Kejadian salah naik kereta ini membuatku tertawa terbahak-bahak. (baca dulu blog Perjalanan Cicalengka yang pertama) Perasaanku jadi campur aduk, antara takut dan beruntung karena tadi
tidak terbawa sampai ke Padalarang tapi juga ingin tertawa soalnya ngakak bisa
sampai salah kereta. Ternyata kesalahan
kelompokku terletak pada saat kami baca tiket.
Ditiket dituliskan kami harus menaiki kereta yang nantinya akan berada
di jalur 2 sedangkan kereta yang kami naiki tadi (yang salah) berada di jalur
3.
Didalam
kereta, kami diberikan tantangan oleh kakak.
Tantangan tersebut adalah kami harus mengobrol dengan 1-2 penumpang
kereta dan harus mengamati kondisi di setiap stasiun yang dilewati. Di dalam kereta aku mengobrol dengan salah
satu penumpang, ia bernama Pak Cece. Pak
Cece ini duduk di belakang kursiku.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dekat dengan Pak Cece. Ternyata beliau juga ramah dan tidak asa-asa
saat mengobrol denganku, sehingga terjadi timbal balik antara aku dan Pak
Cece. Pak Cece ini rumahnya di
Cicalengka dan dia baru pulang dari Bandung karena menengok kakaknya yang
tinggal di Bandung. Sehari-harinya ia berkegiatan
di Cicalengka dan bekerja disana. Saat
kereta sudah mau sampai di stasiun yang kami tuju, aku berpamitan dengan Pak
Cece untuk bersiap-siap turun. Dari
wawancara ini aku jadi sadar, bahwa tidak semua orang baru menyeramkan dan berbahaya, masih ada banyak orang yang
baik diluar sana. Selama di dalam
kereta, aku juga mengambil foto dan mencatat hasil wawancara teman
sekelompokku, yaitu Chaca dan Bimo.
Setelah
selesai mewawancara Pak Aim aku pun berpamitan dan meninggalkan lapaknya. Tak jauh dari tempatku wawancara aku melihat
Chaca sedang mewawancara seorang pedagang bubur kacang, sedangkan Bimo sedang
asik memotret. Aku segera menghampiri
Bimo kemudian mulai memotret juga.
Ternyata dari tadi Bimo hanya memotret tidak mewawancara pedagang
lainnya. Aku dan Bimo pun menunggu Chaca
selesai wawancara, karena setelah dari pasar, kami akan langsung pergi menuju
ke salah satu sekolah yang ada di Cicalengka.
Setelah Chaca selesai wawancara, ia tiba-tiba menawari aku dan Bimo
untuk makan terlebih dahulu “Eh itu bubur kacangnya kayaknya enak deh murah
juga cuman 5000 beli yuk laper nih aku belum sarapan”ujar Chaca semangat. “Isinya apa?”aku bertanya dengan
spontan. “Ya bubur-bubur kacang gitu
lahh masa kamu gak tahu”Bimo menimpali.
Akhirnya karena aku juga kasian Chaca belum sarapan, aku dan kelompokku
singgah dulu di tukang bubur tersebut.
Ibu
penjual bubur kacang itu sangat ramah.
Beliau bernama Ibu Eti. Ia
melayani kami dengan baik. Tempatnya
berjualan juga bersih tidak dipenuhi lalat.
Selama melayani, ibu itu banyak bertanya kepada kami, seperti “dari mana
dek?” atau “ini the pada mau kemana bawa tas meni gede-gede”. Ternyata logat berbicara orang Cicalengka
dengan orang Bandung tidak berbeda jauh, bahkan banyak yang mirip. Sekitar 3 menit kami menunggu akhirnya
pesanan kami datang. Kami hanya membeli
1 mangkuk bubur kacang untuk dimakan bertiga.
Bubur kacang itu merupakan campuran dari berbagai jenis kacang. Dalam satu mangkuk bubur kacang, terdapat
kacang hijau, ketan hitam, santan dan campuran lainnya. Porsinya juga besar, sehingga untuk dimakan
bertiga sangat pas. Rasa yang paling
menonjol dari makanan ini adalah manis.
Walaupun tidak ditambahkan banyak gula, namun dengan adanya kacang hijau
dan ketan hitam, bisa menambahkan cita rasa manisnya. Sambil makan, kami juga mengobrol dengan ibu
Eti.
Kami
pun selesai makan. Perut kami sudah
terisi dan kami pun siap bertualang kembali. To be continued...
