10.10.2018

Resensi Buku Douwes Dekker

Judul Buku: Douwes Dekker "Sang Inspirator Revolusi"
Pengarang: Seri Buku Tempo
Penerbit: Tempo dan KPG
Jumlah halaman: kurang lebih 168 halaman
Tahun terbit: 2012
Bahasa: Bahasa Indonesia 
Jenis cover: Soft Cover
Kategori: Sejarah
Seri: Seri Buku Tempo Bapak Bangsa



Sinopsis:
Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Douwes Dekker, mulai dari masa kecilnya, kisah percintaannya sampai perjuangannya yang sangat berpengaruh terhadap revolusi Indonesia. Di dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangatnya lebih menggelora ketimbang penduduk bumiputra. Ia, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau nama Jawanya adalah Danudirja Setiabudi, orang pertama yang mendirikan partai politik Indonesia. Meski bukan penduduk Indonesia tulen, ke mana-mana Ernest Douwes Dekker selalu mengaku sebagai orang Jawa.Ia mendedikasikan seluruh hidupnya demi kemerdekaan Indonesia. Sebagai penggerak revolusi, gagasan Ernest melampui zamannya. Konsep nasionalismenya mempunyai andil saat Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Tapi ia hidup di pembuangan ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, Ernest Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Di situ pun tiga serangkai ini getol menyuarakan perjuangan Indische Partij. Berdarah campuran Eropa-Jawa, Ernest Douwes Dekker tumbuh di Pasuruan, kota kecil di pesisir utara Jawa Timur. Jiwa pemberontak pria yang masih memiliki hubungan darah dengan pengarang Max Havelaar, Eduard Douwes Dekker, ini mengental saat bekerja di dua perkebunan di kawasan rumahnya.


Kelebihan: Buku ini memiliki kisah yang sangat menarik, yang dikemas dengan bahasa baku dan mudah dimengerti.  Walaupun terkadang ada beberapa kata yang sulit dimengerti, tapi secara keseluruhan buku ini berisi kisah sejarah yang bermanfaat dan menarik.  Buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar kuno tentang perjalanan hidup Douwes Dekker.  Disini kisah hidup Douwes Dekker dikupas sangat dalam, sehingga setelah kita membacanya, kita langsung tahu banyak tentang kisah hidup Douwes Dekker. 


Kekurangan: Mungkin kalau buku ini diganti covernya menjadi hard cover akan lebih menarik dan bernilai jual tinggi.  Selain itu, untuk saran mungkin gambar bisa diubah menjadi lebih menarik, soalnya ada beberapa gambar yang tidak atau kurang jelas, karena backgroundnya yang berwarna hitam.  



Hasil gambar untuk buku douwes dekker tempo


Sekian dari saya, semoga resensi buku ini bisa bermanfaat...
Terima kasih :)

9.07.2018

Ekspedisi Kampung Adat #1


Hari Rabu kemarin, tepatnya tanggal 5 September 2018, kami kelas 9 melakukan perjalanan pertama, yaitu perjalanan ke Kampung Cireundeu.  Kampung Cireundeu merupakan salah satu kampung adat yang terletak di Cimahi.  Konon katanya Kampung Cireundeu ini memiliki banyak budaya yang menarik untuk digali, salah satunya tentang rasi.  Apa itu rasi? Pasti kalian semua bertanya-tanya.  Nah untuk mengetahui lebih lanjut tentang rasi dan Kampung Cireundeu, lanjutkan bacanya yaaa😊
Kami sekelas berangkat ke Kampung Cireundeu pada pukul 07.30.   Kami menaiki beberapa angkot untuk bisa tiba di Kampung Cireundeu.  Kami akhirnya tiba pukul 9 pagi.  Setibanya disana, kami harus berjalan lagi cukup jauh untuk tiba di rumah yang kami tuju.  Disana kami bertemu dengan narasumber yaitu Kang Tri.  Tanpa menunggu lama, kami langsung memulai acara.  Disini Kang Tri banyak membagikan informasi tentang Kampung Cireundeu pada kami.  Kami juga banyak bertanya pada beliau, jadi kegiatan ini seperti kegiatan diskusi. 
Setelah kegiatan diskusi, kami diajak Kang Tri untuk mendaki salah satu gunung yang ada di kampung, yaitu gunung Puncak Salam.  Ada hal unik yang kami lakukan saat mendaki gunung, yaitu kami tidak diperbolehkan untuk mendaki menggunakan sepatu.  Jadi kami mendaki gunung tersebut dengan telanjang kaki.  Itu menjadi tantangan tersendiri untukku karena tanah di gunung banyak batu serta banyak daun kasarnya jadi cukup sakit juga saat mendakinya.  Cukup lama kami mendaki, sampai akhirnya kami tiba di puncak.  Disana kami mendengarkan beberapa cerita unik dari Kang Tri.  Saat kami tiba di puncak, terlihat awan sudah mulai mendung dan sepertinya mau hujan. 
Menurutku, mendaki gunung ini adalah pengalaman yang paling unik, menyenangkan dan baru untukku. Sebenarnya mendaki gunung sudah biasa, namun karena telanjang kaki jadinya baru untukku.  Awalnya aku takut untuk mendaki gunung tanpa alas kaki.  Awalnya aku pikir akan ada ular, kodok dan binatang lainnya.  Tapi ternyata baik-baik saja hanya kakiku kotor sekali terkena tanah dan batu.  Menyenangkan!!!
Setelah kami mendaki gunung, kami pun memutuskan untuk turun.  Setelah lama berjalan, akhirnya kami tiba di bawah.  Menurutku, proses turun gunung lebih susah dibandingkan saat naik gunung, karena kami harus menentukan pijakan mana yang pas agar kaki tidak sakit. Setelah tiba di bawah, kami mencuci kaki kemudian makan bekal.  Rasanya tenagaku sudah habis terkuras saat mendaki gunung.  Setelah makan, rasanya tenagaku sudah kembali lagi. 
Setelah itu kami mengikuti workshop membuat rasi.  Rasi sendiri adalah makanan pokok warga di kampung.  Rasi sendiri terbuat dari singkong.  Warga Kampung Cireundeu tidak ada yang makan beras, bahkan saat aku mewawancarai salah satu warga yang berumur  58 tahun ia menyatakan bahwa ia tidak pernah makan beras dan tidak tahu rasanya seperti apa. 
Setelah melakukan serangkaian acara yang melelahkan di Kampung Cireundeu, akhirnya selesai sudah perjalanan kami disana.  Kamipun pamit dengan Kang Tri dan beberapa warga disana.  Kemudian melakukan perjalanan pulang ke sekolah. 
...
Perasaan yang aku rasakan ada banyak sekali.  Semuanya bercampur aduk susah untuk dijelaskan.  Namun secara umum aku merasa senang bisa bertemu dengan orang-orang yang sangat hangat menyambut  dan bisa mendaki gunung.  Pokoknya hari itu merupakan hari yang sangat menyenangkan dan berkesan untukku!! 😊
Nilai yang aku dapatkan dari perjalanan kali ini ada banyak salah satunya adalah bahwa kami bisa mewariskan semuanya yang kita punya, asalkan kita punya komitmen dan memiliki tekad yang kuat.  Dan kita juga bisa kuat kalau kompak dan saling mengerti satu sama lain😊
...
Sekian cerita  perjalanan dan refleksiku saat ekspedisi kampung adat pertama.  Semoga ceritanya bermanfaat bagi kalian😊

9.06.2018

Proyek Diorama Padang Rumput

  Haii semuanya! Di tulisan blogku kali ini, aku akan membuat sebuah cerita tentang proyek pertamaku di kelas 9.  Di kelas 9 ini, proyek pertamanya adalah membuat sebuah maket.  Aku kebetulan dikelompokkan dengan Linus.  
Untuk membuat maket ini, dibutuhkan banyak perjuangan.  Suka dan duka dialami oleh setiap kelompok.  Pada awalnya, aku dan Linus diajak untuk riset tentang bentang alam dan memutuskan secara spesifik nama bentang alam yang akan kami buat maketnya contohnya: GUNUNG=GUNUNG RINJANI.  Aku dan Linus memilih padang rumput.  Setelah riset cukup lama, akhirnya aku dan Linus memutuskan untuk memilih Savana Sumba Timur yang terletak di NTT.  
Setelah riset, aku dan Linus diajak untuk membuat timeline agar yang kami kerjakan bisa terstruktur dan lebih jelas.  Di pembuatan maket ini, sering sekali terjadi kesalahpahaman antara murid dengan kakak.  Tapi bisa kami atasi walaupun sulit.  HEHEHE... 
 Setelah membuat timeline, aku diminta untuk menentukan skala yang akan kami gunakan kemudian menggambarkan rancangan maketnya di kertas berukuran A3.  Kami menyelesaikan rancangan ini dengan waktu yang cukup panjang.  Namun akhirnya bisa kami selesaikan dengan maksimal.  
Karena semua persiapan sudah kami lakukan, aku dan Linus pun mulai membuat maket kami.  Di kelas aku dan Linus adalah kelompok pertama yang mulai membuat maket.  Awalnya aku dan Linus membuat bukit kecil dengan bubur kertas.  Bubur kertas yang kami gunakan untuk membuat gunung ini sangat halus dan bisa dibilang sedikit gagal.  Kenapa bisa dibilang gagal? Karena bubur kertas yang terlalu halus akan menghilangkan tekstur kasar koran yang sebenarnya aku dan Linus inginkan.  Setelah itu aku dan Linus mulai membuat rumah-rumah warga yang jumlahnya tidak terlalu banyak.  Aku membuat rumah tersebut dengan tusuk sate yang di lem dengan lem tembak.  Membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membuat rumah tersebut.  Setelah membuat rumah, aku dan Linus berbagi tugas.  Ada yang mengecat rumahnya, membuat peternakan dan ada yang membuat orang.  
 Setelah semuanya selesai, aku dan Linus melanjutkan membuat bukit karena waktu itu bukitnya belum selesai.  Kami sempat gagal dalam membuat bukit tersebut karena bubur kertas yang terlalu halus atau bubur kertas yang terlalu kasar.  Namun setelah kami melakukan riset lebih lanjut dan bertanya kepada narasumber, akhirnya kami bisa membuat bukit yang bagus dan sesuai dengan harapan kami.  Karena bukit sudah jadi, akhirnya aku dan Linus memutuskan untuk langsung mengecatnya.  Tapi sebelum kami mengecat, aku melapisi bukitnya dengan gipsum terlebih dahulu. 
Setelah bukitnya selesai, aku dan Linus merasa khawatir dan takut karena masih banyak yang harus kami kerjakan, seperti hewan dan pohon sedangkan waktu yang tersisa hanya tinggal sedikit lagi. 
1 minggu terakhir, aku dan Linus fokus mengerjakan proyek.  Kami banyak membagi tugas, karena apabila kami kerjakan bersama tidak akan selesai.  DI minggu terakhir, aku mengerjakan sebagian besar hewan sedangkan Linus mengerjakan pohon.  Setelah semua elemen selesai dengan maksimal, aku dan Linus mulai menempelkannya di tripleks. 
Sebelum menempelkannya di maket, aku dan Linus sempat melapisi alasnya dengan serbuk kayu yang sudah diberi warna hijau.  Jadi rumput yang ada di padang rumput lebih terlihat.  Setelah itu, aku dan Linus mulai menempelkan objek-objeknya, seperti rumah, pohon serta hewannya.  Khusus untuk hewan, sebelum ditempelkan aku celupkan dulu ke cat agar terlihat lebih real.  Setelah semua elemen ditempelkan aku melakukan beberapa finishing agar maket terlihat lebih bagus. 
Berikut ada foto-foto hasil maket padang rumputku... 

Sekian sharingku tentang proses pembuatan maket pertamaku di kelas 9 ini.. Semoga bermanfaat😊


8.12.2018

Resensi Buku The Whole Nine Yards

Judul buku: The Whole Nine Yards
Penulis: Pia Devina
Penerbit: DIVA Press
Jumlah halaman:228 halaman
Tahun terbit: September 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman ( sedikit ) 
Jenis cover: Soft cover
Kategori: Novel
Blurb: Gimana rasanya melihat orang yang sudah lama kamu cintai menjadi kekasih adikmu? 

Aku harap, kamu masang ekspresi kayak sekarang kamu lihat Nala itu buat aku.  Buat aku.  Bukan buat adikku. (Varuni Anandita) 

Bersiaplah untuk jatuh cinta padaku, Varuni Anandita (Benjamin Werner)

Perasaanku untuk kamu Run.  Bukan buat Nala (Edra Maheswara)



Sinopsis: Buku ini bercerita tentang kakak beradik, yaitu Runi dan Nala.  Runi yang sudah berteman dengan Edra selama 10 tahun sadar, bahwa ia sebenarnya menyimpan rasa yang lebih dari sekedar teman pada Edra.  Tak mungkin ia mengutarakan apa isi hatinya juga pada Nala, adiknya. Edra dan Nala memang sudah saling mencintai dari lama. Ternyata, hati memang tidak bisa dibohongi. Semakin lama perasaan Runi untuk Edra semakin berkembang seiring dengan sifatnya Edra yang semakin perhatian. Hingga tiba saatnya, Runi dan Nala harus pindah ke Jerman dan berpisah dengan Edra.  Bagaimana kelanjutan kisah cinta Runi? Apakah Edra sadar, bahwa selama ini Runi menyimpan rasa untuknya? Baca buku ini yaa!

Kelebihan: Buku ini memiliki kisah yang sangat seru untuk dibaca oleh anak remaja. Selain itu kata-kata yang digunakan dalam buku ini mudah dimengerti.  Walaupun menggunakan bahasa Jerman, tapi ada terjemahannya di bagian bawah buku, sehingga tidak membingungkan para pembaca.  Layout didalam buku ini juga unik.  Jangan salah, layout buku bisa mempengaruhi mood baca loh.. Selain itu, buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama.  Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca memang benar-benar di bawa ke dalam perasaan tokoh utamanya, jadi emosi yang ada didalam buku ini sangat terasa.  Tokoh yang dihadirkan dalam buku ini juga sangat menarik.  Walaupun tokohnya tidak terlalu banyak, namun penulis bisa memperlihat karakter setiap tokohnya dengan jelas. 

Kekurangan: Mungkin buku ini akan lebih menarik kalau dicetak dengan hard cover.  Gambar yang  digunakan untuk cover sudah menarik menurutku, jadi kalau pakai hard cover pasti akan lebih banyak menarik perhatian para pembaca.  Menurutku, konflik yang dihadirkan di buku ini masih terlalu ringan.  Mungkin akan lebih seru lagi kalau konfliknya lebih berat. 

Sekian review buku dari saya, semoga bermanfaat :))
Hasil gambar untuk gambar buku the whole nine yards

3.12.2018

Pulang ke Bandung!! #PerjalananCicalengka5


“Menarik juga yaa kisah dibalik kabupaten Cicalengka ini!”seru sakah satu temanku.  “Kalau asal usul nama Cicalengka ini dari mana sih kang?”tanya Karmel.  “Oh kalau namanya mah kalau Ci kan artinya air, kalau Calengka katanya sih nama tanaman, jadi artinya ada tanaman Calengka di sungai, makanya namanya Cicalengka”jawab Kang Irvani.  Kami mengobrol lumayan lama dengan Kang Irvani.  Kami mengobrol di sebuah ruangan kecil yang bisa disebut juga sebagai perpustakaan karena diruangan tersebut ada banyak rak yang dipenuhi oleh buku.  Ia juga memperlihatkan salah satu majalah kuno yang berjudul "Sampoer Merah". Walaupun umurnya sudah tua, namun tulisannya masih terbaca dan ternyata isinya bagus sekali.  Tulisannya masih menggunakan ejaan lama jadi menambah rasa penasaranku juga.  Setelah selesai berdiskusi, kami pun memakan bekal kami, yaitu bekal makan berat.  Selama kami makan, kami membicarakan banyak hal yang menyenangkan, sampai kami lupa dengan perjalanan kami yang sudah sangat melelahkan tadi.  Setelah kami selesai makan, kami pun pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Kang Irvani, kemudian pergi ke stasiun untuk bersiap pulang ke Bandung. 
Kebetulan aku dan kelompokku kebagian jalan pertama.  Walaupun matahari bersinar terik, aku dan kelompokku tetap bersemangat, karena sebentar lagi kami akan kembali ke Bandung.  DI perjalanan, kami mengobrol dan asik berdiskusi tentang perjalanan kali ini.  Tentang suka dan duka serta kesan-kesannya.  Sesampainya di stasiun, aku memberikan uang sebesar Rp.15.000,- kepada Bimo, agar ia membeli tiket.  Setelah ia membeli tiket, kami semua langsung masuk ke dalam kereta, karena sebentar lagi kereta yang akan kami tumpangi akan segera berangkat.  Kereta tersebut berangkat pukul 13.05 dan kami baru masuk ke kereta pukul 13.00. 
Sesampainya di kereta, aku dan teman sekelompokku langsung mencari tempat duduk.  Namun ternyata tidak ada tempat duduk yang kosong.  Aku dan teman sekelompokku akhirnya memutuskan untuk duduk bersama seorang bapak-bapak yang kelihatannya ramah dan tidak mencurigakan. 
Dan Keretapun BERANGKAT!
Di perjalanan pulang, cuacanya sangat tidak mendukung.  Cuaca dikala itu sedang hujan deras disertai angin.  Untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk, akhirnya aku, Bimo dan Chaca mengobrol dan bermain berbagai jenis permainan, mulai dari permainan jari sampai permainan di HP.  Saat pulang, aku tidak setakut saat berangkat tadi, takut kelebihan stasiun dan sebagainya.  Perjalanan pulang dari Cicalengka ini sangat menyenangkan dan sangat berkesan untukku.  Dan kami pun tiba di Bandung! Kami turun di Stasiun Bandung bagian selatan, sedangkan kami semua dijemput di Stasiun Bandung bagian Utara, maka kami pun harus berjalan ditengah derasnya hujan dan kencangnya angin. Pengalaman yang sangat menyenangkan, karena selama ini, di semua perjalanan kami, tidak pernah hujan, selalu panas. 
Sesampainya di Stasiun Bandung bagian utara, kami semua langsung pulang ke rumah masing-masing.  Tidak lupa sebelum pulang kami berdoa bersama dan mengumpulkan surat tugas.  Terima Kasih untuk teman-teman Dolangan, kakak-kakak Dolangan, semua narasumber di Cicalengka atas semua pengalaman dan kisahnya yang menarik dan seru.  Terima kasih juga untuk Chaca dan Bimo yang sudah menjadi teman sekelompokku. Kerja sama tim kita dalam perjalanan ini sangat keren! Kita sudah bisa bekerja sama dengan baik dan sudah bisa kompak.  Semoga di Perjalanan Besar gini juga yaa…

Foto peta Cicalengka:


Sampai bertemu di perjalanan kami yang selanjutnya yaa!!

Makan Es Krim?? Emang boleh?? #PerjalananCicalengka4

Namun karena Linus akan bergabung, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali ke Patung Dewi Sartika untuk menjemput Linus. Dijalan aku sudah bete dan kesal, karena harus kembali kesana, ditambah teriknya sinar matahari yang sangat menyengat membuatku jadi tambah gak mood.  Aku juga kesal karena saat kak Diki memberitahu tidak jelas, sehingga membuat kesalahpahaman yang akibatnya merugikan kelompokku.  Kami pun akhirnya tiba di Patung Dewi Sartika.  Setibanya kami disana, aku tidak melihat ada Linus ataupun Kak DIki.  Karena kami juga sudah lelah, akhirnya kami memutuskan untuk duduk dulu didepan salah satu toko untuk minum.  Kami menunggu cukup lama sekitar 5 menit, namun tidak ada tanda-tanda Linus akan datang. 
Puskesmas Cicalengka

Kami pun berinisiatif untuk menelepon kakak.  Kak Diki mengangkat telepon kami, kemudian kak Diki meminta kami untuk ke puskesmas.  Tanpa menunggu lama, aku dan teman sekelompokku segera pergi menuju ke puskesmas. Namun kami tidak mengetahui dimana lokasi puskesmas.  Udara yang panas ditambah tubuh yang mulai lelah membuat kami patah semangat. Karena kami tidak tahu letak puskesmas dimana, akhirnya aku dan teman sekelompokku memutuskan untuk ke masjid dulu untuk bertanya pada orang disana, dan setelah mengetahui dimana lokasi puskesmas , baru kami akan menjemput Linus. 

Setibanya di puskesmas, aku bertemu Alika, bukan bertemu Linus.  Ternyata Linus tidak jadi bergabung dengan kelompokku, karena nanti takut heboh kalau disatukan dengan Bimo.  Jadi Alika yang digabungkan ke kelompokku sedangkan Linus ke kelompok Karmel.  Aku pun bertanya kenapa kelompok mereka dipisah.  Ternyata Naia jatuh dan kakinya keseleo, tidak memungkinkan baginya untuk berjalan jauh keliling Cicalengka.  Kami pun langsung melanjutkan perjalanan. Awalnya kami akan mencari informasi di puskesmas tersebut, tapi kata Alika orang-orang di puskesmas ini sedang sibuk dan tadi pun mereka sudah berusaha untuk wawancara tapi ditolak. 
Karena harus mendapatkan informasi di bidang kesehatan, akhirnya aku dan kelompokku memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit saja.  Perjalanan ke Rumah Sakit lumayan Panjang.  Kami harus melewati berbagai tanjakan mulai dari yang biasa saja sampai yang terjal.  Walaupun perjalanan menuju ke Rumah Sakit lumayan melelahkan, tapi kami semua kuat, tidak ada yang sakit bahkan saat perjalanan menuju ke Rumah Sakit kami tidak beristirahat sekalipun.  Sungguh fisik yang sangat kuat!
Sesampainya di Rumah Sakit, aku dan teman-teman merasa sangat senang, karena dari luar kelihatannya sepi dan disekitar Rumah Sakit ada pohon-pohon yang rindang sehingga sejuk dan teduh.  Kami pikir kami bisa mendapatkan banyak informasi di Rumah Sakit tersebut, namun ternyata dugaan kami salah.  Sesampainya kami di pintu depan, kami kaget sekali.  Ruang tunggu Rumah Sakit tersebut sangat penuh dengan orang bahkan ada yang berdiri, tidak kebagian tempat duduk.  Karena kami sudah sangat kelelahan, kamipun tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan.  Kami mencari tempat duduk di luar dan beristirahat sejenak.  Beberapa dari kami ada yang mengeluarkan bekalnya dan memakannya.  Setelah beristirahat cukup lama, kami pun berdiskusi, apa tindakan yang setelah ini harus kami ambil.  Setelah lumayan lama berdiskusi, aku dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke destinasi selanjutnya, yaitu terminal. 
Terminal Cicalengka
Perjalanan menuju ke masjid terasa sangat lama, karena badan kami yang sudah benar-benar lelah dan tidak ada angin sama sekali membuat kami tambah tidak bersemangat.  Jalan menuju ke masjid sangat gersang, sangat sedikit pohon yang tumbuh disekitarnya, kalau ada yang tumbuh pun banyak yang ditebang.  Destinasi yang akan kami datangi selanjutnya adalah terminal angkot yang letaknya tidak jauh dari masjid.  DI terminal, mood kami untuk wawancara sudah benar-benar hilang.  Untuk mendapatkan informasi tentang terminal tersebut, kami hanya melihat dan melakukan penginderaan saja.  Kemudian hasialnya kami tuliskan di buku catatan kami.  “Iih pengen beli es krim”seru Chaca kelelahan.  “Iya kayaknya enak tuh makan es krim”ujar Alika mendukung.  Karena banyak yang merengek ingin es krim akhirnya aku memberikan uang sejumlah Rp.10.000,- kepada Chaca.  Ia pun membeli 2 buah eskrim kemudian kami memakannya bersama di terminal. 
Tidak terasa kira-kira sudah 15 menit kami diam di terminal.  Namun masih ada beberapa lokasi lagi yang harus kami datangi, salah satunya adalah patung Ir.H.Juanda.  Karena tidak mau buang-buang waktu, aku, Chaca, Alika dan Bimo pun langsung mencari tahu dimana letak patung tersebut.  Saat kami berjalan, kami menemukan sebuah tugu, namun tidak menggambarkan bahwa itu adalah sebuah tugu Ir.H. Juanda.  Kebetulan disebelah tugu tersebut ada pedagang mie ayam yang sepertinya sedang tidak sibuk.  Aku pun berinisiatif untuk bertanya.  “Permisi pak kalau patung Ir.H.Juanda ada dimana ya?” “Oh ini dek adek nanti lurus terus ada 1 belokan ke kiri nah adek belok kesana, inget ya dek kalau belok nanti ada bunyi NGEK nya”jawab pedagang mie ayam tersebut.  “Oh iya pak makasih ya”aku menjawab sambil menahan tawa.  “Iya dek sama-sama, inget ya dek kalau belok ada NGEKnya”seru si bapak tersebut.  Sampai kami pergi pun ia terus berkata “Inget ya dek kalau belok ada NGEKnya” Terkadang lucu saat bertemu orang seperti itu, unik tapi menyenangkan. 
         Kami pun terus berjalan, sampai akhirnya kami menemukan sebuah patung besar dengan muka Ir.H.Juanda dibagian atasnya.  Kami sangat senang, dan kami pun langsung mengabadikan patung tersebut.  Waktu sudah menunjukkan pukul 10.50 dan kami sudah harus tiba di masjid pukul 11.00.  Setelah selesai mengambil foto, kami pun langsung berangkat lagi untuk kembali ke masjid.  Kmai semua sangat ketakutan, karena takut terlambat sampia di masjid.  Disana sudah ada kelompok Karmel juga kakak-kakak.  Setelah kami sampai dan beristirahat sejenak, kami seluruh anggota kelompok Dolangan pergi lagi karena kami harus bertemu narasumber disuatu tempat.  

To Be Continued...

Dihadang Preman?? #PerjalananCicalengka3

Ruang Tamu SMPN Cicalengka
Setelah selesai makan bubur, kami pun memberikan uang lembar sejumlah Rp.5000,- dan mengucapkan terima kasih.  (baca dulu blog Perjalanan Cicalengka 2) Kemudian aku, Chaca dan Bimo meninggalkan pasar dan mulai mencari sekolahan, salah satu lokasi yang harus kami kunjungi.  Letak sekolahan yang akan kami tuju berada di sebelah pasar, sehingga  tidak memakan banyak waktu untuk bisa sampai kesana.  Sekolah yang kami datangi yaitu SMPN 1 Cicalengka.  Sesampainya disana, kami sedikit kebingungan, akan kemana mencari informasi tentang sekolah itu, karena pada saat kami datang, sedang berjalan kegiatan mengajar, sehingga kami tidak bisa bertanya pada guru, bahkan pada kepala sekolah. Tiba-tiba kami melihat ada salah satu orang yang sepertinya sedang duduk santai di pos satpam sekolah.  Kami pun mendekatinya kemudian mulai bertanya.  Ternyata ia juga sangat terbuka dan mau menjawab pertanyaan kami dengan senang hati. Sebelum kami bertanya pun, ia sudah bercerita. Katanya di sekolah ini ada 3 program yang paling dibanggakan, yaitu program 3S yaitu program Senyum, Salam dan Sapa. Kemudian ada program SMS yaitu program Siswa Memungut Sampah.  Dan yang terakhir adalah program Bintalis, yaitu program literasi islam.  Setelah lumayan lama mengobrol, akhirnya ia baru memberitahukan identitasnya.  Ternyata beliau adalah guru keagamaan di sekolah itu, namanya adalah Pak Amin Kusnandang.  Kami mengobrol di sana kurang lebih 5 menit dan setelah selesai, kami pun berpamitan.  Sebelum berpamitan, kami sempat bertanya dimana lokasi Kantor Kecamatan, karena setelah dari sekolah, aku dan kelompokku berencana akan ke Kantor Kecamatan terlebih dahulu.  Setelah ia memberitahu kami dimana lokasi Kantor Kecamatan kami pun berpamitan dan langsung pergi kesana. 
                Letak Kntor Kecamatan juga tidak terlalu jauh dari sekolah.  Hanya berjalan kurang lebih 2 meter kami pun sampai.  Sebenarnya tamu hanya boleh masuk dari pintu depan, dan kalau kita masuk dari pintu depan kita harus memutar lagi dan akan memakan waktu yang lama.  Namun karena kami dari tadi saat bertemu orang dan bertanya ramah maka orang-orang yang kami jumpai pun tidak merasa asing dengan kami, bahkan mereka memperbolehkan kami masuk ke Kantor Kecamatan lewat pintu belakang.  Kami pun akhirnya diperbolehkan masuk lewat pintu belakang.  Awalnya kami bingung dimana letak Kantor Kecamatan yang utamanya karena disana gedungnya banyak dan semua dipenuhi orang.  Setelah bertanya-tanya dengan beberapa orang yang ada disana, aku, Bimo dan Chaca akhirnya menemukan gedung utamanya.  Pada saat kami akan masuk, ruangan depan gedung itu sangat ramai.  Banyak orang yang mengantri, sepertinya akan membuat KTP.  Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak mendekatiku dan bertanya “Mau kemana dek?” Aku pun menjawab “Mau ketemu pak camatnya pak, mau nanya-nanya sedikit tentang daerah Cicalengka”  “Ohh ayo dek saya anterin aja”jawab bapak itu cepat.  Aku dan kelompokku pun masuk ke dalam ditemani bapak tersebut.  Saat kami masuk, ternyata sudah ada Karmel, Denzel, Hana dan Timmy yang sedang mewawancara pak camat juga.  
                “ini temennya ya dek?”tanya bapak tersebut setelah kami bertemu pak camat. “Iya pak, makasih ya!” aku menjawab dengan cepat.  Saat aku masih mengobrol dengan bapak-bapak yang tadi mengantarkan, salah satu pekerja yang ada disana langsung menyiapkan 3 kursi untuk kami duduk.   Setelah berpamitan, aku, Chaca dan Bimo langsung ikut mengobrol dengan Pak Camat.  DIdalam obrolan ini aku mendapatkan banyak informasi baru tentang daerah Cicalengka.  Katanya makanan yang paling terkenal dari Cicalengka adalah Ali Agrem, Awug dan Sate Jebred.  Aku sendiri baru pernah mendengar ada Sate Jebred.  Menurut Pak Camat, Sate Jebred terbuat dari kulit sapi dan sudah ada sejak jaman Belanda.  “Adek-adek tahu gak, Kecamatan Cicalengka ini termasuk dalam kategori lengkap loh, sudah ada terminal, pasar tradisional, rumah sakit, mall, stasiun dan Griya”seru Pak Camat bangga. 
Pohon asam di Kantor Kecamatan
Perjalanan menuju patung Dewi Sartika
                Setelah selesai bercerita, Pak Camat mengajak kami untuk berkeliling di Kantor Kecamatan tersebut.  Selama berkeliling, beliau menunjukkan kami banyak hal, seperti data penduduk Cicalengka dan pohon asam yang katanya sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.  Ternyata di hari itu Pak Camat ada pertemuan, sehingga setelah menjelaskan beberapa lokasi di Kantor Kecamatan tersebut, Pak Camat berpamitan dan meninggalkan kami.  Namun sebelum pergi, ia menyuruh salah satu pekerja disana untuk mengantarkan kita ke tempat-tempat yang harus kami datangi.  Orang-orang disana sangatlah ramah terhadap para pendatang baru dan aku merasa senang bisa mengenal mereka semua.  Aku dan kelompok Karmel pun langsung berangkat ditemani salah satu petugas dari kantor kecamatan.  
Patung Dewi Sartika
                Setelah dari Kantor Kecamatan, kami diantarkan ke lokasi pertama yang harus kami datangi, yaitu Patung Dewi Sartika, salah satu patung yang terkenal di Cicalengka.  Melewati jalan besar yang penuh kendaraan membuatku sedikit pusing.  Ditambah dipinggir jalan banyak toko yang menjual CD musik sehingga mereka memasang musik di speaker dengan volume yang besar.  Kami pun sampai di patung tersebut.  Saat kami akan memotret patung tersebut, kami dihadang oleh preman yang sepertinya sudah menjadi jagoan disana.  “Eh Eh pada mau ngapain nih disini? Minggir-minggir tempat gue nih”teriak preman tersebut sambil membawa semangkuk bakso.  Ia sepertinya sangat tidak senang dengan kehadiran kami.  Aku dan teman-temanku yang lain pun ketakutan.  Kami mencatat dan mengambil foto dengan cepat, karena tidak mau cari masalah dengan preman tersebut.  Ternyata ia tidak melihat ada salah satu petugas Kecamatan menemani kami.   Setelah ia melihat ada petugas kantor kecamatan ia langsung diam tidak berani berbicara lagi. Untunglah ada petugas dari Kantor Kecamatan, kalau tidak entah bagaimana nasib kami...

 To Be Continued...