11.21.2017

Resensi Buku CEWEK!!

RESENSI BUKU CEWEK!!
Judul Buku: Cewek
Penulis: Esti Kinasih
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 424 dengan ukuran halaman 20cm
Tahun terbit: 2005
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jenis cover: Soft cover
Buku: Kedua dari penulis Esti Kinasih
Kategori : Teenlit ( novel remaja )

Sinopsis:  Kisah ini menceritakan tentang 3 orang perempuan yang bersahabat .  Mereka terdiri dari Langen yang memiliki kemampuan memimpin, keras kepala dan selalu pentang menyerah, Fani yang manis namun berjiwa pemberontak dan ada Febi yang masih berdarah nigrat.  Mereka semua bersekolah di SMA yang sama dan mereka semua berpacaran dengan 3 orang cowok dengan hobi yang sama, yaitu mendaki gunung.  Dan hobi para cowoklah yang selalu merusak acara ngedate mereka.  Langen dan pacarnya Rei jadian karena memang benar-benar suka, Fani jadian sama Bima karena terpaksa sedangkan Febi dan Rangga kalau pacaran adem-adem ayam gituu.. Karena para cowok selalu mengagalkan acara ngedate mereka akhirnya mereka mengadakan acara kebut gunung dimana para cewek menantang para cowok untuk mengalahkan mereka dalam kebut gunung.  Mereka ( Rei, Rangga dan Bima )harus berjanji, kalau mereka kalah, mereka tidak boleh membatalkan acara ngedate dengan para ceweknya. Didetik-detik terakhir, Langen, Fani dan Febi sudah sangat kelelahan. Kira-kira berhasil gak ya para cewek mengalahkan para cowok yang sudah bertahun-tahun berlatih kebut gunung sedangkan mereka berlatih di bulan-bulan terakhir.. Penasaran?? Yuk baca bukunya

Kelebihan: Gambar covernya bagus dan font juga ukuran tulisannya bagus dan pas untuk buku ini.  Tema yang diambil juga cocok untuk kategori novel remaja.  Sedikit memasukkan kisah hidup penulis, yaitu pendakian, membuat kisah ini semakin hidup.  Bahasa yang digunakan sangat pas dan penempatan setiap katanya pas sehingga cerita mudah dimengerti dan menarik para remaja untuk membacanya.  Selain itu alurnya enak dan mudah dimengerti.  Penokohannya bagus dan muncul dalam setiap bagian cerita sehingga membuat kita sangat mengenali dan memahami setiap karakternya.
Kekurangan: Menurutku, akan lebih menarik kalau ditambah gambar.  Dan jenis kertas yang digunakan bisa dirubah agar lebih awet, soalnya dengan bahan seperti ini buku akan lebih mudah rusak..

Pendapatku sih buku ini bagus dan menarik karena mengusung tema percintaan dan persahabatan yang sangat lekat dengan kehidupan para remaja sehari-harinya.  Alur yang ada pun sangat mudah dimengerti ( tidak berputar-putar ) namun masih kurang ilustrasi karena dengan adanya ilustrasi akan membuat cerita dalam buku semakin hidup.  Bahasa yang digunakan juga enak dan menyenangkan jadi ada Bahasa Indonesia dan Bahasa Gaulnya juga jadi akan sangat pas untuk dibaca oleh anak-anak SMP.  Dan menurutku sih buku ini cocok dibaca oleh anak SMP karena untuk percintaannya menurutku sangat cocok untuk anak di jenjang SMP.  Hal yang menarik menurutku selama membaca buku ini adalah saat mereka Langen, Fani dan Febi menjebak pacarnya masing-masing dengan berbagai macam cara.  Itu sangat seru karena disana kita bisa membuktikan kalau para cewek bukanlah manusia yang lemah.  Amanat yang aku dapatkan dari buku ini adalah jangan sombong kalau sudah memiliki kehebatan dalam satu bidang, bagikan hal tersebut pada orang lain karena kalau tidak dibagikan juga pelajaran yang kita miliki akan sia-sia.  Dan pilihlah prioritas jangan memilih satu hal hanya karena suka, tapi pikirkan juga dampak kedepannya gimana.  Tokoh yang paling berkesan untuk ku sih adalah Langen karena Langen itu sifatnya keras dan tegas ia juga pantang menyerah dan menurutku akan bagus kalau aku contoh beberapa sifatnya yang baik.  Saran untuk penulis sebaiknya tambahkan gambar, seperti yang sudah aku katakan tadi, dan tambahkan konfliknya kalau bisa agar lebih menyenangkan.  

11.04.2017

Resensi Buku Blue Romance

Judul Buku: Blue Romance
Penulis: Sheva Thalia
Tahun Terbit:  September 2012
Penerbit: Plot Point
Jumlah Halaman: 216 halaman
Harga: Rp.38.000,00
Seri: Omnibook
Bahasa: Indonesia, Prancis, Inggris

Buku ini menceritakan tentang sebuah café yang bernama Blue Romance. Café tersebut selalu menjadi saksi dalam kisah hidup setiap pengunjung.  Café ini juga menyediakan berbagai macam jenis kopi seperti Latte, Espresso, Americano, dan Affogato yang selalu bisa menggambarkan setiap perjalanan hidup para pengunjung.  Ada kisah Chandal yang kedua orang tuanya bercerai kemudian di Blue Romance ia menceritakan kidah hidupnya ditemani secangkir kopi Espresso, ada kisah Nico yang bertemu dengan sahabat lamanya di café, dan masih banyak lagi.. Mau tahu kelanjutannya? Yuk langsung dibeli aja bukunya!

Kelebihan: Kata-katanya mudah dibaca dan mudah dimengerti, ilustrasinya bagus, covernya bagus dan warna-warni sehingga memikat para pembaca atau pembeli

Kekurangan: Mungkin ukuran tulisannya terlalu besar untuk anak-anak remaja karena kan dari cerita ini menggambarkan bahwa buku ini ditujukan untuk anak remaja dan menurutku untuk anak remaja ukuran fontnya terlalu besar. Covernya juga kayaknya kurang bagus karena mudah rusak dan kelipat.  Dan dari sisi tulisan,menurut aku rada memusingkan soalnya  bahasanya campur-campur Indonesia, Inggris dan Prancis.  

Opini: Menurutku, cerita di buku ini bagus dan menarik karena kata-katanya mudah dimengerti selain itu Tapi sebaiknya jangan dicampur-campur bahasanya karena malah memusingkan.  Dan menurutku buku ini cocok dibaca oleh anak remaja dan orang dewasa karena seperti tadi yang sudah aku sebutkan, bahasanya kurang cocok dengan anak kecil dan dari segi tema dan ceritanya juga kurang  cocok untuk dibaca oleh anak-anak.  

Hasil gambar untuk gambar buku blue romance                                                        Hasil gambar untuk gambar buku blue romance   Hasil gambar untuk gambar buku blue romance

10.11.2017

Menyusuri Jejak Indonesia

Di kelas 8 ini, aku dan teman-teman sudah membuat 2 proyek, yang pertama adalah proyek peta dan yang kedua adalah proyek karya mekanis.  Proyek karya mekanis ini merupakan sebuah karya yang menggambarkan Indonesia sejak jaman purba sampai orde baru.  Di karya ini, aku membuat sebuah karya yang tema besarnya adalah agama Hindu.  Tujuan dari karya mekanis ini adalah untuk membagikan pengetahuan kami kepada orang banyak dalam bentuk karya visual. 
Karya yang aku buat tentang agama Hindu, dan kalau secara spesifik, aku menggarap di kerajaan Majapahit.  Dalam karya ini aku menampilkan Mahapatih Gajah Mada dan 2 prajurit lainnya. Dalam karya ini aku hanya memberikan latar belakang yang biasa saja dan tidak banyak menceritakan keadaan.  Dalam karya ini aku menggunakan 1 buah dus yang aku bagi 2 yang kemudian aku jadikan bagian utama.  Disana aku membuat mekanisnya dengan menggunakan karpet bekas dan beberapa tusuk sate.  Bahan yang aku gunakan dalam membuat karya mekanis ini sangatlah sederhana dan mudah kita jumpai bahkan biasanya barang-barang tersebut kita buang.  Jujur sebelum membuat karya ini,aku tidak kepikiran bahwa karya ini akan menarik dan bagus.  Pada awalnya aku berpikir bahwa karya ini akan sangat susah dan membosankan, tapi ternyata setelah eksekusi, tidak sesusah dan se membosankan seperti yang aku bayangkan.  Jadi karya yang aku buat itu menceritakan tentang Gajah Mada yang sedang bersiap perang dan ceritanya dia juga lagi membacakan sumpahnya yaitu Sumpah Palapa yang isinya ia tidak akan memakan buah palapa sebelum berhasil menyatukan Indonesia.  Karya mekanis yang aku buat juga menceritakan Gajah Mada yang sedang ada di hutan pohon maja. 
Sebelum mulai membuat karya, aku dan teman-teman saling berbagi informasi tentang linimasa terbentuknya Indonesia kemudian setelah itu, aku dan teman-teman saling membagi tema, dan beberapa tema besarnya adalah evolusi manusia purba, kerajaan Hindu, kerajaan Budha, masa kemerdekaan dan masa orde baru.  Setelah membagi-bagi tema besar, aku mulai melakukan riset dan melihat beberapa video tentang mekanis. Kata kunci yang kami gunakan ada banyak salah satunya adalah automaton, setelah mengetik, akan keluar banyak sekali video-video tentang karya mekanis.  Setelah selesai mencari beberapa informasi, aku mulai membuat gambar rancangan karya kemudian mulai mencari kardus yang bisa aku gunakan.  Setelah rancangan gambar disetujui oleh kakak, aku mulai mencoba membuat karya mekanis (belum yang final) dan ternyata setelah mencoba, mekanisnya tidak berjalan dengan baik, kadang macet dan kadang gak jalan sama sekali.  Akhirnya aku pun meriset ulang tentang karya mekanis kemudian aku menemukan cara gerak karya mekanis yang lebih mudah dan ternyata setelah dicoba bisa berjalan dengan baik.  Tanpa menunggu lama, aku langsung membuat karya mekanisnya dan dalam 2 hari, mekanisnya sudah berjalan dengan baik dan disana aku merasa sangat senang.  Setelah itu aku mulai menggambar Gajah Mada dengan kedua prajuritnya. Disana aku merasa sangat kesulitan, karena memang aku kurang bisa maksimal dalam menggambar apalagi menggambar hewan, itu sudah menjadi kelemahanku sejak dulu.  Saat itu aku sempat merasa putus asa karena takut juga karyanya jelek.  Akhirnya aku memutuskan untuk mencari di youtube cara menggambar kuda dan ternyata ada.  Rasanya senang sekali, karena aku akhirnya bisa menggambar kuda dengan bagus.  Setelah menggambar 3 kuda beserta prajuritnya, aku melanjutkan karyaku, aku mulai memasangkannya ke karya mekanis yang besarnya, kemudian minta saran ke kakak.  Setelah itu, Kak Diki dan Kak Olin bertanya pada aku bagaimana kalau dikasih background? Setelah aku pikir-pikir dan aku pertimbangkan,akhirnya aku membuat latar belakangnya.  Mengerjakan latar belakangnya menurutku terlalu lama, karena aku sudah sedikit males ngerjainnya tidak tau kenapa, tapi aku paksakan dan akhirnya selesai juga mengerjakan latarnya walaupun baru selesai setelah 1 minggu.  Setelah semua karya mekanisku selesai, sudah dengan cat, aku membantu beberapa teman karena memang aku masih memiliki banyak waktu yang tersisa.  Di beberapa hari terakhir, aku memaksimalkan lagi karyaku dengan menambahkan origami burung dan tulisan “Mahapatih Gajah Mada”. Oh iya, ditengah-tengah waktu membuat karya ini, kami kedatangan seorang narasumber yaitu kak Maliyanti atau sudah biasa dipanggil Ibu Kardus.  Saat beliau datang, beliau banyak berbagi cerita dan banyak membantu aku dalam pembuatan karya ini.  Sebelum beliau datang, kuda yang aku buat  geraknya bukan keatas melainkan muter-muter gak jelas.. Nah setelah beliau datang dan mengetahui masalah aku, beliau memberikan beberapa saran yang sekarang aku gunakan dan ternyata saran tersebut sangat ampuh dan hasilnya sangat memuaskan, kuda yang ada di karya aku jadi tidak muter-muter. Alokasi waktu yang kami gunakan dalam membuat karya mekanis ini kurang lebih 2 bulan dan ternyata setelah dilihat, aku lumayan puas dengan karya mekanisku, karena dengan mood aku yang gak beraturan dan pemakaian waktu yang kadang gak efektif, tapi hasilnya bisa sama dengan apa yang ada di bayanganku dan mekanisnya bisa berjalan dengan baik. 
Dari proyek ini aku belajar menjadi orang yang lebih sabar dan jangan tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu.  Aku juga belajar untuk menjadi orang yang tidak mudah putus asa dan tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.  Selain itu aku juga belajar bahwa membuat sebuah karya yang bagus tidak harus selalu menggunakan bahan-bahan yang sama bagusnya dan mahal, kita bisa menggunakan bahan-bahan dirumah yang sudah tidak terpakai dan sudah mau dibuang kemudian mengubahnya menjadi karya yang bagus bahkan bermanfaat bagi orang banyak.  Aku juga jadi seperti merecall ulang sejarah Indonesia yang sudah sempat aku lupakan.  Sungguh menyenangkan proyek kali ini, karena yang awalnya aku anggap negatif malah menjadi kegiatan yang paling aku sukai.  J


         

9.16.2017

Review Buku Soekarno

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Judul: Sukarno, Paradoks Revolusi Indonesia
Pengarang: Farid Gaban, Arif Zulkifli, Karaniya Dharmasaputra, Irfan Budiman, Seno Joko Suyono, Bina Bektiati, R.Fajri, Ignasius Haryanto
Tahun Terbit: Februari 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Narasi: Putra Sang Fajar atau yang lebih akrab dipanggil Sukarno ini lahir di  Blitar 6 Juni 1901.  Beliau merupakan salah satu tokoh pergerakan Indonesia.  Walaupun beristri sembilan, tidak ada seorangpun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. Demi membela Indonesia dan memerdekakan Indonesia, ia rela dibuang ke tempat tempat terpencil seperti ke Ende Flores.  Disana beliau tidak tinggal diam, dengan peralatan yang terbatas, beliau masih tetap berusaha untuk berkarya. Di masa pembuangannya di Ende Flores, Sukarno mengembangkan bakatnya menjadi sutradara teater.  Ada 12 naskah drama yang dihasilkannya selama pengasingan.  Selain pengasingan, Sukarno juga musti berjuang melawan Belanda dengan bernegosiasi dan merelakan terjadinya pertumpahan darah antar rakyat. Masih mau tahu cerita unik lainnya tentang perjuangan Sukarno untuk memerdekakan Indonesia? Yuk baca aja buku Sukarno ini :)
Kelebihan: Gambar-gambar yang disajikan sangat menarik dan beragam, dan di dalam buku ini tidak semuanya berupa artikel tapi ada juga yang berupa timeline pertanggal dan dan perkejadian sehingga tidak membingungkan..
Kekurangan: Kadang ada kata-kata yang sulit dimengerti jadinya suka jadi sekalimat gak ngerti..sebaiknya dikasih tulisan kecil dibagian bawahnya untuk kata-kata sulit disertakan artinya jadi tidak susah dimengerti paragrafnya :)
Jadi menurut aku kalian wajib baca buku ini karena buku ini bisa memberi wawasan yang lebih luas tentang kalian, terutama untuk yang suka dengan IPS harus banget dehh baca buku ini.. buku ini tidak berisi artikel saja tapi juga beberapa pendapat Sukarno semasa hidupnya disertai dengan gambar-gambar yang menarik..
Hasil gambar untuk gambar buku sukarno paradoks revolusi indonesia

8.22.2017

Article Review

                                                      Article Review

         Today I read about "Seven Summits Challenge" from Jakarta Post.com.  Our English teachers give me some challenge to make a summary of the article and this is the review...
       
The article is about the youngest girl who can complete "Seven Summits Of Indonesia Challenge".  Her name is Khanza Syahlaa.  She climbed the Cartenzs Pyramid in Papua successfully.  The peak of which reaches 4.884 meters above the sea.The expedition began on July 10 until July 17.  Before that, she already climbed Semeru, Kerinci, Rinjani and Bukit Raya.  She spells out her experience to the author.  In my opinion, the author wants to invite us closer to the nature by writing this article.

Khansa Syahlaa admitted that there were many challenges during the journey, especially on the descent.
         
 I choose this article because it was amazed me.  By the age of 11, Khanza could complete Seven Summits Challenge and I think I will not be able to finish it.  I like the Khanza's character because of her strong and never give up in every circumstance.  
          For me, being young is time to improve and enjoying youth, like play and learn about anything.  Being young is time to build up my characters.  
          My role as an Indonesia youth is to be a good and caring girl.  I want to be a girl who cares about environmental and uphold Indonesia.  I want to make Indonesia famous and introduce Indonesia culture. I feel very lucky and happy to be an Indonesia youth :)


http://www.thejakartapost.com/youth/2017/07/21/11-year-old-girl-completes-seven-summits-of-indonesia-challenge.html

8.14.2017

Pasukan Baris Berbaris SMP Semi Palar

INDONESIA TANAH AIRKU
            Rabu, 2 Agustus 2017 tepat pukul satu siang, kami seluruh murid SMP Semi Palar, dipanggil oleh Kak Andy untuk berkumpul di kelas 9.  Disana kami diberitahukan bahwa saat Slametan Smipa SMP Semi Palar akan membawa 2 patung yang sangat terhormat.  Yaitu patung Soekarno dan Hatta.  Setelah kak Andy memberitakan tentang hal tersebut, kami mengadakan sesi tanya jawab.  Aku merasa sangat senang saat diberitahukan akan membawa patung tersebut tapi pada saat yang sama aku juga merasa khawatir, soalnya ada rencana aku tidak akan pergi.  Semua perasaan bercampur aduk di dalam hatiku antara senang dan tidak.
            Kamis, 3 Agustus 2017 sampai Rabu 9 Agustus 2017 kami latihan untuk Slametan nanti.  Kami mulai berlatih formasi dan mulai mempraktekkannya di sekolah.  Jujur selama latihan aku merasa malas dan capek karena kita harus latihan di siang bolong disinari matahari yg terik.  Tapi aku merasa senang juga karena dengan latihan ini, aku jadi lebih fokus dan jadi lebih banyak berbaur dengan teman-teman SMP yang lain.  Menurut ku dengan diadakannya PBB ini, bisa merubah sikap-sikap yang kurang baik.  Setelah menjalankan PBB ini aku merasa aku bisa menjadi lebih baik lagi dengan mengembangkan sikap-sikap ku seperti kesabaran dan kefokusan. 
Sabtu, 12 Agustus 2017, seluruh keluarga Semi Palar berkumpul di Natural Hills.  Pukul 12.00 kami semua melaksanakan upacara.  Jujur pada saat mau mulai upacara aku merasa sangat gugup dan takut karena takut nanti pas didepannya salah dan malah malu-maluin.  Walaupun sudah latihan berkali-kali, tapi aku tetap saja merasa takut mungkin karena memang takut ditambah lagi dengan omongan teman yang nakut-nakutin jadi kebawa takut.  Pada saat sudah bersiap di lapangan, aku merasa deg-deg an banget soalnya pas di hari H latihannya sangat sedikit ditambah dengan perubahan formasi yang lumayan jauh.  Waktu latihan kami di sana juga sangat sedikit hanya 1 jam untuk formasi baru jadi untuk aku masih kurang  banget latihan.  Formasinya kita rubah menjadi 3 saf 9 banjar.
Upacara pun dimulai diawali dengan kami yang membuka formasi.  Tidak lama kemudian alunan lagu Indonesia Pusaka dan Padamu Negeri terdengar di telinga.  Pada saat mendengar lagu itu sebenarnya hatiku serasa teriris soalnya aku suka tidak mau menjaga Indonesia dan tidak mengerti apa sih gunanya menjaga Indonesia namun setelah mendengar lagu ini dan aku resapi kata katanya aku mulai mengerti kenapaa kita harus menjaga Indonesia.  Mendengar suara orang-orang yang bernyanyi tanpa aku sadari, aku merinding mendengarnya tidak tahu kenapa.  Setelah mendengar lagu itu, ditambah lagi dengan mendengarkan sebuah puisi tentang Indonesia yang kata-katanya sangat puitis sangat membuat hatiku sedih.  Jujur selama ini aku merasa Indonesia hanya sebuah negara yang sama dengan negara yang lain namun setelah aku mendengarkan lagu dan mendengarkan puisi aku merasa mata hati ku sudah mulai terbuka.  Sebenarnya air mata sudah mengenang di pelupuk mataku tapi aku tahan. 
Setelah upacara selesai, aku merasa sangat bangga dan senang karena PBB nya bisa berjalan dengan baik dan tidak ada yang salah.  Banyak juga orang yang langsung menghampiri ku saat upacara selesai dan berkata bahwa tadi aku bisa melaksanakannya dengan baik dan saat mendengar pujian itu, aku merasa sangat senang karena ternyata kerja kerasku selama ini tidak sia-sia. 





Aku merasa sangat bangga bisa menjadi warga Negara Indonesia.  Indonesia, sebuah negara yang penuh dengan kekayaan alam dan masih kental akan budaya.  Kini aku sadar aku sangat beruntung bisa tinggal di sebuah negara yang sangat unik dan masih penuh akan budaya.  Walaupun kini Indonesia sudah berubah namun dalam hatiku selalu terukir sebuah nama “INDONESIA”negara tempat dimana aku memijakkan kaki pertama kali dan tempat dimana aku menghabiskan hari tua J

8.10.2017

Ekspedisi Kecil Kelompok Dolangan

              Di hari Selasa, 8 Agustus 2017, tepat pukul 07.20 aku dan teman-teman kelompok Dolangan berkumpul di Stasiun Kiara Condong.  Kami memulai perjalanan kecil ini dengan berdoa bersama disinari matahari pagi.  Setelah berdoa, kami berkumpul sesuai kelompok yang sudah ditentukan kemarin dan mulai menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan selama ekspedisi.  Di perjalanan kali ini, aku dikelompok bersama Naia dan Linus, seharusnya dikelompok kami ada Cindy namun ia berhalangan hadir di hari itu.  Setelah kami semua siap, kak Diki membriefing setiap kelompok.  Kami memulai ekspedisi dengan mengunjungi Makam Mbah Malim.
                Dihembusi angin pagi, aku, Naia dan Linus terus berjalan menyusuri jalan Kiara Condong.  Tanpa membuang banyak waktu, akhirnya aku dan teman kelompok ku sampai didepan sebuah gang yang bertuliskan “Jl. Embah Malim”.  Tanpa ragu lagi akhirnya aku, Naia dan Linus segera masuk ke dalam gang tersebut kemudian mulai mencari tempat yang kami tuju, yaitu Makan Mbah Malim.  Di tengah perjalanan mencari makam tersebut, seorang bapak-bapak menghampiri kami kemudian berkata”Dek nyari makamnya mbah malim yaa?” tanpa menunggu lama kami semua serentak menjawab dengan semangat”Iyaa pakk!”.  Tanpa segan-segan bapak tersebut segera menunjukkan letak Makam Mbah Malim dan ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami tadi bertemu dengan bapak itu.  Selama di perjalanan aku masih merasakan kentalnya budaya Sunda. Kebanyakan warga disana berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda yang sudah dijadikan bahasa sehari-hari mereka.  Warga yang ada disana juga sangat ramah, bahkan tanpa ditanya pun mereka sudah mau memberitahukan letak tempat yang kami tuju atau bahkan sekedar menyapa.
               Pukul 08.00 WIB kami tiba di Makam Mbah Malim.  Disana kami bertemu dengan Pak Cece, seorang penjaga makan yang sudah 12 tahun menjaga Makam Mbah Malim.  Beliau mengajak kami untuk berkumpul di sebelah Makam Mbah Malim.  Tanpa menunggu lama, suasana di sana langsung hangat penuh canda dan tawa.  Pak Cece juga banyak bercerita mulai dari kisah hidup Mbah Malim,  bahkan sampai kisah mistis yang pernah terjadi di makam itu.  Jujur selama di dalam makam aku sempat merasa takut, mungkin karena orang-orang sering mengatakan kalau makam itu tempat mistis.  Kurang lebih Pak Cece bercerita selama 1 jam. Begini kisah hidup Mbah Malim..
                Mbah Jaludin atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Malim itu merupakan orang  kelahiran Limbangan, Garut.  Selama hidupnya beliau mengembara di sekitar Pulau Jawa dan beliau mengakhiri pengembaraannya di kota Surabaya, Jawa Timur.  Setelah selesai mengembara, Mbah Malim memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Limbangan.  Beberapa tahun kemudian, Mbah Malim dipanggil ke Bandung untuk membantu menjaga orang-orang yang membersihkan sungai Cikapundung-sungai Citarum.  Sebelum kedatangan Mbah Malim, acara kerja bakti membersihkan sungai itu banyak memakan korban, namun setelah mendatangkan Mbah Malim, konon katanya jadi sedikit korban.  Maka dari itu Mbah Jaludin mendapatkan julukan Mbah Malim, karena dalam bahasa sunda, Malim itu artinya orang yang pintar.  Sebagai imbalan, beliau diberikan tanah yang sangat luas, yang sekarang dinamakan Babakan Surabaya.  Konon katanya dinamai Surabaya karena kota yang terakhir kali ia datangi untuk mengembara adalah kota Surabaya makanya beliau menamainya Surabaya.
               Setelah mendapat banyak informasi, kami pun mengucapkan terima kasih kemudian berfoto bersama dengan Pak Cece, narasumber kami.  Setelah itu kami bersiap lagi untuk mengunjungi tempat selanjutnya.  Setelah keluar dari Makam. kami pun dibriefing oleh kakak per kelompok.  Tanpa menunggu lama, aku, Naia dan Linus segera mendatangi kakak dan setelah berkumpul dengan kakak kami diberitahukan kemana kami akan menjelajah selanjutnya.  "Gengs kalian abis ini kumpul yaa di Gereja Kristen Jawa.. Kakak tunggu jam 09.20 WIB"seru kak Olin.  Tanpa menunggu lama, aku dan teman sekelompok ku segera berangkat.  Kami sempat kesulitan mencari Gereja yang dimaksud karena beberapa orang yang kami tanya memberikan pernyataan yang berbeda-beda.  Setelah lama mencari, akhirnya kami pun menemukan gereja yang dimaksud, Gereja Kristen Jawa yang dimaksud terletak di jalan Kebon Jayanti.
                   Disana kami bertemu dengan narasumber kami, yaitu Bu Hesti dan Pak Markus.  Katanya gereja ini sudah didirikan dari tahun 1927.  Gereja ini dibangun tanggal 15 Juni dan dalam sekali misa biasanya ada 700-800 jemaat.  Katanya sih mayoritas umat disini masih 90% asli Jawa.  Orang-orang yang mengurus gereja disini masih menjaga tali silaturahmi dengan warga sekitar, seperti kalau paskah, pasti mereka membagikan telur mentah pada warga sekitar dan kalau 17 an mereka biasanya mengadakan beberapa lomba di gereja jadi tali silaturahminya tetap terjaga.
                 
           
                Setelah mendapatkan banyak informasi, aku dan teman-teman meminta ijin untuk istirahat di gereja.  Setelah istirahat, kami pun berfoto dengan narasumber kami kemudian kami melanjutkan perjalanan. Seperti biasa sebelum perjalanan dilanjutkan pasti diadakan briefing per kelompok.  Kelompok aku mendapatkan kesempatan untuk dibriefing pertama kali.  Selanjutnya kami akan menjelajahi Kantor Kelurahan dan Pasar.  Kami diberi beberapa tantangan oleh kakak, salah satunya adalah mencari Tukang Rampe saat di pasar.  Jujur pada saat mendengar kata Rampe aku bingung bangett soalnya gk pernah denger kata Rampe.  Tanpa banyak bertanya akhirnya aku, Naia dan Linus segera berangkat.  Rencananya kami akan menjelejah ke Kantor Kelurahan dulu.  Kami mengunjungi Kantor Kelurahan Kebon Jayanti yang letaknya di Jalan Stasiun Lama Kiara Condong no.39
                       Saat masuk ke dalam Kantor Kelurahan, kami langsung disambut oleh Pak Nono dan Pak Didi, pekerja disana.  Pak Nono ramah sekali, tanpa kami tanya pun beliau sudah langsung menjelaskan.  Disana kami mendapat banyak informasi tentang Kelurahan Kebon Jayanti.  Kelurahan kebon Jayanti memiliki 14 RW, memiliki 11.993 penduduk tetap dan memiliki 1.197 penduduk tidak tetap.  Kata Pak Nono, tidak semua penduduk disini khas dari Kiara Condong, ada yang dari Ujung Berung, Cicaheum dan Lengkong.  Kelurahan ini dipimpin oleh Pak Abdul Manaf.  Jujur disana aku merasa senang karena mendapatkan banyak informasi dan disana juga kami diberikan sebuah peta Kelurahan Kebon Jayanti.  Karena kami sudah banyak mendapatkan informasi, kami pun pamit kemudian segera meninggalkan Kantor Kecamatan itu.
             Belum 10 langkah kami meninggalkan Kantor Kelurahan, tiba tiba kami mendengar seseorang berteriak dari belakang.  "Dekk tunggu dulu dek"begitu katanya.  Tanpa menunggu lama, aku, Naia dan Linus segera menengok ke belakang.  Ternyata Pak Didi yang dari tadi berteriak.  "Eh dek ayo ke kantor dulu, mau difoto dulu untuk dokumentasi"seru Pak Didi.  Aku, Naia dan Linus merasa sangat senang, serasa jadi artis dimintain foto.  Tapi dibalik rasa senang itu masih tetap ada rasa khawatir di dalam hatiku, karena kami harus kumpul di stasiun Kiara Condong jam 12 an.  Dan aku takut telat.
                     Kita pun sampai di Kantor Kelurahan.  Kami masuk ke ruangan yang sama kemudian tak lama kemudian, sudah banyakk orang yang mengelilingi kami.  Semuanya membawa gadget dan bersiap memotret kami.  Kami pun berfoto lama sekali, orang mengantre di belakang untuk memotret kami.  "Aduh udah jam segini nih balik yuk nanti telat loh"kata aku berusaha mengakhiri acara pemotretan masal itu.  Linus dan Naia pun langsung mengangguk dan akhirnya kami pun berhasil keluar dari kerumunan orang itu.  Buru-buru kami pergi ke pasar dan mewawancarai para pedagang disana.  Kebanyakan kami mewawancarai pedagang buah.

                  Sebelum sampai ke pasar, kami didatangi oleh seorang ibu-ibu dan ibu itu langsung berkata "Dek mau kemana? Mau kepasar ya? Tadi ibu juga liat banyak ade-ade pake baju kayak gini". Aku pun langsung menjawab "Mau ke pasar bu, kita mau nyari tukang rampe".  Aku berharap dengan aku lontarkan kalimat "tukang rampe" si ibu akan membantu mencari tukang rampe tersebut.  Dan benar saja si ibu langsung membantu kami mencari penjual rampe.  Karena sudah menemukan tukang rampe, kami pun segera mengucapkan terima kasih kemudian kami langsung melakukan tantangan yang diberikan kakak.
                        Rampe merupakan sebuah bunga yang biasanya digunakan untuk melayat.  Tukang rampe yang kelompok ku wawancarai namanya Ibu Enong.  ia berasal dari Cirebon.  Katanya bunga rampe ini dikirim dari Lembang.  Konon katanya rampe itu adalah adat dari Sunda.  Setelah selesai wawancara dan memotret kami pun meninggalkan tukang rampe tersebut, kemudian mencari pedagang lain untuk survey tentang hasil bumi.
                         Kurang lebih jam 12, aku, Naia dan Linus sampai di stasiun Kiara Condong.  Saat kita sampai di stasiun, kita sempat merasa panik karena disana masih sepi dan tidak ada teman-teman kelompok Dolangan.  Tapi tidak lama kemudian kak Olin datang dan kelompok-kelompok lain pun datang.  Setelah mengetahui jurusan kereta, kakak memberikan kami uang kemudian kami segera membeli tiket kereta kemudian masuk.  Selama di kereta, kita ngobrol-ngobrol dan foto-foto.  Beberapa teman ada yang makan bahkan tidur.

                        Perjalanan dari Kiara Condong ke Bandung melewati Cikudapateuh.  Sesammpainya di Stasiun Selatan, kami masuk ke daerah Pasar Baru kemudian tiba ke suatu tempat yang sangatttt indah.  Yaitu ke rooftop.  Iya tempatnya kerann bangett.. Udaranya segar, langitnya biru dan disekitarnya banyak sekali tanaman.  Tanpa menunggu lama, aku dan teman-temanku segera membuka bekal makan siang kemudian menyantapnya sambil berbincang-bincang.

                          Kira-kira jam 1 an, kita diajak kakak untuk berkumpul lagi.  Kakak memberitahukan kami bahwa tujuan akhir kami adalah menjelajah di sekitar Pasar Baru.  Kakak memberi tahu kami bahwa kami harus berkumpul di Stasiun Utara jam 14.45.  Di Pasar Baru, kakak memberi kami tantangan yaitu mencari toko tembakau dan toko kopi.  Saat kami masuk ke Pasar Baru, kami sempat merasa bingung mencari toko tembakau dan toko kopi.  Namun saat kami kembali pada titik awal, kami langsung menemukan dimana letak toko tembakau.  Toko tembakau yang ada disini lumayan kecil jadi kalau kita gk peduli sama lingkungan  sekitar, kita pasti tidak akan bisa melihatnya.
                        Selama di toko tembakau, kita melihat-lihat tembakau yang ada kemudian mewawancarai penjualnya.  Penjual tembakaunya bernama ibu Euis.  Beliau berjualan tembakau  5 tahun dan katanya tembakau yang ada disini berasal dari Sumatra.  Jujur pada saat sampai di toko tembakau ini aku merasa sangat senang dan antusias karena aku ingin tahu lebih banyak soal tembakau.  Namun respon dari si penjual kurang menyenangkan sehingga akhirnya menutup rasa ingin tahuku.  Tapi ya sudah lah yang penting aku bisa tahu sedikit tentang tembakau.

                            Setelah berhenti di toko tembakau, aku dan teman sekelompok ku segera mencari toko kopi yang dimaksud kakak.  Lumayan lama kami mencari, soalnya toko kopi yang dimaksud tidak memiliki spannduk yang besar jadi gk kelihatan.  Toko kopi yang kami datangi bernama Toko Kopi Box Jaya yang letaknya di Jl. Pasar Barat no.28.  Narasumber kami disana bernama Bu Feni beliau orang asli Bandung dan katanya sudah lama banget berjualan disini.  Katanya beliau mulai berjualan dari tahun 1967 dan sampai sekarang belum ganti-ganti toko.  Beliau bercerita katanya menjual 3 jenis koppi, yaitu kopi Arabika khas Kalimantan, kopi Robusta khas Lampung dan kopi Jagong khas Surabaya. Selama disana, aku merasa sangat senang, selain senang melihat berbagai jenis kopi, aku juga senang karena narasumbernya gak jutek.. Jadi aku juga semangat untuk menggali lebih dalam lagi soal kopi.  Berikut ada foto-foto selama kami di toko kopi :)
  
                        Setelah mendapat banyak informasi disana kita pun segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan.  Selanjutnya kami harus berjalan ke stasiun utara.  Aku sempat merasa takut karena saat aku melihat jam waktu sudah rada mepet dan aku gak yakin bakal bisa sampai di stasiun utara tepat waktu atau tidak.  Kami berjalan melewati suatu jembatan yang dibagian bawahnya ada banyak rel kereta.

                           Dan ternyata benar saja kami tiba di stasiun terlambat dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 14.55.  Sesampainya di stasiun  kita mengevaluasi secara singkat tentang perjalanan hari ini kemudian menutupnya dengan doa.  Perjalanan kali ini sangat menyenangkan aku sangat berharap di perjalanan selanjutnya bisa lebih menyenangkan dari ini :) Walaupun lelah karena panas, tapi semuanya terbayarkan :)


-Natasha-
-catatan perjalanan Dolangan 08.08.2017