stasiun Kiara Condong jam 12 an.  Dan aku takut telat.
                     Kita pun sampai di Kantor Kelurahan.  Kami masuk ke ruangan yang sama kemudian tak lama kemudian, sudah banyakk orang yang mengelilingi kami.  Semuanya membawa gadget dan bersiap memotret kami.  Kami pun berfoto lama sekali, orang mengantre di belakang untuk memotret kami.  "Aduh udah jam segini nih balik yuk nanti telat loh"kata aku berusaha mengakhiri acara pemotretan masal itu.  Linus dan Naia pun langsung mengangguk dan akhirnya kami pun berhasil keluar dari kerumunan orang itu.  Buru-buru kami pergi ke pasar dan mewawancarai para pedagang disana.  Kebanyakan kami mewawancarai pedagang buah.

                  Sebelum sampai ke pasar, kami didatangi oleh seorang ibu-ibu dan ibu itu langsung berkata "Dek mau kemana? Mau kepasar ya? Tadi ibu juga liat banyak ade-ade pake baju kayak gini". Aku pun langsung menjawab "Mau ke pasar bu, kita mau nyari tukang rampe".  Aku berharap dengan aku lontarkan kalimat "tukang rampe" si ibu akan membantu mencari tukang rampe tersebut.  Dan benar saja si ibu langsung membantu kami mencari penjual rampe.  Karena sudah menemukan tukang rampe, kami pun segera mengucapkan terima kasih kemudian kami langsung melakukan tantangan yang diberikan kakak.
                        Rampe merupakan sebuah bunga yang biasanya digunakan untuk melayat.  Tukang rampe yang kelompok ku wawancarai namanya Ibu Enong.  ia berasal dari Cirebon.  Katanya bunga rampe ini dikirim dari Lembang.  Konon katanya rampe itu adalah adat dari Sunda.  Setelah selesai wawancara dan memotret kami pun meninggalkan tukang rampe tersebut, kemudian mencari pedagang lain untuk survey tentang hasil bumi.
                         Kurang lebih jam 12, aku, Naia dan Linus sampai di stasiun Kiara Condong.  Saat kita sampai di stasiun, kita sempat merasa panik karena disana masih sepi dan tidak ada teman-teman kelompok Dolangan.  Tapi tidak lama kemudian kak Olin datang dan kelompok-kelompok lain pun datang.  Setelah mengetahui jurusan kereta, kakak memberikan kami uang kemudian kami segera membeli tiket kereta kemudian masuk.  Selama di kereta, kita ngobrol-ngobrol dan foto-foto.  Beberapa teman ada yang makan bahkan tidur.

                        Perjalanan dari Kiara Condong ke Bandung melewati Cikudapateuh.  Sesammpainya di Stasiun Selatan, kami masuk ke daerah Pasar Baru kemudian tiba ke suatu tempat yang sangatttt indah.  Yaitu ke rooftop.  Iya tempatnya kerann bangett.. Udaranya segar, langitnya biru dan disekitarnya banyak sekali tanaman.  Tanpa menunggu lama, aku dan teman-temanku segera membuka bekal makan siang kemudian menyantapnya sambil berbincang-bincang.

                          Kira-kira jam 1 an, kita diajak kakak untuk berkumpul lagi.  Kakak memberitahukan kami bahwa tujuan akhir kami adalah menjelajah di sekitar Pasar Baru.  Kakak memberi tahu kami bahwa kami harus berkumpul di Stasiun Utara jam 14.45.  Di Pasar Baru, kakak memberi kami tantangan yaitu mencari toko tembakau dan toko kopi.  Saat kami masuk ke Pasar Baru, kami sempat merasa bingung mencari toko tembakau dan toko kopi.  Namun saat kami kembali pada titik awal, kami langsung menemukan dimana letak toko tembakau.  Toko tembakau yang ada disini lumayan kecil jadi kalau kita gk peduli sama lingkungan  sekitar, kita pasti tidak akan bisa melihatnya.
                        Selama di toko tembakau, kita melihat-lihat tembakau yang ada kemudian mewawancarai penjualnya.  Penjual tembakaunya bernama ibu Euis.  Beliau berjualan tembakau  5 tahun dan katanya tembakau yang ada disini berasal dari Sumatra.  Jujur pada saat sampai di toko tembakau ini aku merasa sangat senang dan antusias karena aku ingin tahu lebih banyak soal tembakau.  Namun respon dari si penjual kurang menyenangkan sehingga akhirnya menutup rasa ingin tahuku.  Tapi ya sudah lah yang penting aku bisa tahu sedikit tentang tembakau.

                            Setelah berhenti di toko tembakau, aku dan teman sekelompok ku segera mencari toko kopi yang dimaksud kakak.  Lumayan lama kami mencari, soalnya toko kopi yang dimaksud tidak memiliki spannduk yang besar jadi gk kelihatan.  Toko kopi yang kami datangi bernama Toko Kopi Box Jaya yang letaknya di Jl. Pasar Barat no.28.  Narasumber kami disana bernama Bu Feni beliau orang asli Bandung dan katanya sudah lama banget berjualan disini.  Katanya beliau mulai berjualan dari tahun 1967 dan sampai sekarang belum ganti-ganti toko.  Beliau bercerita katanya menjual 3 jenis koppi, yaitu kopi Arabika khas Kalimantan, kopi Robusta khas Lampung dan kopi Jagong khas Surabaya. Selama disana, aku merasa sangat senang, selain senang melihat berbagai jenis kopi, aku juga senang karena narasumbernya gak jutek.. Jadi aku juga semangat untuk menggali lebih dalam lagi soal kopi.  Berikut ada foto-foto selama kami di toko kopi :)
  
                        Setelah mendapat banyak informasi disana kita pun segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan.  Selanjutnya kami harus berjalan ke stasiun utara.  Aku sempat merasa takut karena saat aku melihat jam waktu sudah rada mepet dan aku gak yakin bakal bisa sampai di stasiun utara tepat waktu atau tidak.  Kami berjalan melewati suatu jembatan yang dibagian bawahnya ada banyak rel kereta.

                           Dan ternyata benar saja kami tiba di stasiun terlambat dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 14.55.  Sesampainya di stasiun  kita mengevaluasi secara singkat tentang perjalanan hari ini kemudian menutupnya dengan doa.  Perjalanan kali ini sangat menyenangkan aku sangat berharap di perjalanan selanjutnya bisa lebih menyenangkan dari ini :) Walaupun lelah karena panas, tapi semuanya terbayarkan :)


-Natasha-
-catatan perjalanan Dolangan 08.08.2017

5.03.2017

Jejak Seorang Gadis - Natasha -

                                                             Jejak Seorang Gadis
         -Natasha-
“ Boleh ya mahh.. Kan aku udah lulus sebagai hadiahnya aku mau jalan-jalan sama teman-teman ke Bandung “ rengek Kiara kepada mamahnya. Sudah berulang kali Kiara meminta ijin pada mamanya untuk diperbolehkan pergi ke Bandung. “ udah lah mah.. biarin aja.. Kan sebelum ujian Kiara udah belajar dengan baik. Sebagai hadiahnya biarin aja Kiara pergi jalan-jalan sama temannya.. “ “ Tapi pah.. kan sekarang ini rawan apalagi Kiara itu kan anak perempuan.. “ “ Gapapa mahh.. Kiara kan udah besar.. Kiara bisa jaga diri kok. 😊 “ “ Hmm ya udh deh Kiara boleh pergi tapi inget kata-kata mama.. sekarang ini lagi rawan jadi kamu harus jaga diri baik-baik.. “ “ Yeyy siap bu bos “
Dengan senangnya Kiara segera membuka handphonenya kemudian mengabari teman-temannya .. “ Guys aku udh dikasih ijin sama mamah aku.. Jadinya kita bakal berangkat kapan? “ “ Kiara kamu udah diijinin.. Akhirnya.. padahal awalnya aku pikir kita batal pergi.. “ ujar Tania “ iya nih.. untung ada papah aku.. aku jadi diijinin pergi.. “ “ gengs ini ada jadwal pergi kita jadi kita bakalan pergi tanggal 6 Juni dan balik tanggal 8 Juni.. kita kumpul di stasiun yaa jam 08.00.. “ ujar Clara .. “ Sip “ seru Tania dan Kiara… Rencananya mereka akan berangkat berlima bersama Fabian dan Rendra.. Fabian dan Rendra sudah bersahabat sejak TK Karena mereka sudah satu sekolah.. namun saat SD mereka pindah ke sekolah Bintang Harapan dan disana mereka bertemu dengan Clara dan Kiara yang sudah bersahabat lama juga dan sudah lama bersekolah di Bintang Harapan.. Mereka mulai bersama mulai SD 1 dan mulai SD 2 mereka selalu berlima ditemani oleh teman baru mereka yaitu Tania.
                “Wah sekarang udh tanggal 5 .. udh H-1 untuk acara jalan-jalan aku sama teman-temanku.. “ batin Kiara. Sambil membereskan semua barang-barang, Kiara memikirkan apa yang akan terjadi selama liburan mereka nanti. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, akhirnya Kiara memutuskan untuk beristirahat dan menantikan apa yang akan terjadi diesok hari.
                Keesokan harinya mereka bertemu di Stasiun Surabaya Kota. Mereka semua sudah siap dengan barang bawaan masing-masing. Tepat pukul 07.00 mereka bersama masuk ke kereta. “ wah kayaknya nanti bakal seru nih… “ ujar Rendra “ iya pasti lah seruu “ timpal Clara “ Siapa duluu yang ngusulin.. 😊 “ seru Tania.  “ Aduhh kayaknya gw ketinggalan sesuatu dehh “ kata Kiara yang memang memiliki sifat pelupa. “ Ah kamu sihh pelupa “ kata Fabian “ kebiasaan sihhh “ ujar Rendra “ Ya maaf.. “ “ Emang kamu ketinggalan apaa ? “ tanya Clara “ Hidupp gw.. gimana inii “ jawab Kiara “ Pasti kamu ketinggalan charger ya ? “ timpal Tania. Walaupun Tania baru bergabung bersama mereka, namun Tania sudah sangat mengenal Kiara yang sangat sering melupakan barang bawaannya. “ Iyaa “ “ udah nanti pake yang gw aja.. gitu aja repot banget “ kata Rendra “ Beneran? Makasihh “ “ Iyaa.. sipp sama-sama “
                Tidak terasa mereka sudah sampai di Stasiun Bandung. “ Woyy bangunn udah nyampe nihh “ ujar Clara membangunkan teman-temannya. Semua teman-temannya tertidur sedangkan dia asik dengan kameranya mengabadikan semuanya. “ Hoaaamm.. masih ngantuk nihh “ ujat Fabian yang sangat suka tidur. Kalo bisa tidur terus dah seharian.. “ Hoamm yeyy akhirnya kita udh nyampe di Bandung.. “ ujar Tania.. Tanpa menunggu waktu yang lama, akhirnya mereka turun dan segera mencari orang yang akan menjemput mereka. Akhirnya mereka pun diantarkan ke sebuah hotel yang sudah mereka pilih.. Disana mereka segera membagi kamar kemudian membereskan barang barang mereka. Rencananya di hari ini mereka akan jalan-jalan dulu di sekitar hotel sambil mencari makanan. Sekitar jam 11 mereka keluar kamar hotel dan mencari makan siang. Setelah lama mencari-cari makanan akhirnya mereka menemukan sebuah gerobak yang terlihat sudah tua. Gerobak tua itu menemani seorang bapak tua paruh baya yang berjualan mie kocok.
                “ Eh kita makan mie kocok itu yukk.. kayaknya enak “ kata Clara mengusulkan. “ Boleh juga sih.. yang lain pada mau gk ? “ “Ayo aja.. “ Akhirnya mereka menghampiri bapak tua tersebut kemudian memesan 5 mangkok mie kocok. “ Bapak udah lama jualan disini ? “ ujar Fabian “ Ya lumayan lah dek bapak udah lama.. Bapak udah jualan ini dari tahun 1928. Bapak udh generasi keempat dek.. “ “ Wah pasti ini enak banget dehh “ “ Iya dong dek, ini resep turunan keluarga. Oh iya ini dek udh jadi “ “ Makasih pak “ ujar Tania. “ wah benerr enak banget rasanya.. “ kata Kiara. Mereka pun dengan lahap memakan mie kocok tersebut. Tidak lama kemudian mie kocok mereka sudah habis dan Rendra segera menghampiri bapak penjual mie kocok tersebut untuk membayarkan semuanya.  “ Pak totalnya jdi berapa ? “ “ Jadi 35.000 aja dek.. “ “ Ini pak uangnya 50.000 kembaliannya bapak ambil aja.. “ “ Beneran dek? Makasih dek “ “ iya sama-sama pak “ “ Pak kalo gitu saya dan teman-teman pergi dulu ya.. makasih pak “ ujar Kiara “ iya dek hati-hati yaa.. “
                “ Eh guys mie kocok bapak tadi enak yaa.. Nanti diakhir perjalanan kita, kita beli lagi yukk mie kocoknya “ Ujar Tania “ Oke aku sih setuju ajaa “ kata Fabian “ Ya udah gengs sekarang kita balik ke hotel yukk.. besok kita baru menjelajah lagii.. “ ujar Clara “ Siap bu bos “ seru Tania. Mereka pun segera kembali ke hotel. Disana mereka bersih-bersih kemudian beristirahat sejenak. Tepat pukul 16.00 mereka semua berkumpul di kamar Tania, Kiara dan Clara untuk mendiskusikan apa yang akan mereka jelajahi di Bandung ini dalam waktu 2 hari lagi. “ Guys dari yang aku tahu sih di Bandung ini ada salah satu komunitas yang namanya Komunitas Hong katanya sih komunitas iini menyenangkan.. “ ujar Fabian “ Ohh komunitas itu.. salah satu teman aku ada di komunitas itu loh “ kata Tania “ kira-kira kita bisa ketemu sama mereka kapan dan dimana ? “ tanya Clara yang bertugas sebagai juru tulis. “ Biasanya mereka ada di Bukit Pakar.. coba deh nanti aku hubungin teman aku yang ada disana “ ujar Tania “ Sipp “ “ Artinya besok kita bakalan bermain dan berkegiatan bareng yaa sama Komunitas Hong “ kata Clara “ Okee “ kata  Kiara. “ Besoknya di hari terakhirnya kita di Bandung kita mau kemana ? “ tanya Rendra “ Gimana kalo kita ke Museum Sri Baduga terus main bareng di Maribaya.. “ usul Tania “ Ayo setau aku sih disana banyak sarana rekreasi yang seru dan murah-murah “ timpal Fabian. “ Oke gengs jadi besok kita bakalan berkegiatan bareng Komunitas Hong abis itu besoknya kita main ke Maribaya dulu sampe jam 14.00 an abis itu kita ke Museum Sri Baduga yang katanya menyimpan banyak kisah unik tentang Bandung. Kira-kira sampe jam 17.00 karena kita naik kereta jam 19.00. “ ujar Clara “ Okee “ kata Tania, Kiara, Fabian dan Rendra bersamaan.
                Setelah menentukan apa yang akan dilakukan di hari berikutnya mereka segera turun kebawah untuk memesan makan malam. Rencananya untuk makan malam dan sarapan besok mereka akan memesannya di hotel. Setelah siap dengan makanan masing-masing mereka segera memakannya bersama-sama di restoran hotel sambal mengobrol ria. Tidak terasa mereka telah mengobrol selama 2 jam an.. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Akhrinya mereka semua memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan obrolannya di esok hari.
                “ Hoamm aduhh ngantuk bangett beneran “ ujar Tania “ Dasarr yaa kamu emang gk bisa jauh dari bantal… Ayo bangun udh jam berapa nihh “ ujat Clara. Kiara terus tertawa melihat kedua sahabatnya yang selalu berdebat soal tidur. “ Iyaa Clara cantikk aku bangun.. “ ujar Tania. “ Nah gitu dongg 😊” timpal Clara. Dengan muka yang masih sangat malas, Tania masuk ke kamar mandi kemudian mandi dan bersiap-siap pergi. Pukul 08.00 mereka semua sudah berkumpul di bawah untuk menyantap sarapan pagi. “ Eh kita jadinya naik apa ke Bukit Pakar ? “ tanya Tania “ Kita jadinya naik Go-Car dan kita bakal dijemput jam 09.00 an.. “ ujar Clara. Setelah mereka menghabiskan sarapan mereka, mereka segera ke kursi tunggu untuk menunggu Go-Car yang sudah mereka pesan. Tidak lama kemudian mobil sudah datang dan dengan barang bawaan masing-masing mereka naik dan segera berjalan ke Bukit Pakar. “ Wahh aku gk sabar nihh gimana yaa keadaan disana.. “ ujar Kiara “ bentar aku mau search dulu tentang Komunitas Hong di Goggle “ ujar Fabian. Memang diantara mereka Fabian merupakan anak yang paling senang mencari tahu segalanya via Goggle. Makanya dari antara mereka yang paling banyak tau adalah Fabian. ‘’ Wahh bentar lagi nyampe nih “ ujar Clara . Tidak lama kemudian mereka sudah berdiri didepan sebuah spanduk bertuliskan “ KOMUNITAS HONG “
                “ Maaf ada apa ya dek? “ tanya seseorang “ Ohh Hmm gini kita mau belajar bareng teman-teman di Komunitas Hong dan kemarin kita udah ngebooking mereka untuk bermain bersama kita “ ujar Clara “ Ohh jadi kalian itu anak-anak dan sekolah Bintang Harapan ituu ? “ “ iya pak.. “ “ Oh kalua begitu ayo ikut saya.. Saya akan mengantarkan kalian ke tempat dimana Komunitas Hong biasa berkegiatan “ “ wahh makasih pak “ Tidak menunggu lama, akhirnya mereka sudah sampai didepan sebuah pintu besaar  ‘ Terima kasiih pak sudah mengantarkan kami kesini “ ujar Kiara “ iya sama-sama “ “ Ngomong-ngomong nama bapak siapa? “ tanya Rendra “ Oh nama saya Arsen dek “ ucap bapak tersebut. Secara bersamaan, Tania, Kiara, Clara, Rendra dn Fabian mengangguk. “ Kalau begitu saya permisi dulu ya. “ “ oke pak.. sekali lagi terima kasih pak “
                Dengan segera, Fabian mengetuk pintu sambil mengucapkan salam “ Permisi “. Tidak lama kemudian ada seorang bapak mendekati pintu kemudian mempersilahkan masuk. Setelah masuk mereka diperkenalkan oleh beberapa orang anak yang kebetulan sedang bermain disana. “ halo kak nama aku Aura “ ucap salah seorang anak yang ternyata bernama Aura itu. “ Halo kak nama aku Dina “ Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri. Tidak lama kemudian salah satu anak yang ternyata bernama Gita menghampiri Clara dan Tania kemudian mengajak mereka bermain bersama yaitu bermain congklak. Tidak sampai 15 menit, mereka semua sudah berbaur dan bermain berbagai permainan tradisional bersama anak-anak disana. Setelah puas bermain, Clara, Tania, Fabian, Rendra dan Kiara mengobrol dengan pengagas Komunitas Hong untuk mengetahui asal usul dan sejarah dibentuknya Komunitas Hong ini.  Selama seharian penuh mereka terus berkegiatan bersama Komunitas Hong. Sampai kini waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, tanpa mereka sadari, semua anggota Komunitas Hong sudah menyiapkan santap malam yaitu Nasi Tutug Oncom. “ Aduhh kalian gk usah repot-repot kayak gini “ ujar Clara “ gapapa kok.. kan tamu itu adalah raja “ ujar Galih salah satu anak yang paling tua disana. Akhirnya mereka pun bersama-sama menyantap Nasi Tutug Oncom yang merupakan makanan khas Bandung. Sambil makan mereka terus berbincang-bincang sampai tidak terasa makanan mereka sudah habis dan kini waktu dusah menunjukkan pukul 20.00.
                Tanpa menunggu lama, akhirnya mereka berpamitan kemudian naik ke mobil yang sudah mereka pesan. Selama di perjalanan menuju ke hotel, mereka saling berbagi cerita tentang kesan-pesan yang mereka dapatkan selama seharian ini berkegiatan bersama Komunitas Hong. Sesampainya di hotel mereka langsung beristirahat Karena sudah sangat lelah. Mereka ingin agar esok hari, yang menjadi hari terakhir mereka di Bandung bisa menjadi lebih menyenangkan dari hari ini. 😊
                “ Heyy bangunn “ teriak Tania membangunkan Rendra dan Fabian sambil mengetuk pintu kamar Fabian dan Rendra. Sudah berkali-kali Tania, Clara dan Kiara bergantian mengetuk pintu kamar Fabian dan Rendra. Seperti biasa Fabian dan Rendra kalau tidurnya malam pasti bangunnya juga telat sedangkan Tania, Clara dan Kiara kalau tidur malam bangunnya pagi. Karena diketuk tidak ada yang bangun akhirnya Kiara, Clara dan Tania memutuskan untuk sarapan duluan dan kalau sampai mereka selesai makan Fabian dan Rendra masih belum bangun mereka akan berusaha membangunkannya kembali. “ Kringgg Kringg “ alarm dari HP Rendra sudah berbunyi dari tadi “ Ya ampun jam berapa ini ? “ “ Haaa!! Fabian bangunnn udah jam 8 ini kita belum siap-siap dan belum sarapann bangunnn “ seru Rendra panik. Dengan paniknya Fabian dan Rendra segera bersih-bersih kemudian turun kebawahh menyusul Tania, Clara dan Kiara sarapan.
                “ Aduhh sori gw telat.. sebenernya dari tadi alarm HP gw udah nyala tapi gw gk kebangun mungkin Karena gw kecapekan.” Seru Rendra. “ gw udh ngetok-in kamar elu berkali-kali diteriak-teriakin tapi gk ada yang bangun “ ujar Clara. “ Ya udh sekarang kalian makan yaa “ seru Tania “ iyaa “ jawab Fabian Mereka pun segera menyantap makanan masing-masing kemudian membereskan barang-barang mereka Karena di sore hari nanti mereka akan kembali ke Surabaya. Pukul 10.00 mereka semua turun untuk check-out kemudian memasukkan barang-barang mereka ke mobil. Rencananya sekarang mereka akan pergi ke Maribaya untuk bermain dan berfoto bersama. Tidak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan mereka segera mencari makan di sekitar sana, dan akhirnya mereka makan pisang coklat dan surabi yang terkenal sebagai makanan khas Bandung. “ Wahh aku seneng banget hari ini.. Makanannya enak bangett “ seru Kiara. “ Ah kamu mah pikirannya makan mulu “ ujar Fabian sambil memukul pundak Kiara pelan “ Ya udh sekarang kita ke Museum Sri Baduga yaa buat cari tau sejarah Bandung biar nanti kita bisa cerita-cerita sama temen-temen di sekolah “ seru Tania “ Yukk cuss “ ujar Rendra dengan semangat.
                Karena jalanan agak macet, mereka pun sampai di Museum Sri Baduga jam 15.00. Sesampainya disana mereka segera mengelilingi dan melihat-lihat barang-barang yang dipajang di Museum tersebut. Sekitar 2 jam an mereka melihat-lihat museum tersebut. “ Ehh itu ada colenak beli yukk “ ujar Tania yang lagi-lagi ketagihan dengan makanan yang ada disana “ ahh kamu.. iya nanti kita beli sekarang kita lihat-lihat dulu “ ujar Clara “ Eh kalian tau gk yaa pembentukan Cekungan Bandung itu unik lohh “ ujar Fabian. Mereka pun segera berdiskusi untuk mencari tahu asal usul Cekungan Bandung
                “ Pak saya beli 5 yaa colenaknya. “ ujar Tania memesan colenak “ Iya dek tunggu sebentar yaa “ ujar bapak tersebut. Sambil menunggu pesanan colenak datang, Clara, Tania, Kiara, Fabian dan Rendra mengobbrol dan berdiskusi soal Bandung. “ Ini dek colenaknya “ “ oke makasih pak “ Dengan lahap mereka memakan colenak yaitu makanan khas Bandung yang terbuat dari peuyeum. Setelah habis dan membayar, mereka pun segera naik mobil untuk diantarkan ke stasiun. “ Makasih pak ‘’ ujar Clara sambal memberikan uang “ iya sama-sama dek kalau mau ke Bandung lagi hubungi saya aja.. Dengan senang hati saya akan mengantarkan “ “ Siap pak “ Dengan segera mereka masuk ke dalam dan masuk ke kereta. Tepat pukul 19.00 kereta berangkat menuju ke Surabaya. Selama di perjalanan, mereka mengobrol dan berbagi cerita soal mengalaman masing-masing selama di Bandung dan tidak terasa, kini kereta mereka sudah sampai di Surabaya. Disana, mereka sudah dijemput dengan orang tua masing-masing. Setelah tiba di rumah, Kiara segera menceritakan semuaa pengalamannya selama di Bandung kepada kedua orang tuanya. Setelah itu ia berlari ke kamarnya kemudian duduk manis di atas kursi meja belajarnya sambal menulis “ Dear Diary, terima kasih atas semua pengalaman indah yang sudah engkau berikan selama ini untuk ku dan terima kasih sudah memberikan teman-teman yang beragam untuk ku yang bisa melengkapiku setiap saat “


                                                            TAMAT

Hasil gambar untuk gambar petualangan

2.11.2017

Penjelajahan Kelompok Kakapo di Museum Sri Baduga

          Tanggal 7 Februari 2017, kelompok Kakapo berencana untuk outing ke Museum Sri Baduga atau biasa kami sebut Nyaba. Kali ini kami melakukan Nyaba Patilasan yang artinya Nyaba saat masa kerajaan. Kami berkumpul di sekolah pukul 07.20 WIB. Setelah kami semua lengkap berkumpul, kakak menyuruh beberapa diantara kami untuk mengajukan diri menjadi kapten. Rencananya disana, kami akan bermain game Amazing Race. Dan akhirnya terpilihlah 4 kapten, yaitu Alika, Salman, Timmy dan Linus. Aku sekelompok dengan Salman dan Denzel. Hadiah dari gamesnya adalah sebuah kupon untuk pemenang pertama dan yang lainnya makanan. Setelah mengetahui kelompoknya kami memilih warna untuk pertanyaan nanti saat game dimulai. Kriteria pemilihan kelompoknya adalah di setiap kelompok harus ada yang gesit, jeli dan menulis rapi. Setelah semua kelompok siap, kami pun segera berangkat naik angkot langganan kami, yaitu angkot Pak Atang. Tidak berapa lama, kami pun sampai di Museum tujuan kami yaitu Museum Sri Baduga.
          Setelah kami semua turun, kami segera masuk. Disana, kak Rizky dan kak Koben membeli tiket masuk. Karena salah satu teman kakmi tidak masuk, yaitu Karmel maka kami hanya ber-13 orang. Namun kak Rizky malah membeli 14 tiket. Hahaha.. Setelah itu kami segera masuk dan menentukan meeting point kami. Setelah itu, kami diberikan waktu oleh kakak untuk berkeliling selama 1 jam. Kami boleh mengelilingi museum tersebut selama 1 jam sambil menuliskan informasi-informasi yang kita lihat. Disaat berkeliling, kelompok aku saling membagi tugas. Aku bertugas menuliskan informasi karena menurut anggota kelompok, aku tulisannya rapi ( tapi menurut aku sih engga ) Hahaha.. Denzel yang jeli melihat informasi sedangkan Salman yang gesit mencari informasi. 
          Tidak terasa 1 jam pun berlalu. Aku dan anggota kelompok ku sudah berkumpul di meeting point bersama kakak dan kelompok yang lain. Nah, mulai saat itu, kami memulai gamenya. Aku ada;ah kelompok pertama yang memulai gamenya karena barang-barang kami yang paling siap. Kelompok kami memilih warna orange untuk pertanyaannya. Di pertanyaan pertama, kelompok aku mendapat pertanyaan daerah mana saja yang masuk daerah Priyangan dan harus merangkum tentang sejarah uang. Karena kelompok kami 3 orang, jadi kami berpisah, Salman bertugas untuk merangkum sejarah uang sedangkan Denzel dan aku menuliskan daerah-daerah di Priyangan. Setelah itu kami memberikan hasilnya pada kak Koben untuk diperiksa lalu diberikan pertanyaan selanjutnya. Senangnya kami saat tahu kalau jawaban kelompok kami benar. Setelah itu kami mendapat pertanyaan kedua yaitu kami disuruh menuliskan bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Bandung dan bentuk bangunan asal Jawa Barat. Lagi-lagi kelompok ku membagi tugas. Aku menuliskan bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Bandung, sedangkan Denzel dan Salman menuliskan bentuk bangunan bersejarah di Jawa Barat. Pertanyaan ketiga adalah tentang seni dan kebudayaan. Kami harus menuliskan permainan tradisional dan alat musik tradisional. Pertanyaan keempat kami harus menuliskan atau menyalin tulisan di prasasti Kawali 5 dan menerjemahkan surat Ceu Mimi. Pertanyaan kelima adalah harus menuliskan / merangkum tentang momolo dan sejarah budaya. Kami adalah kelompok yang paling cepat. Dan sampailah kami di pertanyaan terakhir yaitu kami disuruh untuk menghitung orang yang ada di sebuah lukisan dan itu sangatlah sulit karena ada yang mendistraksi kami. hahaha ada sebuah batu yang mirip kepala orang dan kami hitung sehingga total orangnya lebih satu. Dan pada akhirnya kelompok kami pun menang.
          Setelah itu kami segera keluar museum dan makan bersama. Setelah kami selesai makan, kami mendengarkan dongeng dari Kak Koben dan Kak Rizky tentang Prabu Siliwangi. Setelah itu kami segera pulang ke sekolah.
          Beberapa hari kemudian, Kak Koben membagi-bagikan hadiahnya. Kelompok ku mendapatkan kupon, dan coklat S******S. Makasih kak hadiahnya. :)

1.27.2017

Perjalanan ke Gua Pawon Kakapo

          Pada pukul lima pagi, aku mengawali hari dengan bersyukur karena sudah diberikan udara yang segar dan masih diperbolehkan untuk memulai hari yang baru. Setelah beranjak dari tempat tidur aku segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke suatu tempat yang baru untuk ku. Setelah semua barang bawaan siap dan tidak ada yang tertinggal, aku segera berangkat ke sebuah stasiun yang terletak di Selatan. Aku tiba di sana pukul 06.45 WIB. Saat aku tiba disana kakak-kakak belum ada yang datang. Baru ada beberapa teman yang datang, antara lain adalah Chaca, Naia, Salman, Karmel dan Bimo. Mereka pun sama bertanya-tanya kemanakah kakak pergi. Tidak beberapa lama kemudian, teman-teman mulai berdatangan sampai semuanya sudah lengkap, tapi kakak masih juga belum datang. Kami lama menunggu. Tidak lama kemudian, kakak-kakak mulai datang, diawali dari kak Rizky kemudian disusul kak Koben. Setelah semuanya berkumpul, kami segera membeli tiket. Kami membeli ttiket jurusan Bandung Padalarang, dengan harga tiket Rp.4.000,00. Aku mendapat tempat duduk nomor 17 C. Dengan senang aku segera mencari teman yang sepertinya akan duduk di sebelahku nanti. Setelah membeli tiket, aku dan teman-teman segera berdoa dan masuk sambil menunggu kereta yang akan kami tumpangi. Kami akan berangkat pukul 07:14.
          Setelah kami masuk, kami mengobrol-ngoobrol sebentar sambil menunggu kereta. Saat menunggu kereta, aku melihat bahwa rasa peduli orang-orang mash kurang. Karena pada saat menunggu, aku melihat ada seorang bapak-bapak tua yang tidak bisa melihat dan berjalan menggunakan tongkat. Sambil berjalan, beliau menabrak ke sana-sini. Saat tiba di kursi barisan pertama, kak Rizky, Timmy dan kak Koben yang kebetulan duduk disana membantu bapak tersebut untuk berjalan. Namun di kursi sebelahnya terlihat seorang remaja perempuan yang sedang bermain gadget, namun saat melihat ada bapak tua yang tidak bisa melihat itu berjalan, ia tetap asik bermain dengan gadgetnya dan hanya memiringkan badannya agar bapak-bapak tersebut bisa lewat. Sama sekali tidak membantu bapak tersebut. Tidak sengaja bapak tersebut menabrak remaja tersebut namun dengan rasa tak peduli ia langsung membersihkan celananya yang tertabrak itu dengan rasa jijik. Aku merasa sedih karena bapak-bapak tersebut tidak bisa melihat dan tidak ada orang yang peduli dengan dia. Padahal dia sangat membutuhkan kepedulian masyarakat sekitar. Sejenak aku merasa kesal karena melihat kelakuan masyarakat sekitar yang acuh tak acuh melihat bapak paruh baya tersebut. Kalau saja aku tidak buru-buru aku sangat ingin membantu bapak tersebut untuk berjalan atau bahkan mengantarkan ia ke tujuan.
          Setelah kami semua masuk ke kereta, ternyata kereta yang aku bayangkan sangatlah berbeda dengan yang sekarang aku naiki. Di bayanganku keretanya itu kursinya menggunakan busa dan seperti pesawat gitu. Tapi ternyata sangatlah berbeda. Kursi di keretanya mirip seperti kursi di angkot bentuknya. Namun itu menjadi pengalaman yang baru untuk ku, karena itu adalah pertama kalinya aku menaiki kereta dengan model kursi yang seperti itu.Setelah naik di kereta, kita langsung mengerjakan tantangan yang diberikan kakak yaitu mencatat tempat-tempat yang bisa dijadikan patokan sehingga saat nanti bila kita mau kesini lagi kita tau lewat mana atau bisa disebut juga sebagai landmark. Dengan senang hati aku dan teman-teman menuliskan setiap tempat yang bisa dijadikan patokan. Kami melewati banyak stasiun,antara lain adalah Ciroyom, Andir, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong dan Padalarang. Perjalanan dari Bandung ke Padalarang memakan waktu kurang lebih 1 jam. Setibanya di Padalarang, aku tidak sempat mengelilingi stasiun. Karena waktu yang terbatas. Setelah kami tiba, kami diajak kakak untuk jalan sedikit ke arah kanan setalh keluar dari stasiun untuk mencari angkot.. Setelah kami menemukan angkot, kami pun segera berangkat ke tujuan kami, yaitu Gua Pawon. Di sana, angkotnya pun sangat unik. Angkot disana pintunya di belakang, tidak seperti disini, pintunya dari samping. Disana pun pintunya selalu tertutup. Menarik sekali. Semuanya menjadi pengalaman yang baru bagiku. Perjalanan dari stasiun ke Gua Pawon memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah tiba di Gua Pawon, kami segera berkenalan dengan guide yang akan membantu menjelaskan semua sejarah Gua Pawon kepada kami. 
          Tanpa membuang waktu lama, setelah berkenalan kami segera masuk ke Gua Pawon dan mulai menjelajahinya. Setelah agak lama kami berjalan, kami pun berhenti lalu mulai mendengarkan cerita dari sang tour guide. Kami mendapat banyak informasi dan dengan segera kami langsung mencatatnya di kertas tantangan yang diberikan kakak. Tanpa menunggu lama, kami segera menuju ke tempat disimpannya replika fosil yang katanya ditemukan di Gua Pawon. Disana kami mendapat banyak sekali cerita dari bapak tersebut. Di sana, kami mendapat tugas untuk menggambar fosil kemudian menuliskan info-info yang didapat. Setelah lumayan lama bapak itu bercerita, beliau mengajak kakmi untuk turun ke bawah. Jalan untuk jalan ke bawah pun lumayan sulit, karena masih bebatuan. Setelah kami semua ke bawah, kami segera menjejalahi  bagian bawah dan mendapat cerita lagi dari si bapak tentang Gua Pawon. Setelah lumayan lama kami berada di bawah, kami segera ke atas dan keluar dari Gua Pawon untuk istirahat. Kami istirahat di sebuah warung. Kami istirahat kurang lebih 15 menit. 
          Setelah kami selesai makan. kami segera menuju ke tujuan kami yang terakhir, yakni ke Stone Garden. Sebelum pergi, kakak-kakak mengecek tas-tas kami agar kencang, jadi tidak berat. Setelah itu kami segera mendaki sebuah gunung yang menurutku sih sangatlah tinggi. Kami mendaki gunung tersebut kurang kebih 30 menit. Baru juga jalan beberapa langkah, kami sudah kelelahan. Gunung tersebut sangat curam jadi sangat lah lelah kalau didaki. Setibanya di atas, kami semua sudah kelelahan. Setelah tiba di atas, kami semua saling meminta tissue, pada minum dan tiduran untuk melepas lelah sementara. Setelah itu kami harus mendaki lagi untuk mencapai stone garden. Setelah kami tiba disana, semuanya sudah pada kelelahan. Ditanya pun  kami sudah kesulitan menjawabnya. HAHAHA... Setelah kami memilih batu untuk dijadikan bahan eksperimen, kami langsung melakukan eksperimen dengan menggunakan HCL. Setelah itu kami disuruh untuk mengerjakan sebuah LKS IPA. Tidak beberapa lama kemudian, kakak memberitahu kami bahwa ada berita baru. Katanya kami ditunggu di bawah, tempat angkot tepat pukul 13.00 karena kereta akan berangkat pukul 14.00. Di waktu 1 jam itu kami sudah harus menyelesaikan tantangan di kertas yang diberikan kakak dan sudah harus makan siang. Akhirnya kami membagi kelompok-kelompok kecil. Aku makan di sebuah saung kecil bersama Chaca, Naia, Linus, Denzel, Salman dan Kak Rizky. Setelah selesai makan, kami tidak melanjutkan LKS melainkan malah eksis di kamera yang dibawa kan Rizky. Hahaha.. Kami berpikir bahwa kami akan lebih mudah menyelesaikannya saat dirumah karena bisa dengan lebih konsentrasi. 
          Setelah kami semua berkumpul di bawah, kami segera berangkat bersama-sama ke tempat angkot lalu berangkat ke stasiun untuk pulang ke Bandung. Namun ternyata, perjalan ke stasiun memakan waktu yang lama. Kami terjebak macet dan kami berada di angkot selama lebih dari 1 jam. Udah panas, bosen tapi dibawa asiiiik aja.hahaha.. Lucu liatin ada beberapa teman yang tidur.. Lucu gayanya. Beberapa dari kami ada yang saling cerita, bermain tebak-tebakkan dll. Seru deh.. Pukul 15.00 kami baru sampai dan segera memesan tiket pulang. Kami pun buru-buru naik dan duduk di tempat duduk kami , tapi beberapa dari kami ada yang tidak duduk di tempat duduk yang ada di tiket. Hahaha..
          Selama di perjalanan kami semua saling mengobrol dan bermain. Ada juga diantara kami yang hanya melihat pamandangan saja. Tidak terasa, akhirnya kami tiba juga di Bandung. Setelah kami semua turun kami segera berjalan keluar untuk mencari orang tua kami masing-masing. Beberapa diantara kami sudah ada yang dijemput. Setelah itu kami semua pun pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah aku langsung melanjutkan tantangan yang belum aku selesaikan tadi. Setelah itu aku langsung tidur karena capek...
Hasil gambar untuk gambar gua pawonHasil gambar untuk gambar gua pawon

11.07.2016

Sang Saka Merah Putih


          Pagi ini kelas Kakapo dan kelas Ibex melakukan Upacara Bendera. Setelah upacara bendera kak Koben bertanya kepada kami kenapa kita harus menghormati bendera padahal bendera hanyalah sebuah kain yang dijahit menyerupai sebuah bendera. Karena penasaran maka aku pun mencoba mencari tahu. Berikut kisah dibalik Sang Saka Merah Putih :

Warna merah putih diambil dari warna panji atau pataka Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur pada abad ke-13. Akan tetapi ada pendapat bahwa pemuliaan terhadap warna merah dan putih dapat ditelusuri akar asal-mulanya dari mitologi bangsa Austronesia mengenai Bunda Bumi dan Bapak Langit; keduanya dilambangkan dengan warna merah (tanah) dan putih (langit). Karena hal inilah maka warna merah dan putih kerap muncul dalam lambang-lambang Austronesia — dari Tahiti, Indonesia, sampai Madagaskar.  Merah dan putih kemudian digunakan untuk melambangkan dualisme alam yang saling berpasangan. Catatan paling awal yang menyebut penggunaan bendera merah putih dapat ditemukan dalam Pararaton menurut sumber ini disebutkan balatentara Jayakatwang dari Gelang-gelang mengibarkan panji berwarna merah dan putih saat menyerang Singhasari. Hal ini berarti sebelum masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan, mungkin sejak masa Kerajaan Kediri. Pembuatan panji merah putih pun sudah dimungkinkan dalam teknik pewarnaan tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari daun pohon jati, bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), atau dari kulit buah manggis.
Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya, bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII.
Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti keberanian, putih berarti kesucian. Merah melambangkan raga manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia.
Ditinjau dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Warna merah mirip dengan warna gula jawa (gula aren) dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa. Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.
Bendera Negara dibuat dari kain yang warnanya tidak luntur dan dengan ketentuan ukuran:
  1. 200 cm x 300 cm untuk penggunaan di lapangan istana kepresidenan.
  2. 120 cm x 180 cm untuk penggunaan di lapangan umum.
  3. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di ruangan.
  4. 36 cm x 54 cm untuk penggunaan di mobil Presiden dan Wakil Presiden.
  5. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di mobil pejabat negara.
  6. 20 cm x 30 cm untuk penggunaan di kendaraan umum.
  7. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kapal.
  8. 100 cm x 150 cm untuk penggunaan di kereta api.
  9. 30 cm x 45 cm untuk penggunaan di pesawat udara.
  10. 10 cm x 15 cm untuk penggunaan di meja.
  11. 3 cm x 5 cm untuk penggunaan di seragam sekolah.
Pengibaran dan/atau pemasangan Bendera Negara dilakukan pada waktu antara matahari terbit hingga matahari terbenam. Dalam keadaan tertentu, dapat dilakukan pada malam hari.
Bendera Negara wajib dikibarkan pada setiap peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus oleh warga negara yang menguasai hak penggunaan rumah, gedung atau kantor, satuan pendidikan, transportasi umum, dan transportasi pribadi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri
Bendera Negara juga dikibarkan pada waktu peringatan hari-hari besar nasional atau peristiwa lain, yaitu:
  1. Tanggal 2 Mei, hari Pendidikan Nasional;
  2. Tanggal 20 Mei, hari Kebangkitan Nasional;
  3. Tanggal 1 Oktober, hari Kesaktian Pancasila;
  4. Tanggal 28 Oktober, hari Sumpah Pemuda;
  5. Tanggal 10 November, hari Pahlawan;
  6. Peristiwa lain (yang dimaksud dengan “peristiwa lain” adalah peristiwa besar atau kejadian luar biasa yang dialami oleh bangsa Indonesia, misalnya kunjungan Presiden atau Wakil Presiden ke daerah dan pada perayaan dirgahayu daerah).
Bendera Negara wajib dikibarkan setiap hari di:
  1. Istana Presiden dan wakil presiden;
  2. Gedung atau kantor lembaga negara;
  3. Gedung atau kantor lembaga pemerintah;
  4. Gedung atau kantor lembaga pemerintah nonkementerian;
  5. Gedung atau kantor lembaga pemerintah daerah;
  6. Gedung atau kantor dewan perwakilan rakyat daerah;
  7. Gedung atau kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri;
  8. Gedung atau halaman satuan pendidikan;
  9. Gedung atau kantor swasta;
  10. Rumah jabatan presiden dan wakil presiden;
  11. Rumah jabatan pimpinan lembaga negara;
  12. Rumah jabatan menteri;
  13. Rumah jabatan pimpinan lembaga pemerintahan nonkementerian;
  14. Rumah jabatan gubernur, bupati, wali kota, dan camat;
  15. Gedung atau kantor atau rumah jabatan lain;
  16. Pos perbatasan dan pulau-pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  17. Lingkungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia; dan
  18. Taman Makam Pahlawan Nasional.

Bendera Negara yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih disimpan dan dipelihara di Monumen Nasional Jakarta.
Bendera Negara sebagai penutup peti atau usungan jenazah dapat dipasang pada peti atau usungan jenazah presiden atau wakil presiden, mantan presiden atau mantan wakil presiden, anggota lembaga negara, menteri atau pejabat setingkat menteri, kepala daerah, anggota dewan perwakilan rakyat daerah, kepala perwakilan diplomatik, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Republik Indonesia yang meninggal dalam tugas, dan/atau warga negara Indonesia yang berjasa bagi bangsa dan negara.
Setiap orang dilarang:
  1. Merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara;
  2. Memakai Bendera Negara untuk reklame atau iklan komersial;
  3. Mengibarkan Bendera Negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam;
  4. Mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara; dan
  5. Memakai Bendera Negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan Bendera Negara.

Hasil gambar untuk bendera indonesia.Hasil gambar untuk bendera indonesia.

Sang Saka Merah Putih

Semangat !!
Sumber:Wikipedia