11.07.2019

Budidaya Maggot


Selama semester 1, kegiatanku di KPB terbilang cukup padat.  Aku banyak mengerjakan proyek dan bertemu dengan komunitas atau orang-orang baru.  Salah satu komunitas yang aku temui adalah YPBB yang merupakan singkatan dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi.   Kelas 10 bersama YPBB berkolaborasi untuk mengerjakan proyek sistem sampah yang rencananya akan dijalankan di Semi Palar.  



Kami berfoto bersama Pak RW dan beberapa pengurus
Tanggal 6 November kemarin, kami, kelas 10 berkegiatan di daerah Cimahi untuk melakukan riset tentang maggot.  Apa sih maggot itu? Maggot merupakan salah satu jenis larva yang digunakan untuk membantu menguraikan sampah organik, seperti sampah dapur.  Maggot sendiri adalah anak dari jenis lalat Black Soldier Fly yang berwarna hitam dan konon katanya berprotein tinggi.  



Sekitar jam 9, kita berangkat ke Cimahi dan bertemu dengan salah satu pengurus yang bernama Pak Mus.  Sebelum kami melihat pembudidayaan maggot, kami dijelaskan terlebih dahulu apa itu maggot, apa latar belakang masyarakat disana membudidayakan maggot dan sebagainya. Awalnya masyarakat di daerah sana sangat tidak peduli dengan sampah, mereka membuang sampah sembarangan dan masih menyatukan sampahnya, antara yang organik dan anorganik, tapi sejak 2017, beberapa orang bersama dengan YPBB memulai Gerakan Zero Waste yang sampai sekarang masih dilaksanakan.  Ternyata Gerakan tersebut berhasil dilakukan sehingga wilayah tersebut (RW 17) mendapatkan cukup banyak penghargaan dari pemerintah perihal pengelolaan sampah.  




Bebek peliharaan yang diberi makan maggot
Setelah selesai dijelaskan, kami langsung  berjalan ke tempat pembudidayaan maggot.  Perjalanan memakan waktu sekitar 5 menit.  Saat masuk, ternyata disana tidak hanya ada pembudidayaan maggot, tapi ada pembudidayaan lalatnya juga. Selain itu di sana ada pembudidayaan ayam serta bebek. Ternyata maggot yang digunakan untuk memakan sampah organik dijadikan pakan ayam dan bebek juga karena sifatnya yang tinggi protein.  Menurutku ini menarik karena aku dengar penjelasan dari Pak Mus, di masa depan protein (seperti ayam, sapi dan kambing) bisa saja digantikan dengan maggot.  Walaupun aku tidak bisa membayangkan, akan seperti apa nanti jika aku harus mengkonsumsi makanan berbahan dasar maggot di masa depan.  😊



Cara membudidayakan maggot sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi langkah awal yang harus dilakukan adalah menemukan lalat dengan jenis yang tepat terlebih dahulu.  Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membudidayakan lalat tersebut.  Di Cimahi sendiri kandang lalat terbuat dari jaring yang tidak lupa diberikan atap.  Dalam waktu yang cukup singkat, lalat tersebut sudah bisa berkembang biak.  Selanjutnya, larva lalat tersebut akan dikeluarkan dari kandang dan dipindahkan ke tempat  dimana ada banyak sekali sampah organik, mulai dari sisa sayuran, daun-daun kering sampai bangkai ayam.  Anehnya sampah-sampah tersebut tidak sebau kalau kita temukan di jalan.  Ya walaupun masih tetap ada baunya, tapi tidak menyengat. 




Disana terlihat maggot makan dan bertumbuh sangat cepat.  Katanya maggot ini bisa mengolah sampah organik dengan cepat dan banyak.  Itulah sebabnya, maggot itu gemuk-gemuk sekali.  Selain itu karena karakternya yang bisa dengan cepat menguraikan sampah organik, maggot juga banyak dicari orang.  Usia maggot tidak terlalu lama, setelah masa perkembangbiakannya usai biasanya mereka akan mati.  



Maggot yang sedang dikembangbiakan
Pak RW menjelaskan kalau maggot akan lebih cepat menguraikan sampah kalau yang diberikan adalah sisa sampah dapur.  Disana aku sempat melihat ada 1 sampah daun yang sepertinya sudah cukup lama dimasukkan ke tempat maggot berkembang biak dan bentuknya masih utuh, tidak banyak berubah, sedangakn sampah dapur seperti sisa potongan sayur sudah banyak yang hancur. 
Setelah melihat pembudidayaan maggot, kita dijelaskan tentang pembudidayaan ayam, bebek dan beberapa tanaman.  DIsana mereka sudah menghasilkan telur ayam dan telur bebek sendiri yang bisa dibilang telur organik.  Untuk makan bebeknya, mereka menyediakan satu tempat (seperti genangan air).  Disana biasanya bebek makan dan berenang.  Untuk memanfaatkan lahan, mereka menggunakan tempat tersebut untuk menanam kangkung juga.  Menurutku ini menarik karena aku baru pertama kali melihat dengan mata sendiri tentang sistem kombinasi (budidaya maggot, budidaya bebek dan ayam dalam satu tempat yang sama) 




Hal menarik lain yang aku dapatkan selama berkegiatan disana adalah tentang maggot karena aku baru tahu maggot saat berkunjung kesana.  Ternyata budidayanya juga tidak terlalu sulit, tapi manfaat maggot untuk manusia sangatlah banyak.   Selain itu aku juga cukup tertarik dengan masyarakat disana, karena ternyata cukup banyak masyarakat di Bandung yang sudah peduli dengan bahayanya sampah, karena selama ini aku sering malihatnya manusia yang tidai peduli dengan sampah, dengan buang sampah sembarangan, menggunakan plastik sekali pakai dan sebagainya.  Aku harap seiring berjalannya waktu, semakin banyak masyarakat yang sadar bahayanya sampah dan mau untuk mengurangi dan memilah sampahnya untuk masa depan yang lebih baik. 




Dari kegiatan ini, aku terinspirasi untuk menerapkan sistem kombinasi (dengan budidaya maggot) juga di Semi Palar, karena sepertinya akan menarik sekali apabila sistem ini diterapkan di Semi Palar.  Selain untuk membantu sistem sampah, bisa juga jadi bahan edukasi untuk murid-murid yang lebih kecil.  Selain budidayanya yang gampang, ternyata ada cukup banyak manfaat maggot selain untuk menguraikan sampah organik.  Selain itu aku juga terinspirasi untuk lebih peduli lagi dan lebih keras perihal sampah.  Contohnya melawan rasa malas untuk memisahkan sampah organic, anorganik untuk ecobrick maupun sampah anorganik biasa, karena orang-orang diluar sana juga bisa melakukan, kenapa aku tidak bisa.  Terakhir inspirasi yang aku dapatkan adalah untuk menerapkan maggot di Bandung, dimulai dari rumah dan sekolah, karena menurutku ini cukup efektif untuk mengurangi sampah organik.  Budidaya yang gampang dan sifatnya yang lebih efektif dan cepat menjadi factor pertimbangan penting.  


10.23.2019

Melakukan Door To Door Education Di Cimahi?? Seru Gak Ya??

Hari ini, KPB kelas 10 berkegiatan bersama YPBB, salah satu komunitas peduli sampah di Bandung.  Sekitar jam 9, kami bertemu di depan Kantor Kelurahan Cibeureum dan bertemu dengan anggota YPBB dan beberapa kader. Rencananya hari ini kami akan melakukan DTDE (door to door education).  DTDE sendiri sudah dilakukan oleh YPBB sejak lama.  Kali ini kami berkesempatan untuk mencoba melakukannya di Cimahi.  Tema DTDE ini adalah bagaimana masyarakat mengelola dan memilah sampahnya. 

Setelah semuanya berkumpul, kita dibagi menjadi 2 kelompok.  Aku bersama Marius, sedangkan Abrar dengan Kak Jeremy. Kebetulan kelas kami hari ini banyak yang tidak masuk, jadi orangnya hanya sedikit.  Setelah dibagi kelompok, kami langsung berkumpul dengan kadernya masing-masing.  Kebetulan aku akan melakukan DTDE di RT 5.  


Kami berkumpul dan melakukan briefing awal




Aku mencoba menjelaskan mengenai pemilahan sampah
Prosesnya menurutku menarik, karena kita banyak berinteraksi dengan orang lain.  Aku sendiri suka kalau ada kegiatan mengedukasi dengan orang yang tidak aku kenal sebelumnya, karena menurutku ini lebih menantang dan seru.  Pertama-tama kita akan mengetuk pintu rumah setiap warga, kemudian melakukan perkenalan dan menjelaskan tujuan.  Setelah mereka mengerti, baru kita akan menjelaskan mengenai pemilahan sampahnya.  


Perasaanku melakukan kegiatan ini adalah senang, karena bisa belajar banyak hal baru.  Belajar menerima reaksi orang-orang yang berbeda-beda saat kita datang dan belajar menghadapi orang yang beragam.  Walaupun panas, tapi entah kenapa hari ini rasanya aku tidak lelah sama sekali.  Kami berkeliling ke rumah warga ditemani dengan ibu kader, beberapa anggota YPBB dan beberapa penggiat di desa tersebut.  Yang membuat tambah seru menurutku karena ibu-ibunya terbuka dan ramah sekali denganku, kami banyak mengobrol dan bercanda bersama, jadi perjalanannya terasa singkat.  

3 hal yang menurutku sudah bagus dari kegiatan ini adalah pertama bagaimana ibu kader dan anggota YPBB mempresentasikan atau menjelaskan mengenai pemilahan sampahnya, karena tadi tidak ada orang yang menolak melakukan hal tersebut.  Menurutku ini bagus, bagaimana mereka bisa menyusun kalimat mengajak yang sesuai dan menggunakan bahasa yang cocok.  Kedua, tujuannya, karena kalau dibahas lebih dalam, tujuannya cukup banyak dan kompleks, tapi bagaimana mereka meringkasnya menjadi singkat agar masyarakat bisa lebih mudah mengerti dan mau melakukannya.  Terakhir, yang menurutku sudah bagus adalah caranya karena unik.  Selama ini tidak pernah terpikirkan olehku untuk melakukan door to door education, dengan mengetuk rumah satu persatu, tapi ternyata ada loh orang diluar sana yang melakukannya.  

3 hal yang menurutku bisa diperbaiki adalah bagaimana melakukan edukasinya, karena terkadang karena terlalu banyak orang, pemilik rumah jadi malas atau takut keluar.  Mungkin mereka berpikir ada sesuatu sampai rumahnya didatangi banyak orang,  Mungkin selanjutnya bisa dibagi saja, jangan terlalu banyak yang datang ke 1 rumah, agar pemilik rumah tidak merasa terintrogasi.  Kedua yang bisa diperbaiki adalah media yang digunakan karena menurutku dengan pakai kertas dan stiker kurang efektif dan malah menghasilkan sampah.  Masyarakat yang diberikan poster juga belum tentu menyimpan atau mengingat posternya karena hanya selebaran.  Takutnya karena edukasi belum terlalu masuk ke masyarakat, setelah DTDE selesai mereka tidak peduli dan malah membuang poster yang diberikan.  Terakhir yang bisa diperbaiki adalah mindset orang yang melakukan. Terkadang mereka yang memberikan edukasi,  malah menghasilkan sampah didepan orang yang sedang diedukasi, karena itu kan sama saja tidak mengedukasi dengan baik.  

Kami setelah selesai melakukan DTDE

10.18.2019

Grogak

15 September 2019, aku dan keluargaku pergi ke Grogak, tempat yang menjadi tujuan utama kami ke Singaraja.  Perjalanan dari rumah nenekku ke Grogak memakan waktu kurang lebih 1 jam.  Di perjalanan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah dimana di sisi sebelah kiri sawah-sawah terhampar luas dan disisi kanannya ada laut yang sangat luas.  Indah sekali… ditambah lagi cuacanya sedang cerah jadi indah sekalii..
Pemandangan Selama di Perjalanan




Tanpa terasa kami hampir sampai di lokasi.  Tepat di depan Polsek Grogak ada jalan kecil dan disanalah mobil kami belok.  Jalan masuk ke kebun di Grogak terbilang kecil jadi harus pelan-pelan sekali karena di sebelahnya ada banyak sekali tanaman berduri. Tak lama, kami pun masuk ke lahan milik penjaga kebun kami, bernama Ibu Wayan Kapuk.  Beliau beserta suaminya merupakan penjaga kebun yang sudah menjaga kebun sejak awal.  Di lahan miliknya ada 2 babi yang gemuk-gemuk yang sedang bersantai di bawah kumpulan pohon pisang.  
 









Begitu kami turun dari mobil, aku langsung mengambil kamera dan memotret babi-babi tersebut.  Ini merupakan pertama kalinya aku melihat dari dekat babi berwarna hitam, biasanya hanya melihat dari foto atau TV, itupun babinya yang berwarna pink. Lalu, kami masuk dan bertemu dengan penjaga kebun.  Rumahnya masih sederhana dan didepan rumahnya ada pohon rindang dengan kursi di bawahnya, sehingga kita bisa duduk santai di bawahnya.


Di sebelah tempat duduk ada saung kecil dengan 4 kandang ayam diatasnya.  Saat aku melihat saung tersebut ada seekor ayam yang sedang mengerami telur.  Menurutku ini menarik, karena baru pertama kali melihat ayam yang sedang mengerami telurnya dari dekat.  Di dekat situ, ada sebuah sumur besar dan WC.  Sumurnya juga masih terbuat dari batu.
 



Ayam sedang mencari makan



Ayam yang sedang mengerami telur





Disana semuanya masih asri.  Udaranya bersih, banyak tanaman hijau dan alami.  Ayam-ayam yang ada disana tidak ada yang diberi kandang, babinya juga dibiarkan bebas berkeliaran di kebun.  

 
Tak lama, anak pemilik kebun itu keluar dari rumah dengan mambawa teh manis hangat.  Kami mengobrol cukup lama.  Kami juga mengenalkan kepada mereka tentang ecobrick, karena kebetulan disana, cukup banyak sampah plastik yang bertebaran dan botol-botol plastik bekas yang sudah dikumpulkan. 

 

Setelah itu anak pemilik kebun mengajakku melihat-lihat lingkungan sekitar.  Aku melihat ada 1 lagi kandang babi dan ada anak-anak babi yang sudah lumayan besar yang dilepas di kebun. Aku mencoba memegang babinya dan ternyata bulunya tajam dan kasar.  Awalnya aku pikir babi itu akan menyerang tapi ternyata mereka ramah sekali. 



Ada beberapa ayam yang berjalan-jalan sekitar rumah.  Ternyata lahannya cukup besar dan disana ada juga pohon mangga  yang ada tangganya, jadi kita bisa memanjat pohon tersebut.  








 

Tak jauh dari pohon mangga itu, ada 2 ekor sapi yang sedang makan.  Sapi yang satu melihatku terus saat aku ingin mengambil foto.  Mungkin dia sadar kamera hahahahaha.  Setelah mengambil foto, aku memberikan rumput ke sapi-sapi itu dan mereka mau memakannya dengan lahap.  Bahkan ada 1 sapi yang sempat menjilat tanganku.   


Saat itu cuaca cukup panas, jadi cukup melelahkan rasanya berjalan mengelilingi lahan tersebut.  Tapi menurutku itu menyenangkan karena menjadi pengalaman baru untukku.  Setelah itu, kami pergi ke lahan nenekku yang tak jauh dari sana.  Dimobil, penjaga kebun, Ibu Wayan Kapuk banyak bercerita dengan kami.  Walaupun ia bercerita dengan Bahasa bali, tapi untungnya aku cukup mengerti dengan apa yang ia bicarakan.  

Ternyata kebun nenekku letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Ibu Wayan Kapuk.  Berbagai jenis tanaman tumbuh disana, mulai dari singkong, pohon sawo, pohon kelapa, pohon pisang, pohon jeruk sampai pohon jambu.  Ternyata disana juga ada banyak sapi berwarna coklat yang sedang makan.  Ibu Wayan langsung menuju ke pohon pisang dan memetik pisang, mengambil daun dan dahan pisangnya. 



 Sebagai penganut agama Hindu, nenekku setiap harinya memerlukan daun pisang dan janur untuk membuat sesajen.  Setiap bulan purnama dan tilem (bulan mati) orang Hindu akan melakukan sembayang di pura.  Untuk itu diperlukan juga janur (busung dalam bahasa Bali), bunga dan buah-buahan terutama pisang. Oleh sebab itu, nenekku bisa dibilang sering mengambil bahan-bahan untuk sembayang dari kebun. Kali ini, yang dibawa dari kebun adalah daun pisang dan buahnya, janur dan singkong. MObil seketika saja langsung penuh.  


Aku sendiri juga mendatangi sapi-sapi yang tadi sedang makan.  Dan ternyata diantara sapi-sapi yang besar ada seekor anak sapi.   Lalu aku melihat, Pak Putu (suami Bu Wayan) memotong daun pisang yang masih muda untuk diberikan ke sapi.  Seketika akupun ingin ikut membantu. Pantas saja dari tadi aku memberi sapinya rumput ia tidak mau makan, tapi saat bapak penjaga kebun memberikan daun pisang, mereka langsung makan dengan lahap.  Yang menjadi makanan sehari-hari sapi-sapi tersebut adalah pohon pisang, mulai dari batang, daun sampi jantung pisang. 




Foto Anak Sapi



Aku mencoba mengambil air dari sumur
Setelah itu, aku kembali menjelajah kebun.  Tak jauh dari tempat sapi, ada ruangan kecil untuk berteduh dan disebelahnya ada sumur dari batu. Karena belum pernah menimba air dari sumur, aku pun iseng mencoba.  Ternyata menimba air dari sumur tidak semudah yang aku bayangkan.  Ternyata cukup sulit untuk memasukkan air ke dalam embernya dan saat ditarik, berat sekali.  Setelah berhasil menaikkan air, aku membasuh kaki dan tangan.  Airnya dingin sekali dan jernih.  



Diseberang sumur, ada tungku kecil untuk masak air atau membakar ikan. Tungkunya dari batu dan dibawahnya ada kayu bekas bakaran. 

 
Tungku Api


 Setelah puas melihat dan mengambil foto di kebun, aku kembali mengobrol dengan bapak penjaga kebunnya. Dari pembicaraan tersebut, aku mengetahui kalau tidak jauh dari sini ada penangkaran ikan dan disebelahnya adalah pantai.  Mendengar kata pantai, tubuh yang tadinya terasa lelah langsung segar kembali.  Otomatis aku langsung bertanya “Kemana pak arahnya? Jauh ga?” setelah beliau menjelaskan, tanpa menunggu lama, aku langsung berjalan ke pantai.  


Karena panas matahari yang menyengat, perjalanan terasa jauh sekali.  Saat sudah dekat, terlihat laut biru dengan ombak yang berdebur-debur.  Aku berlari dan langsung terkejut dengan pantai yang ada didepan mata.  Disamping-sampingnya ada banyak kapal nelayan dan ada pasir hitam dan batu-batu bertebaran.  Biasanya pantai di bagian utara bali, pasirnya hitam dan lebih banyak batu besarnya. Jadi tidak seasyik ketika bermain di pantai bagian selatan Bali.  Aku langsung turun dan membasahi kakiku dengan air laut. Senang sekali rasanya, setelah panas-panasan di kebun, membasuh kaki dan tangan di pantai. 








10.13.2019

Boardgame

Rabu, 9 Oktober 2019, aku dan teman-teman KPB kelas 10 melakukan riset untuk proyek boardgame kami.  Untuk itu kami pergi ke DOTS, salah satu cafe boardgame terkenal di Bandung.  Letaknya berada di Ruko Paskal Hyper Square blok F41 - F42.  Karena cafe ini baru buka jam 11.00 WIB, aku dan teman-teman baru masuk jam 11 dan menentukan titik kumpul langsung di cafenya.  
Saat masuk, kita langsung ke kasir untuk bayar tiket dan mendapatkan cap, sebagai tanda kalau kita sudah membayar dan bisa bermain boardgame sepuasnya disana.  Kita hanya boleh membawa 2 boardgame dulu ke meja, dan kalau sudah selesai baru boleh ambil boardgame yang lain. Awalnya, aku dan teman-teman memilih boardgame "Shadow Hunter" dan "Avalon".  


Shadow Hunter adalah boardgame tentang cara bertahan hidup di sebuah hutan.  Didalam game ini ada 3 tokoh, yaitu Shadow, Hunter dan Neutral.  Di game ini, Hunter harus membunuh semua Shadow, Shadow harus membunuh semua Hunter dan Neutral harus bertahan hidup sampai akhir game.  Di game ini, kita dibagi kartu tokoh secara acak, sehingga kita tidak tahu mana yang merupakan teman kelompok dan mana yang merupakan musuh.  Seharusnya game ini selesai setelah 1 jam permainan, tapi saat kami bermain, kami baru bisa menyelesaikannya setelah 2 jam bermain. 

Menurutku 3 hal menarik dari boardgame ini adalah bisa terjadi pertarungan sengit sesama kelompok, karena kita tidak akan tahu mana yang merupakan kelompok dan mana yang bukan.  Yang membuat tambah seru, terkadang kita malah membunuh teman sendiri, yang akhirnya membuat kita tidak lagi kuat melawan lawan. Kedua di game ini ada banyak cara menang, sehingga lebih fleksibel dan seru.  Terakhir, alur cerita di game ini unik dan rumit sehingga sangat berkesan untukku. 


Selanjutnya, boardgame Avalon.  Avalon sendiri adalah boardgame tentang kekuatan baik dan jahat dalam pertempuran untuk mengendalikan masa depan.  Di game ini ada banyak tokoh, ada yang baik dan ada yang jahat. Lagi-lagi kartu tokoh dikocok dan kita tidak semuanya mengetahui mana yang merupakan kelompok kita.  Nanti setelah kita dibagikan kartu tokoh, kita harus menyelesaikan beberapa misi.  Menurutku ini menarik karena kita harus menyelesaikan misi yang kemungkinan saja kita bekerjasama dengan orang yang seharusnya menjadi lawan.  


3 hal menarik dari boardgame ini menurutku adalah karena ada bagian tutup matanya (untuk mengetahui teman kelompok beberapa).  Menurutku ini menarik karena aku belum pernah enemukan boardgame seperti itu.  Kedua, yang menarik adalah cara kita berpikir dan brbicara akan sangat terbaca di boardgame ini dan ini mengajarkan cukup banyak hal menurutku, bahwa kita bisa saja membaca cara bicara dan cara berpikir orang dan itu bisa mempengaruhi sudut pandang kita.  Selain itu, digame ini banyak menggunakan feeling, jadinya lebih seru dan sengit permainannya.  Terakhir, karena setiap kartu memiliki kekuatan sendiri, jadinya lebih menarik dan karena ada kelompok, melatih kerjasama juga dan kepercayaan.  


3 hal yang bisa diperbaiki pertama adalah cara menang, karena di game ini tim merah bisa menangdengan 2 cara, sedangkan tim biru hanya bisa menang dengan 1 cara.  Kedua, di bagian menutup mata apakah tidak ada kemungkinan untuk licik? Bagaimana mereka bisa mengantisipasinya? Dan game ini juga mengajarkan untuk bohong sih, jadi kurang recomended untuk anak kecil.  Terakhir adalah cara membuat durasi permainan lebih panjang, karena kalau lebih lama akan lebih seru gamenya.  


Setelah menyelesaikan 2 boardgame tersebut, kita diminta untuk memilih boardgame lain, dan kami dipilihkan game bernama "You've Got Crabs".  Di permainan ini, kita dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya beranggotakan 2 orang.  Kita tidak boleh duduk berdekatan dengan teman sekelompok.  diawal permainan, kita akan dibagikan 4 kartu dan 2 buah pion berbentuk kepiting.  Tugas kita adalah mengumpulkan 4 kartu yang sama dan mengumpulkan pion kepiting yang banyak.  Nanti kita akan diberikan kesempatan untuk menukarkan kartu yang ada di tangan kita dengan kartu ditengah agar 4 kartu yang ada ditangan kita sama semua.  Setelah berhasil mengumpulkan kartu, kita harus memberitahu teman kita (yang duduknya berjauhan) bahwa kita sudah selesai mengumpulkan kartunya.  Nanti teman kita akan berteriak "CRABS!" dan nanti kita akan mendapatkan pion kepiting lainnya.  Tapi kode yang kita berikan tidak boleh didiskusikan sebelumnya jadi seru banget sih menurutku, permainannya jadi tambah sengit. 


3 hal menarik dari boardgame tersebut adalah pertarungannya saat mau memberi tahu teman kalau kartu kita sudah terkumpul semua karena bisa saja lawan melihat dan malah lawan yang menang.  Kedua ada kemungkinan lawan tahu kartu apa yang kita kumpulkan dan jumlahnya ada berapa, jadi selain mengandalkan kecepatan, mengandalkan pikiran dan ingatan juga.  Terakhir design kitaknya menarik, seperti sebuah laci jadinya menambah daya tarik boardgamenya.  Sedangkan 3 hal yang bisa diperbaiki adalah jumlah crabnya yang lebih banyak, karena kemarin main berdelapan crabnya habis.  Kedua mungkin saat mau tukar kartu bisa diberi waktu jadi ga terlalu lama atau terlalu cepat.  Dan menurutku dngan begitu akan jadi lebih menantang. Terakhir adalah tambahkan lagi challenge agar lebih menarik.  

Sekian review 3 boardgame yang kemarin aku mainkan.  Semoga bisa menambah referensi teman-teman:))

9.28.2019

Kuliner Menarik di Singaraja #2

Di sekitar Universitas Pendidikan Ganesha  di Singaraja setiap malamnya ada banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam makanan.  Setelah melihat-lihat, aku memutuskan untuk makan di pedagang nasi tempong.  Apa itu nasi tempong? Nasi tempong adalah makanan yang berisi nasi, ketimun dan selada sebagai sayur dan ayam (bisa bakar atau goreng) yang disiram dengan sambal.


Nasi Tempong yang disiram sambal
Nasi tempong tidak pedas
Tanpa berpikir lama, aku dan keluargaku langsung memesan 4 porsi nasi tempong.  Yang membuat kami lebih tercengang adalah harga seporsi nasi tempongnya, yang hanya 8.000 rupiah. Menarik bukan?! Kami juga tidak menunggu terlalu lama, karena tidak sampai 5 menit, pesanan kami sudah datang dengan asap mengepul dari atas nasi dan ayam.  Selain mendapatkan seporsi nasi tempong, kita juga mendapat segelas teh manis hangat. Karena disini tidak disediakan sendok garpu. 



Pemilik nasi tempong ini juga ramah sekali kepada kami, saat kami datang dan bertanya apa itu nasi tempong ia menjelaskan dengan  sabar dan tersenyum, walaupun disana sedang ramai saat itu.  Sambil menunggu pesanan, kami juga sempat mengobrol dengan pemilik warung yang sekaligus menjadi penjaga kasir.


Rasa nasi tempong sendiri menurutku enak sekali, karena perpaduan rasa manis,asin dan pedasnya pas.  Porsinya juga banyak jadi untuk membayar seharga 8.000 aku merasa untung sekali.  Setelah makan, kami membayar dan menyempatkan waktu untuk mengobrol lagi dengan pedagangnya.  Ia bertanya kami dari mana dan mengingatkan kami untuk datang lagi di lain waktu. Setelah itu kami berjalan kembali ke mobil. 


Di perjalanan kembali ke mobil, aku melihat ada pedagang martabak dengan harga yang cukup murah.  Untuk di Singaraja, mungkin harganya terhitung mahal, tapi untuk aku yang orang Bandung, menurutku itu termasuk murah.  Dengan harga 15.000 sudah dapat martabak (yang disini disebut terang bulan) dengan ukuran besar dan isian yang cukup banyak.  Aku memesan martabak double keju dan harganya hanya 15.000.  Di Bandung mana dapat martabak double keju dengan harga 15.000??? Setelah martabaknya jadi, penjual langsung memarutkan keju yang banyak diatasnya dan memberikan susu kental manis yang banyak.  Setelah itu ia memotongnya dan memasukkannya ke dalam dus. Tekstur martabaknya enak, tidak terlalu kenyal maupun terlalu keras, tapi pas.  Rasanya juga pas manisnya dan setelah ditambah keju, rasanya jadi tambah enak.  

Martabak manis dan martabak telur
Disebelah tukang martabak, ada penjual nasi goreng.  Karena dalam rangka riset,kami memutuskan untuk mencoba juga nasi gorengnya.  Nasi goreng ini dijual mulai dari harga 10.000-15.000.  Karena ingin tahu, kami memesan nasi goreng yang 15.000.  15.000 ini sudah mendapatkan nasi dengan porsi jumbo, ayam, telur, sosis dan sayur.  Murah bukan??  Sambil menunggu nasi goreng, kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi disekitar sana dan melihat-lihat lagi, apakah ada pedagang kaki lima lain yang menarik.  TIdak jauh dari sana, ada beberapa pedagang lain, seperti pedagang bubur ketan item, kacang ijo, angsle dan es campur.


Hasil gambar untuk tipat cantok
Tipat Cantok


  Untuk makan beratnya, selain nasi tempong, nasi campur, syobak dan blayag, ada juga yang namanya tipat cantok.  Tipat cantok itu mirip dengan kupat tahu kalau di Bandung. Bumbu kacang yang digunakanpun dibuat sendiri oleh nenekku, beliau ngulek kacangnya sendiri dari kacang yang disangrai sendiri.  




 
Laklak dan klepon dengan kelapa

Untuk cemilan, selain terang bulan ada juga laklak, cemilan khas Singaraja.  Laklak itu kue yang menyerupai surabi tapi berukuran lebih kecil dan berwarna hijau dengan topping kelapa parut dan gula merah.  Harganya bisa kita request dan kemarin aku membeli seharga 3000 dan mendapat 4 buah laklak ,3 buah klepon dengan ketan dan kelapa yang banyak.  Ada juga kue-kue basah yang harganya pas di kantong, hanya Rp.1000/pcs.  . Pilihannya banyak, mulai dari onde, clorot, pie susu sampai berbagai macam gorengan.  
Berbagai kue basah




Didaerah Kampung Tinggi, Singaraja, aku menemukan sebuah toko roti yang sudah lama berdiri disana.  Namanya Toko Roti Go.  Pemiliknya ramah sekali jadi tadi kami sempat mengobrol sebentar.  Ternyata toko roti ini sudah ada sejak 1950.  Ada banyak pilihan roti dengan café kecil disebelahnya.  Saat ini aku hanya membeli roti-roti yang direkomendasikan, yaitu roti tawar dan roti menteganya.  Harganya hanya 10.000/pcs dan ukuran rotinya cukup besar.  Setelah selesai mengobrol dan membayar, kami pamit dan berjalan lagi. 




Di perjalanan pulang, kita melihat tempat jualan nasi campur dan syobak yang lain yaitu Syobak Aye.  Berbeda dengan yang aku makan kemarin.  Karena penasaran, aku pun masuk ke toko itu dan menanyakan harganya.  Ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan yang kemarin.  Nasi campurnya hanya 20.000 per porsi dan syobaknya bisa pilih mau yang 20.000 atau 25.000.  Karena mau mencari yang murah, kami memutuskan untuk membeli yang 20.000.  Rasanya enak dan sebungkusnya besar sekali porsinya, lauk pauknya juga lengkap. Selain nasi campur Aye, ada juga nasi campur Sukadana yang letaknya berdekatan.  


Lumpia goreng dengan saus
Saat kami kembali ke rumah (sekitar sore hari), aku melihat ada pedagang lumpia kering.  Katanya tanteku dulu suka membeli lumpia ini dan katanya rasanya enak sekali. Karena penasaran, aku memutuskan untuk membeli lumpianya.  Harga perbuahnya hanya 1000 rupiah.  Murah bangettt.  Selain menjual lumpia, pedagang itu juga menjual Rambanan salah satu makanan khas juga yang menggunakan ketupat.  Rambanan ini juga cukup mirip dengan blayag yang waktu itu dibeli di pasar.  Pedagangnya ramah juga, jadi saat membeli kami banyak mengobrol dengan pedagangnya.  Ia juga memberikan saos yang banyak untuk lumpianya.  Saat tiba di rumah kami langsung mencoba dan memakan lumpianya.  Ternyata saosnya pedas tapi rasanya enakkk sekalii.  Saosnya terbuat dari tauco dan kecap tapi rasanya nikmat sekali.  Dengan harga 1000 menurutku ini sudah mewah sekali.   


Keesokan harinya aku iseng mencoba makanan di tempat makan yang sudah cukup terkenal di Singaraja, yaitu Warung Nasi Jokwi.  Katanya rasa makanannya enak dan harganya juga murah.  Saat masuk aku menanyakan harga satu porsinya, ternyata hanya 15.000. Didalam satu porsinya sudah dapat sepotong ayam goreng, setengah telor rebus, berbagai olahan ayam, bayam yang direbus dan nasi yang banyak sekali.  Tak lupa ia juga memberikan sekantong kuah rawon sebagai teman makan. 

Sekian review berbagai makanan yang ada di Singaraja, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca.  Bagi yang memiliki pertanyaan atau masukan bisa langsung comment saja di bawah yaaa:))