3.12.2018

Pulang ke Bandung!! #PerjalananCicalengka5


“Menarik juga yaa kisah dibalik kabupaten Cicalengka ini!”seru sakah satu temanku.  “Kalau asal usul nama Cicalengka ini dari mana sih kang?”tanya Karmel.  “Oh kalau namanya mah kalau Ci kan artinya air, kalau Calengka katanya sih nama tanaman, jadi artinya ada tanaman Calengka di sungai, makanya namanya Cicalengka”jawab Kang Irvani.  Kami mengobrol lumayan lama dengan Kang Irvani.  Kami mengobrol di sebuah ruangan kecil yang bisa disebut juga sebagai perpustakaan karena diruangan tersebut ada banyak rak yang dipenuhi oleh buku.  Ia juga memperlihatkan salah satu majalah kuno yang berjudul "Sampoer Merah". Walaupun umurnya sudah tua, namun tulisannya masih terbaca dan ternyata isinya bagus sekali.  Tulisannya masih menggunakan ejaan lama jadi menambah rasa penasaranku juga.  Setelah selesai berdiskusi, kami pun memakan bekal kami, yaitu bekal makan berat.  Selama kami makan, kami membicarakan banyak hal yang menyenangkan, sampai kami lupa dengan perjalanan kami yang sudah sangat melelahkan tadi.  Setelah kami selesai makan, kami pun pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Kang Irvani, kemudian pergi ke stasiun untuk bersiap pulang ke Bandung. 
Kebetulan aku dan kelompokku kebagian jalan pertama.  Walaupun matahari bersinar terik, aku dan kelompokku tetap bersemangat, karena sebentar lagi kami akan kembali ke Bandung.  DI perjalanan, kami mengobrol dan asik berdiskusi tentang perjalanan kali ini.  Tentang suka dan duka serta kesan-kesannya.  Sesampainya di stasiun, aku memberikan uang sebesar Rp.15.000,- kepada Bimo, agar ia membeli tiket.  Setelah ia membeli tiket, kami semua langsung masuk ke dalam kereta, karena sebentar lagi kereta yang akan kami tumpangi akan segera berangkat.  Kereta tersebut berangkat pukul 13.05 dan kami baru masuk ke kereta pukul 13.00. 
Sesampainya di kereta, aku dan teman sekelompokku langsung mencari tempat duduk.  Namun ternyata tidak ada tempat duduk yang kosong.  Aku dan teman sekelompokku akhirnya memutuskan untuk duduk bersama seorang bapak-bapak yang kelihatannya ramah dan tidak mencurigakan. 
Dan Keretapun BERANGKAT!
Di perjalanan pulang, cuacanya sangat tidak mendukung.  Cuaca dikala itu sedang hujan deras disertai angin.  Untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk, akhirnya aku, Bimo dan Chaca mengobrol dan bermain berbagai jenis permainan, mulai dari permainan jari sampai permainan di HP.  Saat pulang, aku tidak setakut saat berangkat tadi, takut kelebihan stasiun dan sebagainya.  Perjalanan pulang dari Cicalengka ini sangat menyenangkan dan sangat berkesan untukku.  Dan kami pun tiba di Bandung! Kami turun di Stasiun Bandung bagian selatan, sedangkan kami semua dijemput di Stasiun Bandung bagian Utara, maka kami pun harus berjalan ditengah derasnya hujan dan kencangnya angin. Pengalaman yang sangat menyenangkan, karena selama ini, di semua perjalanan kami, tidak pernah hujan, selalu panas. 
Sesampainya di Stasiun Bandung bagian utara, kami semua langsung pulang ke rumah masing-masing.  Tidak lupa sebelum pulang kami berdoa bersama dan mengumpulkan surat tugas.  Terima Kasih untuk teman-teman Dolangan, kakak-kakak Dolangan, semua narasumber di Cicalengka atas semua pengalaman dan kisahnya yang menarik dan seru.  Terima kasih juga untuk Chaca dan Bimo yang sudah menjadi teman sekelompokku. Kerja sama tim kita dalam perjalanan ini sangat keren! Kita sudah bisa bekerja sama dengan baik dan sudah bisa kompak.  Semoga di Perjalanan Besar gini juga yaa…

Foto peta Cicalengka:


Sampai bertemu di perjalanan kami yang selanjutnya yaa!!

Makan Es Krim?? Emang boleh?? #PerjalananCicalengka4

Namun karena Linus akan bergabung, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali ke Patung Dewi Sartika untuk menjemput Linus. Dijalan aku sudah bete dan kesal, karena harus kembali kesana, ditambah teriknya sinar matahari yang sangat menyengat membuatku jadi tambah gak mood.  Aku juga kesal karena saat kak Diki memberitahu tidak jelas, sehingga membuat kesalahpahaman yang akibatnya merugikan kelompokku.  Kami pun akhirnya tiba di Patung Dewi Sartika.  Setibanya kami disana, aku tidak melihat ada Linus ataupun Kak DIki.  Karena kami juga sudah lelah, akhirnya kami memutuskan untuk duduk dulu didepan salah satu toko untuk minum.  Kami menunggu cukup lama sekitar 5 menit, namun tidak ada tanda-tanda Linus akan datang. 
Puskesmas Cicalengka

Kami pun berinisiatif untuk menelepon kakak.  Kak Diki mengangkat telepon kami, kemudian kak Diki meminta kami untuk ke puskesmas.  Tanpa menunggu lama, aku dan teman sekelompokku segera pergi menuju ke puskesmas. Namun kami tidak mengetahui dimana lokasi puskesmas.  Udara yang panas ditambah tubuh yang mulai lelah membuat kami patah semangat. Karena kami tidak tahu letak puskesmas dimana, akhirnya aku dan teman sekelompokku memutuskan untuk ke masjid dulu untuk bertanya pada orang disana, dan setelah mengetahui dimana lokasi puskesmas , baru kami akan menjemput Linus. 

Setibanya di puskesmas, aku bertemu Alika, bukan bertemu Linus.  Ternyata Linus tidak jadi bergabung dengan kelompokku, karena nanti takut heboh kalau disatukan dengan Bimo.  Jadi Alika yang digabungkan ke kelompokku sedangkan Linus ke kelompok Karmel.  Aku pun bertanya kenapa kelompok mereka dipisah.  Ternyata Naia jatuh dan kakinya keseleo, tidak memungkinkan baginya untuk berjalan jauh keliling Cicalengka.  Kami pun langsung melanjutkan perjalanan. Awalnya kami akan mencari informasi di puskesmas tersebut, tapi kata Alika orang-orang di puskesmas ini sedang sibuk dan tadi pun mereka sudah berusaha untuk wawancara tapi ditolak. 
Karena harus mendapatkan informasi di bidang kesehatan, akhirnya aku dan kelompokku memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit saja.  Perjalanan ke Rumah Sakit lumayan Panjang.  Kami harus melewati berbagai tanjakan mulai dari yang biasa saja sampai yang terjal.  Walaupun perjalanan menuju ke Rumah Sakit lumayan melelahkan, tapi kami semua kuat, tidak ada yang sakit bahkan saat perjalanan menuju ke Rumah Sakit kami tidak beristirahat sekalipun.  Sungguh fisik yang sangat kuat!
Sesampainya di Rumah Sakit, aku dan teman-teman merasa sangat senang, karena dari luar kelihatannya sepi dan disekitar Rumah Sakit ada pohon-pohon yang rindang sehingga sejuk dan teduh.  Kami pikir kami bisa mendapatkan banyak informasi di Rumah Sakit tersebut, namun ternyata dugaan kami salah.  Sesampainya kami di pintu depan, kami kaget sekali.  Ruang tunggu Rumah Sakit tersebut sangat penuh dengan orang bahkan ada yang berdiri, tidak kebagian tempat duduk.  Karena kami sudah sangat kelelahan, kamipun tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan.  Kami mencari tempat duduk di luar dan beristirahat sejenak.  Beberapa dari kami ada yang mengeluarkan bekalnya dan memakannya.  Setelah beristirahat cukup lama, kami pun berdiskusi, apa tindakan yang setelah ini harus kami ambil.  Setelah lumayan lama berdiskusi, aku dan teman-teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke destinasi selanjutnya, yaitu terminal. 
Terminal Cicalengka
Perjalanan menuju ke masjid terasa sangat lama, karena badan kami yang sudah benar-benar lelah dan tidak ada angin sama sekali membuat kami tambah tidak bersemangat.  Jalan menuju ke masjid sangat gersang, sangat sedikit pohon yang tumbuh disekitarnya, kalau ada yang tumbuh pun banyak yang ditebang.  Destinasi yang akan kami datangi selanjutnya adalah terminal angkot yang letaknya tidak jauh dari masjid.  DI terminal, mood kami untuk wawancara sudah benar-benar hilang.  Untuk mendapatkan informasi tentang terminal tersebut, kami hanya melihat dan melakukan penginderaan saja.  Kemudian hasialnya kami tuliskan di buku catatan kami.  “Iih pengen beli es krim”seru Chaca kelelahan.  “Iya kayaknya enak tuh makan es krim”ujar Alika mendukung.  Karena banyak yang merengek ingin es krim akhirnya aku memberikan uang sejumlah Rp.10.000,- kepada Chaca.  Ia pun membeli 2 buah eskrim kemudian kami memakannya bersama di terminal. 
Tidak terasa kira-kira sudah 15 menit kami diam di terminal.  Namun masih ada beberapa lokasi lagi yang harus kami datangi, salah satunya adalah patung Ir.H.Juanda.  Karena tidak mau buang-buang waktu, aku, Chaca, Alika dan Bimo pun langsung mencari tahu dimana letak patung tersebut.  Saat kami berjalan, kami menemukan sebuah tugu, namun tidak menggambarkan bahwa itu adalah sebuah tugu Ir.H. Juanda.  Kebetulan disebelah tugu tersebut ada pedagang mie ayam yang sepertinya sedang tidak sibuk.  Aku pun berinisiatif untuk bertanya.  “Permisi pak kalau patung Ir.H.Juanda ada dimana ya?” “Oh ini dek adek nanti lurus terus ada 1 belokan ke kiri nah adek belok kesana, inget ya dek kalau belok nanti ada bunyi NGEK nya”jawab pedagang mie ayam tersebut.  “Oh iya pak makasih ya”aku menjawab sambil menahan tawa.  “Iya dek sama-sama, inget ya dek kalau belok ada NGEKnya”seru si bapak tersebut.  Sampai kami pergi pun ia terus berkata “Inget ya dek kalau belok ada NGEKnya” Terkadang lucu saat bertemu orang seperti itu, unik tapi menyenangkan. 
         Kami pun terus berjalan, sampai akhirnya kami menemukan sebuah patung besar dengan muka Ir.H.Juanda dibagian atasnya.  Kami sangat senang, dan kami pun langsung mengabadikan patung tersebut.  Waktu sudah menunjukkan pukul 10.50 dan kami sudah harus tiba di masjid pukul 11.00.  Setelah selesai mengambil foto, kami pun langsung berangkat lagi untuk kembali ke masjid.  Kmai semua sangat ketakutan, karena takut terlambat sampia di masjid.  Disana sudah ada kelompok Karmel juga kakak-kakak.  Setelah kami sampai dan beristirahat sejenak, kami seluruh anggota kelompok Dolangan pergi lagi karena kami harus bertemu narasumber disuatu tempat.  

To Be Continued...

Dihadang Preman?? #PerjalananCicalengka3

Ruang Tamu SMPN Cicalengka
Setelah selesai makan bubur, kami pun memberikan uang lembar sejumlah Rp.5000,- dan mengucapkan terima kasih.  (baca dulu blog Perjalanan Cicalengka 2) Kemudian aku, Chaca dan Bimo meninggalkan pasar dan mulai mencari sekolahan, salah satu lokasi yang harus kami kunjungi.  Letak sekolahan yang akan kami tuju berada di sebelah pasar, sehingga  tidak memakan banyak waktu untuk bisa sampai kesana.  Sekolah yang kami datangi yaitu SMPN 1 Cicalengka.  Sesampainya disana, kami sedikit kebingungan, akan kemana mencari informasi tentang sekolah itu, karena pada saat kami datang, sedang berjalan kegiatan mengajar, sehingga kami tidak bisa bertanya pada guru, bahkan pada kepala sekolah. Tiba-tiba kami melihat ada salah satu orang yang sepertinya sedang duduk santai di pos satpam sekolah.  Kami pun mendekatinya kemudian mulai bertanya.  Ternyata ia juga sangat terbuka dan mau menjawab pertanyaan kami dengan senang hati. Sebelum kami bertanya pun, ia sudah bercerita. Katanya di sekolah ini ada 3 program yang paling dibanggakan, yaitu program 3S yaitu program Senyum, Salam dan Sapa. Kemudian ada program SMS yaitu program Siswa Memungut Sampah.  Dan yang terakhir adalah program Bintalis, yaitu program literasi islam.  Setelah lumayan lama mengobrol, akhirnya ia baru memberitahukan identitasnya.  Ternyata beliau adalah guru keagamaan di sekolah itu, namanya adalah Pak Amin Kusnandang.  Kami mengobrol di sana kurang lebih 5 menit dan setelah selesai, kami pun berpamitan.  Sebelum berpamitan, kami sempat bertanya dimana lokasi Kantor Kecamatan, karena setelah dari sekolah, aku dan kelompokku berencana akan ke Kantor Kecamatan terlebih dahulu.  Setelah ia memberitahu kami dimana lokasi Kantor Kecamatan kami pun berpamitan dan langsung pergi kesana. 
                Letak Kntor Kecamatan juga tidak terlalu jauh dari sekolah.  Hanya berjalan kurang lebih 2 meter kami pun sampai.  Sebenarnya tamu hanya boleh masuk dari pintu depan, dan kalau kita masuk dari pintu depan kita harus memutar lagi dan akan memakan waktu yang lama.  Namun karena kami dari tadi saat bertemu orang dan bertanya ramah maka orang-orang yang kami jumpai pun tidak merasa asing dengan kami, bahkan mereka memperbolehkan kami masuk ke Kantor Kecamatan lewat pintu belakang.  Kami pun akhirnya diperbolehkan masuk lewat pintu belakang.  Awalnya kami bingung dimana letak Kantor Kecamatan yang utamanya karena disana gedungnya banyak dan semua dipenuhi orang.  Setelah bertanya-tanya dengan beberapa orang yang ada disana, aku, Bimo dan Chaca akhirnya menemukan gedung utamanya.  Pada saat kami akan masuk, ruangan depan gedung itu sangat ramai.  Banyak orang yang mengantri, sepertinya akan membuat KTP.  Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak mendekatiku dan bertanya “Mau kemana dek?” Aku pun menjawab “Mau ketemu pak camatnya pak, mau nanya-nanya sedikit tentang daerah Cicalengka”  “Ohh ayo dek saya anterin aja”jawab bapak itu cepat.  Aku dan kelompokku pun masuk ke dalam ditemani bapak tersebut.  Saat kami masuk, ternyata sudah ada Karmel, Denzel, Hana dan Timmy yang sedang mewawancara pak camat juga.  
                “ini temennya ya dek?”tanya bapak tersebut setelah kami bertemu pak camat. “Iya pak, makasih ya!” aku menjawab dengan cepat.  Saat aku masih mengobrol dengan bapak-bapak yang tadi mengantarkan, salah satu pekerja yang ada disana langsung menyiapkan 3 kursi untuk kami duduk.   Setelah berpamitan, aku, Chaca dan Bimo langsung ikut mengobrol dengan Pak Camat.  DIdalam obrolan ini aku mendapatkan banyak informasi baru tentang daerah Cicalengka.  Katanya makanan yang paling terkenal dari Cicalengka adalah Ali Agrem, Awug dan Sate Jebred.  Aku sendiri baru pernah mendengar ada Sate Jebred.  Menurut Pak Camat, Sate Jebred terbuat dari kulit sapi dan sudah ada sejak jaman Belanda.  “Adek-adek tahu gak, Kecamatan Cicalengka ini termasuk dalam kategori lengkap loh, sudah ada terminal, pasar tradisional, rumah sakit, mall, stasiun dan Griya”seru Pak Camat bangga. 
Pohon asam di Kantor Kecamatan
Perjalanan menuju patung Dewi Sartika
                Setelah selesai bercerita, Pak Camat mengajak kami untuk berkeliling di Kantor Kecamatan tersebut.  Selama berkeliling, beliau menunjukkan kami banyak hal, seperti data penduduk Cicalengka dan pohon asam yang katanya sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.  Ternyata di hari itu Pak Camat ada pertemuan, sehingga setelah menjelaskan beberapa lokasi di Kantor Kecamatan tersebut, Pak Camat berpamitan dan meninggalkan kami.  Namun sebelum pergi, ia menyuruh salah satu pekerja disana untuk mengantarkan kita ke tempat-tempat yang harus kami datangi.  Orang-orang disana sangatlah ramah terhadap para pendatang baru dan aku merasa senang bisa mengenal mereka semua.  Aku dan kelompok Karmel pun langsung berangkat ditemani salah satu petugas dari kantor kecamatan.  
Patung Dewi Sartika
                Setelah dari Kantor Kecamatan, kami diantarkan ke lokasi pertama yang harus kami datangi, yaitu Patung Dewi Sartika, salah satu patung yang terkenal di Cicalengka.  Melewati jalan besar yang penuh kendaraan membuatku sedikit pusing.  Ditambah dipinggir jalan banyak toko yang menjual CD musik sehingga mereka memasang musik di speaker dengan volume yang besar.  Kami pun sampai di patung tersebut.  Saat kami akan memotret patung tersebut, kami dihadang oleh preman yang sepertinya sudah menjadi jagoan disana.  “Eh Eh pada mau ngapain nih disini? Minggir-minggir tempat gue nih”teriak preman tersebut sambil membawa semangkuk bakso.  Ia sepertinya sangat tidak senang dengan kehadiran kami.  Aku dan teman-temanku yang lain pun ketakutan.  Kami mencatat dan mengambil foto dengan cepat, karena tidak mau cari masalah dengan preman tersebut.  Ternyata ia tidak melihat ada salah satu petugas Kecamatan menemani kami.   Setelah ia melihat ada petugas kantor kecamatan ia langsung diam tidak berani berbicara lagi. Untunglah ada petugas dari Kantor Kecamatan, kalau tidak entah bagaimana nasib kami...

 To Be Continued...

3.10.2018

Bubur Kacang seharga Rp.5000 untuk 3 orang?? #Perjalanan Cicalengka2

Kejadian salah naik kereta ini membuatku tertawa terbahak-bahak.  (baca dulu blog Perjalanan Cicalengka yang pertama) Perasaanku jadi campur aduk, antara takut dan beruntung karena tadi tidak terbawa sampai ke Padalarang tapi juga ingin tertawa soalnya ngakak bisa sampai salah kereta.  Ternyata kesalahan kelompokku terletak pada saat kami baca tiket.  Ditiket dituliskan kami harus menaiki kereta yang nantinya akan berada di jalur 2 sedangkan kereta yang kami naiki tadi (yang salah) berada di jalur 3. 
                Setelah turun dari kereta dan dinasehati kakak, kereta dengan jurusan Kiara Condong-Cicalengka datang.  Kami dijaga oleh beberapa petugas di stasiun agar tidak terlalu dekat dengan rel kereta, karena bisa tertabrak.  Walaupun kami sudah berdiri jauh dari rel kereta, angin yang berhembus masih terasa sangat kencang bahkan hampir menerbangkan tiket yang aku bawa.  Setelah kereta berhenti sempurna, aku beserta teman sekelompokku segera naik kereta tersebut.  (Kali ini tidak salah kereta lagi kok..) 😊
                Didalam kereta, aku dan teman sekelompokku sempat kesulitan mencari tempat duduk karena hampir semua tempat duduk penuh.  Kakak sempat memberitahu kami, bahwa di perjalanan ketiga ini, setiap kelompok harus duduk di gerbong yang berbeda.  Maka dari itu kami, antar kelompok tidak ada yang berkomunikasi selama di kereta.  Jujur pada saat di kereta aku panik karena aku takut tidak sempat turun di stasiun yang dituju. Kami melewati 4 stasiun sebelum sampai di Cicalengka, yaitu lewat Kiara Condong, Cimekar, Rancaekek, Haur Pugur dan terakhir berenti di CIcalengka.    Kondisi setiap stasiun berbeda-beda, ada yang kecil sekali dan ada yang besar.  Kebersihan di setiap stasiun juga berbeda-beda, ada yang bersih dan ada yang kotor.  Selama di perjalanan, di kanan dan kiri banyak sawah dan banyak rumah penduduk.  Terkadang ada pakaian yang dijemur oleh para penduduk di atap rumahnya. 
                Didalam kereta, kami diberikan tantangan oleh kakak.  Tantangan tersebut adalah kami harus mengobrol dengan 1-2 penumpang kereta dan harus mengamati kondisi di setiap stasiun yang dilewati.  Di dalam kereta aku mengobrol dengan salah satu penumpang, ia bernama Pak Cece.  Pak Cece ini duduk di belakang kursiku.  Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dekat dengan Pak Cece.  Ternyata beliau juga ramah dan tidak asa-asa saat mengobrol denganku, sehingga terjadi timbal balik antara aku dan Pak Cece.  Pak Cece ini rumahnya di Cicalengka dan dia baru pulang dari Bandung karena menengok kakaknya yang tinggal di Bandung.  Sehari-harinya ia berkegiatan di Cicalengka dan bekerja disana.  Saat kereta sudah mau sampai di stasiun yang kami tuju, aku berpamitan dengan Pak Cece untuk bersiap-siap turun.  Dari wawancara ini aku jadi sadar, bahwa tidak semua orang baru menyeramkan  dan berbahaya, masih ada banyak orang yang baik diluar sana.  Selama di dalam kereta, aku juga mengambil foto dan mencatat hasil wawancara teman sekelompokku, yaitu Chaca dan Bimo. 
                Kereta pun sampai di Cicalengka! Petualangan kami di Cicalengka dimulai disini.  Setelah semua keluar dari kereta, kami diajak berkumpul oleh kakak di salah satu titik di stasiun Cicalengka.  Setelah kami berkumpul, kakak mengajak kami berjalan bersama ke Masjid Agung Cicalengka.  Sesampainya di Masjid Agung Cicalengka kami diperbolehkan istirahat oleh kakak.  Perjalanan dari Stasiun Cicalengka ke Masjid tidak memakan waktu yang lama, walaupun jarak antara stasiun dan masjid lumayan jauh.  Di masjid, ketua kelompok dipanggil kakak, karena kakak akan memberikan tugas yang baru.  Ketua kelompok dari kelompokku adalah Chaca.  Selama ketua kelompok bersama kakak, aku mengambil beberapa foto dan mencatat beberapa hal, seperti kondisi masjid diwaktu itu.   
                Setelah ketua kelompok kembali, mereka membriefing kelompoknya masing-masing.  Ternyata ada beberapa tempat yang kami kunjungi, kalau dihitung ada 12 tempat yang harus kami datangi.  Selain harus mengunjungi tempat-tempat tersebut, kita juga harus membuat peta daerah itu.  Aku dan kelompokku pun berdiskusi, akan mulai dari mana kami menjelajah daerah Cicalengka ini.  Setelah tahu mau mulai menjelajah dari mana, aku dan kelompok lapor ke kakak kemudian berangkat. 
                 Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pasar Siupi, salah satu pasar yang ada di Cicalengka.  Sesampainya di pasar aku langsung mencari pedagang yang kelihatannya sedang tidak sibuk.   Pedagang yang aku ajak wawancara kemarin adalah Bu Oni.  Beliau merupakan seorang pedagang rempah dan sayur.  Bu Oni ini tinggal di Cicalengka dan sehari-harinya berdagang disini, barang dagangannya juga bukan ia beli sendiri, melainkan ada orang-orang yang menitipkan barang dagangan padanya.  Pendapatannya setiap bulan adalah Rp.500.000,- dan cukup untuk menghidupi ia dan keluarganya sehari-hari.  Pada saat mewawancara Bu Oni, kami sekelompok mewawancaranya secara bergerombol,sampai akhirnya aku menyuruh Chaca dan Bimo agar berpencar, tidak mengerumuni 1 pedagang sekaligus, karena biasanya kalau kita mewawancaranya secara bergerombol, narasumber akan merasa diintrogasi dan jadi tidak berani mengeluarkan pendapatnya. 
                Sebelum kami berpisah di pasar, kami berdiskusi dulu, untuk menentukan dimana check point kami dan pada mau mewawancara ke  arah mana.  Setelah semua setuju, kami pun berpisah.  Aku mewawancara  tidak jauh dari tempat Bu Oni berdagang.  Aku bertemu dengan Pak Aim, salah satu pedagang perabot rumah tangga.  Pak Aim sudah berjualan di pasar ini selama 6 bulan, barang yang ia jual juga merupakan barang-barang dari Bandung.  Sebelum ia membuka lapak disini, dia harus pergi ke Bandung dulu kemudian membeli perabot rumah tangga disana, seperti piring, sapu, botol, centong, sikat dan mangkok.  Yang membeli barang dagangannya biasanya adalah ibu-ibu rumah tangga dan yang paling laku dibeli adalah piring.  Dari Pak Aim juga aku jadi tahu, bahwa Pasar Siupi ini baru dibangun satu tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2017. 
                Setelah selesai mewawancara Pak Aim aku pun berpamitan dan meninggalkan lapaknya.  Tak jauh dari tempatku wawancara aku melihat Chaca sedang mewawancara seorang pedagang bubur kacang, sedangkan Bimo sedang asik memotret.  Aku segera menghampiri Bimo kemudian mulai memotret juga.  Ternyata dari tadi Bimo hanya memotret tidak mewawancara pedagang lainnya.  Aku dan Bimo pun menunggu Chaca selesai wawancara, karena setelah dari pasar, kami akan langsung pergi menuju ke salah satu sekolah yang ada di Cicalengka.  Setelah Chaca selesai wawancara, ia tiba-tiba menawari aku dan Bimo untuk makan terlebih dahulu “Eh itu bubur kacangnya kayaknya enak deh murah juga cuman 5000 beli yuk laper nih aku belum sarapan”ujar Chaca semangat.  “Isinya apa?”aku bertanya dengan spontan.  “Ya bubur-bubur kacang gitu lahh masa kamu gak tahu”Bimo menimpali.  Akhirnya karena aku juga kasian Chaca belum sarapan, aku dan kelompokku singgah dulu di tukang bubur tersebut. 
                Ibu penjual bubur kacang itu sangat ramah.  Beliau bernama Ibu Eti.  Ia melayani kami dengan baik.  Tempatnya berjualan juga bersih tidak dipenuhi lalat.  Selama melayani, ibu itu banyak bertanya kepada kami, seperti “dari mana dek?” atau “ini the pada mau kemana bawa tas meni gede-gede”.  Ternyata logat berbicara orang Cicalengka dengan orang Bandung tidak berbeda jauh, bahkan banyak yang mirip.  Sekitar 3 menit kami menunggu akhirnya pesanan kami datang.  Kami hanya membeli 1 mangkuk bubur kacang untuk dimakan bertiga.  Bubur kacang itu merupakan campuran dari berbagai jenis kacang.  Dalam satu mangkuk bubur kacang, terdapat kacang hijau, ketan hitam, santan dan campuran lainnya.  Porsinya juga besar, sehingga untuk dimakan bertiga sangat pas.  Rasa yang paling menonjol dari makanan ini adalah manis.  Walaupun tidak ditambahkan banyak gula, namun dengan adanya kacang hijau dan ketan hitam, bisa menambahkan cita rasa manisnya.  Sambil makan, kami juga mengobrol dengan ibu Eti. 
                Kami pun selesai makan.  Perut kami sudah terisi dan kami pun siap bertualang kembali.  

To be continued...

Salah Naik Kereta?? #PerjalananCicalengka1

Perjalanan Besar adalah kegiatan di kelas 8 yang paling aku tunggu-tunggu.  Waktu berjalan sangat cepat, sehingga tidak terasa tinggal 3 minggu lagi kami akan berangkat.  Agar siap saat perjalanan besar, kami harus melakukan berbagai latihan, baik latihan fisik maupun latihan mental.  Salah satu cara kami untuk menyiapkan fisik adalah dengan mengadakan kegiatan perjalanan. Di semester 2 ini, kami ada 3 perjalanan kecil yang diadakan setiap 3 minggu sekali. Perjalanan kecil ketiga adalah perjalanan terakhir untuk menyiapkan fisik kami.  Blog kali ini akan menceritakan kisah kami, kelompok Dolangan saat di perjalanan kecil ketiga beserta segala persiapannya.  Perjalanan ketiga ini sudah merupakan simulasi perjalanan besar, dimana kita sudah harus membawa barang-barang yang nantinya akan kita bawa saat perjalanan besar.  
Sebelum melakukan persiapan perjalanan, kami kedatangan 2 tamu.  Kedua tamu tersebut merupakan orang-orang yang sudah pernah bertualang jauh seperti yang akan kami lakukan nanti saat perjalanan besar.  Siapa ya kira-kira tamu tersebut? Ya mereka adalah teman-teman KPB dan Om Ahmad Yunus.  Om Ahmad Yunus memberikan beberapa tips agar catatan saat perjalanan bisa lengkap dan cara yang baik saat bertemu dengan orang baru.  Sedangkan teman-teman KPB memberikan beberapa tips untuk packing agar lebih ringkas. 
Hari-hari pun terus berlalu.  Tidak terasa tinggal beberapa hari lagi kami akan berangkat perjalanan kecil ketiga.  Pada tanggal 23 Februari 2018, aku mulai memeriksa kembali barang-barang apa yang akan dibawa saat perjalanan nanti.  Setelah aku yakin semua barang yang dibutuhkan sudah masuk ke backpack aku menyiapkan barang lainnya yang nantinya akan aku bawa di daybag.  Baju yang aku bawa untuk perjalanan besar tidak terlalu banyak, aku hanya membawa 6 baju atasan, 1 celana panjang dan 1 celana tidur.  Barang lainnya yang aku bawa antara lain adalah peralatan mandi, senter, obat-obatan dan selimut bali. Itu semua adalah barang yang akan aku bawa di backpack.  
Tanggal 26 Februari 2018 tepatnya di hari Senin, kakak sudah mengingatkan kami untuk tidur mlam yang cukup dan makan yang banyak agar saat perjalanan diesok hari kami tidak mudah lelah. Hari ini juga kakak mengumumkan kelompok perjalanan kami.  Kelompok ini juga yang nantinya akan digunakan saat perjalanan besar.  Kelompok pertama adalah aku, Bimo dan Chaca. Kelompok kedua adalah Karmel Denzel, Timmy dan Hana. Sedangkan kelompok terakhir adalah Alika, Linus dan Naia.   Malam ini merupakan malam yang paling menegangkan untukku.  Malam ini aku memeriksa kembali semua barang bawaanku, memastikan apakah ada yang tertinggal atau tidak.  Malam ini juga aku harus menyelesaikan semua tantanganku yang belum selesai.  Tantangan yang harus dikumpulkan besok merupakan tantangan dengan jawaban yang cukup panjang sehingga memakan cukup banyak waktu.  Setelah mengerjakan cukup lama akhirnya tantangan itu pun selesai.  Aku berhasil menyelesaikan tantangan tersebut pukul 21.00 dan setelah beberes aku langsung bersiap tidur. 
Kringgg!! Bunyi alarm di sebelahku mengagetkanku.  Kini waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh.  Ya perjalanan kali ini memang membutuhkan lebih banyak tenaga karena kami diharuskan sampai di stasiun Kiara Condong pukul 06.00.  Sedikit bermalas-malasan di tempat tidur hampir membuatku kembali tenggelam dalam mimpi. Setelah aku bangun dari tempat tidur aku langsung melakukan rutinitasku sehari-hari seperti mandi, membereskan tempat tidur dan sarapan.  Setelah semuanya selesai, aku memeriksa kembali semua barang bawaanku kemudian bersiap untuk berangkat. Entah kenapa di perjalanan kecil ketiga ini aku sangat takut kelupaan membawa barang bawaan. Namun setelah orang tuaku menenangkan, aku sedikit lebih tenang dan tidak sepanik sebelumnya. 
Tiket Kiara Condong - Cicalengka
Taksi yang menjemputku pun datang.  Setelah menunggu kurang lebih 5 menit aku pun berangkat.  Aku berangkat dari rumah pukul 05.00 menuju ke stasiun Kiara Condong.  Kondisi jalan pada waktu itu terhitung sepi.  Jumlah kendaraan yang lewat bisa dihitung jari.  Suasana yang gelap diterangi lampu-lampu bangunan membuat suasana kota Bandung menjadi lebih indah.  Sekitar 30 menit aku naik taksi sampai akhirnya tiba di tujuan.  Aku sampai kurang lebih pukul 05.35.  Setelah membayar taksi, aku langsung masuk ke stasiun.  Disana masih sangat sepi tidak ada kakak bahkan teman-teman.  Tidak lama kemudian Timmy dan Karmel datang disusul oleh teman-teman lainnya.  Setelah hampir semua teman-teman datang, aku, Karmel dan Alika dipanggil kakak.  Kami diberikan uang kemudian kami disuruh untuk membeli tiket.
Setelah melihat daftar keberangkatan kereta, kami segera datang ke loket tiket kemudian membeli tiketnya.  Kami membeli tiket jurusan Kiara Condong-Cicalengka yang berangkat pukul 06.22 WIB.  Harga 1 tiketnya adalah Rp5.000,00.  Namun saat kami mau masuk ke dalam ruang tunggu stasiun, kami sedikit terhambat karena adanya beberapa teman yang belum datang.  Setelah menunggu cukup lama, teman kami yang belum datang, akhirnya datang juga.  Tiba-tiba kakak memanggil ketua kelompok.  Aku, dipilih sebagai ketua kelompok dari kelompokku.  Ternyata kami dipanggil karena kakak akan memberikan kami masing-masing kelompok 1 HP jadul.  Hp tersebut nantinya akan digunakan untuk mengabari kakak karena saat di lokasi, kami akan berpisah dengan kakak dan akan menjelajah tempat itu secara mandiri.  Setelah kami menyimpan nomor kakak dan belajar mengirim SMS, kami pun masuk ke ruang tunggu dan duduk bersama kelompok masing-masing. Setiap kelompok duduk di kursi yang berbeda karena kami memang diharuskan untuk duduk terpisah.  Tujuannya agar kami bisa mandiri dan tidak mengandalkan orang lain terus.  
Stasiun Kiara Condong
Tiba-tiba terdengar suara kereta yang semakin dekat.  Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 namun kereta yang akan kami tumpangi belum juga datang. Aku dan kelompok lain saling bertanya apakah benar kereta yang datang ini merupakan kereta yang akan kami tumpangi.  Karena kami semua bingung akhirnya kami masuk ke kereta yang datang tadi, padahal itu merupakan kereta yang menuju ke Padalarang dan tidak berhenti di stasiun manapun.  Aku dan kelompokku dengan tenang masuk ke dalam kereta dan duduk dengan santai, tanpa menyadari kalau kereta yang kami naiki adalah kereta dengan tujuan yang salah.  Kami baru sadar kalau kami di kereta yang salah saat kak Diki dan kak Olin mengetuk-ngetuk jendela kereta kami dan menyuruh kami untuk turun.  Ternyata tidak hanya kelompokku kelompok Alika juga salah kereta.  Saat kami sudah turun, kelompok Alika belum juga turun.  Tepat setelah kelompok Alika turun kereta tersebut berangkat. 
“Kalian ini bagaimana sih? Itu tadi kereta ke Padalarang tau gak berenti dimana-mana.. coba kakak gak ngasih tau kalian, kalian kebawa tuh sampai ke Padalarang”kata kak Olin sedikit marah. 
“Tadi tuh kakak aja udah gak boleh masuk buat ngasih tau kalian makanya kakak ketuk-ketuk jendela, kalian gimana sih??”kata kak Diki.  

 To be continued...

3.02.2018

Persiapan Perjalanan Besar #1


Persiapan Perjalanan Besar
Perjalanan besar merupakan salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh kami, siswa-siswi kelas 8 Semi Palar.  Oleh karena itu, sebelum berangkat kami harus  mempersiapkan berbagai hal, seperti kesiapan fisik, ketahanan berpikir, kemampuan wawancara, kemampuan bertamu dan masih banyak lagi.  Untuk mengembangkan kemampuan dalam hal bertamu, kakak memberikan kami sebuah tantangan yaitu untuk berkunjung ke rumah kerabat sekalian mengembangkan kemampuan kami dalam bidang wawancara. 
Sebelum berangkat aku harus mempersiapkan banyak hal.  Pertama-tama aku harus menentukan kemana aku akan pergi kemudian menentukan kapan aku akan kesana. Setelah janjian dengan pemilik rumah, aku membuat beberapa daftar topik pembicaraan dan pertanyaan yang akan aku ajukan nanti.   Setelah semuanya selesai, aku tinggal menunggu kapan hari tersebut tiba…  
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba… Hari Sabtu 17 Februari 2018 aku mengunjungi kediaman salah satu teman papaku, yaitu rumah Om Tjahyadi.  Aku berangkat menaiki angkot pukul 09.00 dan tiba di sana pukul 09.30.  Aku menaiki angkot dengan jurusan Ledeng-Kebon Kalapa.  Kebetulan aku naik dari terminal Ledeng sehingga harus menunggu cukup lama agar angkot terisi penuh. Lokasi terminal Ledeng berdekatan dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sehingga terminal terlihat ramai pada waktu itu. 
Setelah angkot penuh, akhirnya supir angkot mulai menjalankan kendaraannya. Kurang lebih ada 8 penumpang lainnya yang ada didalam angkot itu. Penumpang angkot tersebut terdiri dari berbagai kalangan usia.  Ada yang masih remaja sampai yang sudah tua. Selama diperjalanan, banyak penumpang yang naik turun. Ditengah perjalanan ada seorang ibu-ibu yang bertanya kemanakah tujuanku soalnya aku pergi sendirian dan waktu itu terhitung masih pagi.  Ibu tersebut terlihat baik dan ramah sehingga aku pun tidak ragu untuk menjawab pertanyaan ibu tersebut.  Lalu lintas pagi itu lumayan padat, terdengar suara klakson mobil yang bersahut-sahutan. 
Tidak terasa, akhirnya aku pun sampai di rumah yang ku tuju.  Kondisi rumah pada waktu itu masih sepi.  Walaupun sepi, didepan rumah sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang.  Didepan pagar, aku menekan bel rumah.  Tanpa perlu menunggu lama aku pun langsung dibukakan pagar oleh pembantu di rumah tersebut.  Sesampainya didalam aku dipersilakan duduk.  Karena pemilik rumah belum turun, akhirnya aku memutuskan untuk mengecek HP ku terlebih dahulu.  Tidak sampai 5 menit, Om Tjahyadi turun kemudian mulai menyapaku.  Aku pun langsung menyimpan Hp ku kemudian berdiri untuk menyalami beliau.  Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencairkan suasana.  Karena aku memang sudah dekat dengan om Tjahyadi jadinya saat mencari topik pembicaraan tidak sesulit saat mengobrol dengan orang lain.  Om Tjahyadi merupakan teman TK papaku jadi sudah sangat dekat dengan keluargaku. 
Saat mengobrol kami membahas banyak topik, mulai dari kegiatan sehari-hari sampai hal yang lebih spesifik.  Saat aku baru mau memulai pembicaraan, aku disuguhkan berbagai kue kering dan segelas teh manis hangat.  Jujur pada saat akan memulai pembicaraan aku merasa takut. Aku takut nanti akan salah saat bicara atau salah melontarkan pertanyaan yang nantinya akan membuat Om Tjahyadi sakit hati atau jadi tidak enak denganku.  Makanya aku tidak banyak berbicara diawal obrolan, aku lebih banyak mendengarkan, karena didalam pikiranku, banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin ditanyakan beserta semua pertimbangannya. Om Tjahyadi akhirnya memulai pembicaraan dan mulai bertanya “Gimana sekolah kamu?” aku menjawab dengan cepat, namun sambil menjawab sebenarnya didalam hati, aku deg-degan karena takut salah ngomong nanti.  “Baik om, lancar semuanya gimana pekerjaan om?” begitu aku jawab.  Mulai dari pembicaraan sederhana, akhirnya obrolan kami mulai mengalir dengan lancar.  “Kamu sekarang lagi suka apa? Cita-cita kamu apa sih? Gimana perjalanan tadi kesini?” itu adalah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Om Tjahyadi kepadaku.  Memang itu merupakan pertanyaan yang sangat biasa ditanyakan, namun dari pertanyaan-pertanyaan itulah aku dan Om Tjahyadi bisa jadi mengobrol banyak. 
Setelah obrolan antara aku dan Om Tjahyadi hampir selesai, anak-anak Om Tjahyadi beserta istrinya turun kebawah.  Sehingga aku mengurungkan niatku untuk pulang.  Aku tidak mengobrol banyak dengan istrinya, aku lebih banyak mengobrol dengan anak-anaknya yang bernama Boby dan Erica.  Namun ya namanya juga anak-anak jadi obrolannya tidak terlalu bermutu dan banyaknya obrolan yang receh.  Kira-kira sampai pukul 11.00 aku mengobrol di ruang tamu.
Setelah itu, aku diajak Erica untuk naik ke atas dan main di kamarnya.  Diatas aku dan Erica banyak mengobrol, seperti membahas sekolah, pelajaran dan beberapa hal lainnya.  Menyenangkan sekali.  Karena bosan didalam kamar, akhirnya aku dan Erica memutuskan untuk keluar kamar dan main diluar saja.  Ternyata di luar kamar ada Boby, kakak dari Erica yang sedang bermain game PS.  Awalnya aku dan Erica hanya menonton Boby bermain game, tapi lama kelamaan karena gamenya terlihat seru aku dan Erica jadi tertarik untuk ikut.  Game tersebut memang memiliki sedikit unsur kekerasan.  Karena kita bermain dengan menyenangkna, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00.  Dan aku masih dirumah orang sendirian juga. 
Aku pun memutuskan untuk pulang Namun saat aku turun tangga aku berpapasan dengan pembantu rumah tangga di rumah itu.  Dia terlihat sedang sibuk membawa piring-piring makanan.  Dan piring itu ada 3! Aku pun kaget melihatnya.  Tiba-tiba pembantu itu berbicara padaku “Eh mau kemana? Ini makan dulu atuh udah siang nihh…belum makan kan?”.  Sebenarnya perut aku juga lapar dari tadi minta diberi makan.  Aku pun mengurungkan niatku kembali untuk pulang.  Akupun kembali keatas dan akhirnya makan bersama dengan Erica dan Boby.  Ternyata dalam keluarga Om Tjahyadi, mereka tidak memiliki kebiasaan untuk makan Bersama saat makan siang. 
Setelah makan, aku langsung melihat jam.  Kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.46.  Dengan gesit, aku langsung mengajak Erica untuk mengembalikan pirinig ke bawah agar niatku untuk pulang tidak batal lagi.  Dibawah ternyata ada Om Tjahyadi dan istrinya yang juga sedang makan sambil menonton TV.  Setelah mengembalikan piring aku pun pamit dengan Erica dan pamit dengan Om Tjahyadi serta istrinya.   Pada awalnya aku dicegat pulang “kok cepet-cepet banget udh pulang lagi? Main aja dulu disini” seru istrinya.  “Udah tante dari tadi main hehehe sekarang mau balik dulu.. Nanti kapan-kapan aku main lagi kesini😊” aku menjawab. 
Setelah berpamitan aku pun mengambil barang-barangku kemudian langsung pulang.  Om Tjahyadi dan istirnya mengantarkanku sampai ke pagar.  Pas pulang, aku harus menunggu angkot lebih lama dari saat berangkat.  Angkot yang aku naiki saat pulang tidak terlalu ramai.  Hanya ada 2-4 penumpang yang ada diangkot itu bersamaku.  Kurang lebih perjalanan selama 1 jam dengan macet disana-sini, sampai akhirnya aku sampai di rumah kembali.
Kisah ku selama berkunjung ini sangatlah menyenangkan.  Banyak suka dan duka saat melakukannya.  Persiapan untuk perjalanan besar tidak sampai disini, masih banyak lagi latihan yang harus kami lakukan agar benar-benar siap saat Perjalanan Besar nanti.  Tunggu cerita persiapan perjalanan besar kami yang lainnya yaa!! 

1.07.2018

Rindu

Perpisahan

Saat cinta untukmu mulai bersemayam
Mengapa perpisahan justru membungkam
Menyisakan luka hati yang begitu mendalam
Hanya karena ketiadaan yang terus mengancam

Aku dan kamu
Apakah kita ditakdirkan tuk bersatu hanya dalam semu?
Hingga air mata kita terus mengalir tanpa ada rasa jemu
Masih mungkinkah berharap hati kita kan kembali bertemu?
Meski harus dalam kisah baru, tak apa asalkan abadi bersamamu

Matahariku

Dia bagaikan matahari,
Yang menyinari sang bulan
Dikala sang bulan bersedih
Dia selalu menemaniku
Dikala semua orang melupakan bulan karena sisi gelapnya
Dia selalu merangkul ku dan menenangkanku
Apakah dia orang yang benar-benar aku banggakan?

Namun kini dia pergi,
Sangat jauh
Dan kini aku baru menyadari
Bahwa tanpa adanya sang matahari
Bulan tidak dapat  bersinar
Kini aku hanya bisa menatap dan berharap
Ia bisa tersenyum lagi padaku
Dan selalu berada disampingku lagi