11.28.2018

English Review


          In this semester, my activities at ninth grade, so are heavy and full.  The activities start in July.  Miss Bunny gave us some challenge to make an essay. The topic for the essay is about school.  I'm very happy when she tells us to make some essay.  In the beginning, I'm a little bit confused, because I don't know what topic I should discuss. Before we wrote the essay, we got a lot of lessons, about grammar and many things that we need for the essay.  The title for my essay is "LEARN EVERYWHERE" This essay talks about the study that doesn't have to be in school.  My motivation for this essay, I want to motivate a lot of people so that not continues to think that learning can only be done at school. 

          I write the essay, for a long time, maybe for 1 month.  After I've done with the essay, I prepare myself for the presentation.  Miss Bunny say that we have to present the essay on the middle review.  On this presentation, I feel so scared I don't know why.  I'm not ready for this presentation.  Several days before the presentation, I always practice the present my essay.  Until the day, finally, I can present my essay well.  Although, sometimes my presentation a little messy, but I'm proud of my self. 

          After we do the middle review, we got more challenge from Miss Bunny, and she wants us to make some vlog about school.  Miss Bunny say that this vlog must be related to the essay.  At first, we reject this project, because most of us don't like to make some video.  But, when Miss Bunny ask what kind of project that you want to do, no one can answer.  In the end, we still make the vlog. 

          Before we make the vlog, Miss Bunny gave us some lesson about tenses. Honestly, I'm not too understand about tenses, but I try to understand because I think this lesson very useful for my future.  aside from that, I always learn at home, about grammar and tenses. 

          After we understand about tenses and grammar, Miss Bunny want us to make the vlog planning and some script for our vlog.  I make vlog planning at home, and it takes a long time. After I think for a long time, I finally got my title, and the title is "How to maximize your study time and some tips to be a class champion I should register all about my vlog on that vlog planning, for example, the background of the video, the tools that I need and many things.  While I write the vlog planning, I start to make the script too.  My script including the opening, the main idea, some tips and of course closing.  I made my script for 3 weeks and I think that was good. 

          Now it's been 2 weeks for the final review.  After I done with my script, I like to chill, not record my video.  And I just realized that the final review just been 1 week.  After I realized that, I start to record my vlog.  It only takes 1 hour to record my vlog, but it takes a long time to me for edit the video. 

          The video talk about how to be a successful student.  I gave some study types, so before they watch more of my video, I want them to know what type of learning is most suitable for them.  After I explain the type, I gave some tips to maximize their study types and some tips to be a class champion. I hope after I made this video, a lot of students can more effective when they study. 


          So, the conclusion from this project I get a lot of new insight.  I learn how to make a video and how to edit video.  Before make this vlog, I never make and edit the video.  From my friend, I get more insight about school, like how to choose your school and how to enjoy your school.

This is the link for my video: https://drive.google.com/open?id=1eK1cfBhLpeYVD5zFT_H7o4ShYxNRj4b6

11.21.2018

Book Review

Book Title: Geronimo Stilton Hantu Terowongan Bawah Tanah
Author: Geronimo Stilton
Publisher: Libri
Thick Book: 121 page

Review: 
The novel work of Geronimo Stilton with a thick book of 121 pages contains a very interesting story.  Geronimo Stilton is a mouse Leader of the newspaper Warta Rodensia. He is the main character in this book series. The accompanying figures who almost always appear in every series of this book are Thea, Geronimo's sister, Geronimo's cousin Trapola, and Geronimo's nephew Benjamin.
Geronimo is a clumsy and kind mouse, whose biggest desire is to live in peace, but he is always involved in exciting adventures with Thea and Trapola. While working in the company, he experienced a lot of creepy experiences. Until one day he experienced a scary event at the train station when he wanted to go work. This is where the story begins, Geronimo and his co-workers start making news about the horror tunnel. After they write the news, lots of horror incident in the office. how did the story of Geronimo Stilton end after writing the news? Read this amazing book!


Advantages:
This book has a lot of pictures, so it is highly recommended for children. The words that she use are easy to understand. 


Deficiency: 
This book is sometimes confusing because the writing is written in various font types. the selected cover is a soft cover so it is easily damaged

Hasil gambar untuk buku geronimo stilton terowongan berhantu

10.10.2018

Resensi Buku Douwes Dekker

Judul Buku: Douwes Dekker "Sang Inspirator Revolusi"
Pengarang: Seri Buku Tempo
Penerbit: Tempo dan KPG
Jumlah halaman: kurang lebih 168 halaman
Tahun terbit: 2012
Bahasa: Bahasa Indonesia 
Jenis cover: Soft Cover
Kategori: Sejarah
Seri: Seri Buku Tempo Bapak Bangsa



Sinopsis:
Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Douwes Dekker, mulai dari masa kecilnya, kisah percintaannya sampai perjuangannya yang sangat berpengaruh terhadap revolusi Indonesia. Di dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangatnya lebih menggelora ketimbang penduduk bumiputra. Ia, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau nama Jawanya adalah Danudirja Setiabudi, orang pertama yang mendirikan partai politik Indonesia. Meski bukan penduduk Indonesia tulen, ke mana-mana Ernest Douwes Dekker selalu mengaku sebagai orang Jawa.Ia mendedikasikan seluruh hidupnya demi kemerdekaan Indonesia. Sebagai penggerak revolusi, gagasan Ernest melampui zamannya. Konsep nasionalismenya mempunyai andil saat Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Tapi ia hidup di pembuangan ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, Ernest Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Di situ pun tiga serangkai ini getol menyuarakan perjuangan Indische Partij. Berdarah campuran Eropa-Jawa, Ernest Douwes Dekker tumbuh di Pasuruan, kota kecil di pesisir utara Jawa Timur. Jiwa pemberontak pria yang masih memiliki hubungan darah dengan pengarang Max Havelaar, Eduard Douwes Dekker, ini mengental saat bekerja di dua perkebunan di kawasan rumahnya.


Kelebihan: Buku ini memiliki kisah yang sangat menarik, yang dikemas dengan bahasa baku dan mudah dimengerti.  Walaupun terkadang ada beberapa kata yang sulit dimengerti, tapi secara keseluruhan buku ini berisi kisah sejarah yang bermanfaat dan menarik.  Buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar kuno tentang perjalanan hidup Douwes Dekker.  Disini kisah hidup Douwes Dekker dikupas sangat dalam, sehingga setelah kita membacanya, kita langsung tahu banyak tentang kisah hidup Douwes Dekker. 


Kekurangan: Mungkin kalau buku ini diganti covernya menjadi hard cover akan lebih menarik dan bernilai jual tinggi.  Selain itu, untuk saran mungkin gambar bisa diubah menjadi lebih menarik, soalnya ada beberapa gambar yang tidak atau kurang jelas, karena backgroundnya yang berwarna hitam.  



Hasil gambar untuk buku douwes dekker tempo


Sekian dari saya, semoga resensi buku ini bisa bermanfaat...
Terima kasih :)

9.07.2018

Ekspedisi Kampung Adat #1


Hari Rabu kemarin, tepatnya tanggal 5 September 2018, kami kelas 9 melakukan perjalanan pertama, yaitu perjalanan ke Kampung Cireundeu.  Kampung Cireundeu merupakan salah satu kampung adat yang terletak di Cimahi.  Konon katanya Kampung Cireundeu ini memiliki banyak budaya yang menarik untuk digali, salah satunya tentang rasi.  Apa itu rasi? Pasti kalian semua bertanya-tanya.  Nah untuk mengetahui lebih lanjut tentang rasi dan Kampung Cireundeu, lanjutkan bacanya yaaa😊
Kami sekelas berangkat ke Kampung Cireundeu pada pukul 07.30.   Kami menaiki beberapa angkot untuk bisa tiba di Kampung Cireundeu.  Kami akhirnya tiba pukul 9 pagi.  Setibanya disana, kami harus berjalan lagi cukup jauh untuk tiba di rumah yang kami tuju.  Disana kami bertemu dengan narasumber yaitu Kang Tri.  Tanpa menunggu lama, kami langsung memulai acara.  Disini Kang Tri banyak membagikan informasi tentang Kampung Cireundeu pada kami.  Kami juga banyak bertanya pada beliau, jadi kegiatan ini seperti kegiatan diskusi. 
Setelah kegiatan diskusi, kami diajak Kang Tri untuk mendaki salah satu gunung yang ada di kampung, yaitu gunung Puncak Salam.  Ada hal unik yang kami lakukan saat mendaki gunung, yaitu kami tidak diperbolehkan untuk mendaki menggunakan sepatu.  Jadi kami mendaki gunung tersebut dengan telanjang kaki.  Itu menjadi tantangan tersendiri untukku karena tanah di gunung banyak batu serta banyak daun kasarnya jadi cukup sakit juga saat mendakinya.  Cukup lama kami mendaki, sampai akhirnya kami tiba di puncak.  Disana kami mendengarkan beberapa cerita unik dari Kang Tri.  Saat kami tiba di puncak, terlihat awan sudah mulai mendung dan sepertinya mau hujan. 
Menurutku, mendaki gunung ini adalah pengalaman yang paling unik, menyenangkan dan baru untukku. Sebenarnya mendaki gunung sudah biasa, namun karena telanjang kaki jadinya baru untukku.  Awalnya aku takut untuk mendaki gunung tanpa alas kaki.  Awalnya aku pikir akan ada ular, kodok dan binatang lainnya.  Tapi ternyata baik-baik saja hanya kakiku kotor sekali terkena tanah dan batu.  Menyenangkan!!!
Setelah kami mendaki gunung, kami pun memutuskan untuk turun.  Setelah lama berjalan, akhirnya kami tiba di bawah.  Menurutku, proses turun gunung lebih susah dibandingkan saat naik gunung, karena kami harus menentukan pijakan mana yang pas agar kaki tidak sakit. Setelah tiba di bawah, kami mencuci kaki kemudian makan bekal.  Rasanya tenagaku sudah habis terkuras saat mendaki gunung.  Setelah makan, rasanya tenagaku sudah kembali lagi. 
Setelah itu kami mengikuti workshop membuat rasi.  Rasi sendiri adalah makanan pokok warga di kampung.  Rasi sendiri terbuat dari singkong.  Warga Kampung Cireundeu tidak ada yang makan beras, bahkan saat aku mewawancarai salah satu warga yang berumur  58 tahun ia menyatakan bahwa ia tidak pernah makan beras dan tidak tahu rasanya seperti apa. 
Setelah melakukan serangkaian acara yang melelahkan di Kampung Cireundeu, akhirnya selesai sudah perjalanan kami disana.  Kamipun pamit dengan Kang Tri dan beberapa warga disana.  Kemudian melakukan perjalanan pulang ke sekolah. 
...
Perasaan yang aku rasakan ada banyak sekali.  Semuanya bercampur aduk susah untuk dijelaskan.  Namun secara umum aku merasa senang bisa bertemu dengan orang-orang yang sangat hangat menyambut  dan bisa mendaki gunung.  Pokoknya hari itu merupakan hari yang sangat menyenangkan dan berkesan untukku!! 😊
Nilai yang aku dapatkan dari perjalanan kali ini ada banyak salah satunya adalah bahwa kami bisa mewariskan semuanya yang kita punya, asalkan kita punya komitmen dan memiliki tekad yang kuat.  Dan kita juga bisa kuat kalau kompak dan saling mengerti satu sama lain😊
...
Sekian cerita  perjalanan dan refleksiku saat ekspedisi kampung adat pertama.  Semoga ceritanya bermanfaat bagi kalian😊

9.06.2018

Proyek Diorama Padang Rumput

  Haii semuanya! Di tulisan blogku kali ini, aku akan membuat sebuah cerita tentang proyek pertamaku di kelas 9.  Di kelas 9 ini, proyek pertamanya adalah membuat sebuah maket.  Aku kebetulan dikelompokkan dengan Linus.  
Untuk membuat maket ini, dibutuhkan banyak perjuangan.  Suka dan duka dialami oleh setiap kelompok.  Pada awalnya, aku dan Linus diajak untuk riset tentang bentang alam dan memutuskan secara spesifik nama bentang alam yang akan kami buat maketnya contohnya: GUNUNG=GUNUNG RINJANI.  Aku dan Linus memilih padang rumput.  Setelah riset cukup lama, akhirnya aku dan Linus memutuskan untuk memilih Savana Sumba Timur yang terletak di NTT.  
Setelah riset, aku dan Linus diajak untuk membuat timeline agar yang kami kerjakan bisa terstruktur dan lebih jelas.  Di pembuatan maket ini, sering sekali terjadi kesalahpahaman antara murid dengan kakak.  Tapi bisa kami atasi walaupun sulit.  HEHEHE... 
 Setelah membuat timeline, aku diminta untuk menentukan skala yang akan kami gunakan kemudian menggambarkan rancangan maketnya di kertas berukuran A3.  Kami menyelesaikan rancangan ini dengan waktu yang cukup panjang.  Namun akhirnya bisa kami selesaikan dengan maksimal.  
Karena semua persiapan sudah kami lakukan, aku dan Linus pun mulai membuat maket kami.  Di kelas aku dan Linus adalah kelompok pertama yang mulai membuat maket.  Awalnya aku dan Linus membuat bukit kecil dengan bubur kertas.  Bubur kertas yang kami gunakan untuk membuat gunung ini sangat halus dan bisa dibilang sedikit gagal.  Kenapa bisa dibilang gagal? Karena bubur kertas yang terlalu halus akan menghilangkan tekstur kasar koran yang sebenarnya aku dan Linus inginkan.  Setelah itu aku dan Linus mulai membuat rumah-rumah warga yang jumlahnya tidak terlalu banyak.  Aku membuat rumah tersebut dengan tusuk sate yang di lem dengan lem tembak.  Membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membuat rumah tersebut.  Setelah membuat rumah, aku dan Linus berbagi tugas.  Ada yang mengecat rumahnya, membuat peternakan dan ada yang membuat orang.  
 Setelah semuanya selesai, aku dan Linus melanjutkan membuat bukit karena waktu itu bukitnya belum selesai.  Kami sempat gagal dalam membuat bukit tersebut karena bubur kertas yang terlalu halus atau bubur kertas yang terlalu kasar.  Namun setelah kami melakukan riset lebih lanjut dan bertanya kepada narasumber, akhirnya kami bisa membuat bukit yang bagus dan sesuai dengan harapan kami.  Karena bukit sudah jadi, akhirnya aku dan Linus memutuskan untuk langsung mengecatnya.  Tapi sebelum kami mengecat, aku melapisi bukitnya dengan gipsum terlebih dahulu. 
Setelah bukitnya selesai, aku dan Linus merasa khawatir dan takut karena masih banyak yang harus kami kerjakan, seperti hewan dan pohon sedangkan waktu yang tersisa hanya tinggal sedikit lagi. 
1 minggu terakhir, aku dan Linus fokus mengerjakan proyek.  Kami banyak membagi tugas, karena apabila kami kerjakan bersama tidak akan selesai.  DI minggu terakhir, aku mengerjakan sebagian besar hewan sedangkan Linus mengerjakan pohon.  Setelah semua elemen selesai dengan maksimal, aku dan Linus mulai menempelkannya di tripleks. 
Sebelum menempelkannya di maket, aku dan Linus sempat melapisi alasnya dengan serbuk kayu yang sudah diberi warna hijau.  Jadi rumput yang ada di padang rumput lebih terlihat.  Setelah itu, aku dan Linus mulai menempelkan objek-objeknya, seperti rumah, pohon serta hewannya.  Khusus untuk hewan, sebelum ditempelkan aku celupkan dulu ke cat agar terlihat lebih real.  Setelah semua elemen ditempelkan aku melakukan beberapa finishing agar maket terlihat lebih bagus. 
Berikut ada foto-foto hasil maket padang rumputku... 

Sekian sharingku tentang proses pembuatan maket pertamaku di kelas 9 ini.. Semoga bermanfaat😊


8.12.2018

Resensi Buku The Whole Nine Yards

Judul buku: The Whole Nine Yards
Penulis: Pia Devina
Penerbit: DIVA Press
Jumlah halaman:228 halaman
Tahun terbit: September 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman ( sedikit ) 
Jenis cover: Soft cover
Kategori: Novel
Blurb: Gimana rasanya melihat orang yang sudah lama kamu cintai menjadi kekasih adikmu? 

Aku harap, kamu masang ekspresi kayak sekarang kamu lihat Nala itu buat aku.  Buat aku.  Bukan buat adikku. (Varuni Anandita) 

Bersiaplah untuk jatuh cinta padaku, Varuni Anandita (Benjamin Werner)

Perasaanku untuk kamu Run.  Bukan buat Nala (Edra Maheswara)



Sinopsis: Buku ini bercerita tentang kakak beradik, yaitu Runi dan Nala.  Runi yang sudah berteman dengan Edra selama 10 tahun sadar, bahwa ia sebenarnya menyimpan rasa yang lebih dari sekedar teman pada Edra.  Tak mungkin ia mengutarakan apa isi hatinya juga pada Nala, adiknya. Edra dan Nala memang sudah saling mencintai dari lama. Ternyata, hati memang tidak bisa dibohongi. Semakin lama perasaan Runi untuk Edra semakin berkembang seiring dengan sifatnya Edra yang semakin perhatian. Hingga tiba saatnya, Runi dan Nala harus pindah ke Jerman dan berpisah dengan Edra.  Bagaimana kelanjutan kisah cinta Runi? Apakah Edra sadar, bahwa selama ini Runi menyimpan rasa untuknya? Baca buku ini yaa!

Kelebihan: Buku ini memiliki kisah yang sangat seru untuk dibaca oleh anak remaja. Selain itu kata-kata yang digunakan dalam buku ini mudah dimengerti.  Walaupun menggunakan bahasa Jerman, tapi ada terjemahannya di bagian bawah buku, sehingga tidak membingungkan para pembaca.  Layout didalam buku ini juga unik.  Jangan salah, layout buku bisa mempengaruhi mood baca loh.. Selain itu, buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama.  Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca memang benar-benar di bawa ke dalam perasaan tokoh utamanya, jadi emosi yang ada didalam buku ini sangat terasa.  Tokoh yang dihadirkan dalam buku ini juga sangat menarik.  Walaupun tokohnya tidak terlalu banyak, namun penulis bisa memperlihat karakter setiap tokohnya dengan jelas. 

Kekurangan: Mungkin buku ini akan lebih menarik kalau dicetak dengan hard cover.  Gambar yang  digunakan untuk cover sudah menarik menurutku, jadi kalau pakai hard cover pasti akan lebih banyak menarik perhatian para pembaca.  Menurutku, konflik yang dihadirkan di buku ini masih terlalu ringan.  Mungkin akan lebih seru lagi kalau konfliknya lebih berat. 

Sekian review buku dari saya, semoga bermanfaat :))
Hasil gambar untuk gambar buku the whole nine yards

3.12.2018

Pulang ke Bandung!! #PerjalananCicalengka5


“Menarik juga yaa kisah dibalik kabupaten Cicalengka ini!”seru sakah satu temanku.  “Kalau asal usul nama Cicalengka ini dari mana sih kang?”tanya Karmel.  “Oh kalau namanya mah kalau Ci kan artinya air, kalau Calengka katanya sih nama tanaman, jadi artinya ada tanaman Calengka di sungai, makanya namanya Cicalengka”jawab Kang Irvani.  Kami mengobrol lumayan lama dengan Kang Irvani.  Kami mengobrol di sebuah ruangan kecil yang bisa disebut juga sebagai perpustakaan karena diruangan tersebut ada banyak rak yang dipenuhi oleh buku.  Ia juga memperlihatkan salah satu majalah kuno yang berjudul "Sampoer Merah". Walaupun umurnya sudah tua, namun tulisannya masih terbaca dan ternyata isinya bagus sekali.  Tulisannya masih menggunakan ejaan lama jadi menambah rasa penasaranku juga.  Setelah selesai berdiskusi, kami pun memakan bekal kami, yaitu bekal makan berat.  Selama kami makan, kami membicarakan banyak hal yang menyenangkan, sampai kami lupa dengan perjalanan kami yang sudah sangat melelahkan tadi.  Setelah kami selesai makan, kami pun pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Kang Irvani, kemudian pergi ke stasiun untuk bersiap pulang ke Bandung. 
Kebetulan aku dan kelompokku kebagian jalan pertama.  Walaupun matahari bersinar terik, aku dan kelompokku tetap bersemangat, karena sebentar lagi kami akan kembali ke Bandung.  DI perjalanan, kami mengobrol dan asik berdiskusi tentang perjalanan kali ini.  Tentang suka dan duka serta kesan-kesannya.  Sesampainya di stasiun, aku memberikan uang sebesar Rp.15.000,- kepada Bimo, agar ia membeli tiket.  Setelah ia membeli tiket, kami semua langsung masuk ke dalam kereta, karena sebentar lagi kereta yang akan kami tumpangi akan segera berangkat.  Kereta tersebut berangkat pukul 13.05 dan kami baru masuk ke kereta pukul 13.00. 
Sesampainya di kereta, aku dan teman sekelompokku langsung mencari tempat duduk.  Namun ternyata tidak ada tempat duduk yang kosong.  Aku dan teman sekelompokku akhirnya memutuskan untuk duduk bersama seorang bapak-bapak yang kelihatannya ramah dan tidak mencurigakan. 
Dan Keretapun BERANGKAT!
Di perjalanan pulang, cuacanya sangat tidak mendukung.  Cuaca dikala itu sedang hujan deras disertai angin.  Untuk menghilangkan rasa bosan dan kantuk, akhirnya aku, Bimo dan Chaca mengobrol dan bermain berbagai jenis permainan, mulai dari permainan jari sampai permainan di HP.  Saat pulang, aku tidak setakut saat berangkat tadi, takut kelebihan stasiun dan sebagainya.  Perjalanan pulang dari Cicalengka ini sangat menyenangkan dan sangat berkesan untukku.  Dan kami pun tiba di Bandung! Kami turun di Stasiun Bandung bagian selatan, sedangkan kami semua dijemput di Stasiun Bandung bagian Utara, maka kami pun harus berjalan ditengah derasnya hujan dan kencangnya angin. Pengalaman yang sangat menyenangkan, karena selama ini, di semua perjalanan kami, tidak pernah hujan, selalu panas. 
Sesampainya di Stasiun Bandung bagian utara, kami semua langsung pulang ke rumah masing-masing.  Tidak lupa sebelum pulang kami berdoa bersama dan mengumpulkan surat tugas.  Terima Kasih untuk teman-teman Dolangan, kakak-kakak Dolangan, semua narasumber di Cicalengka atas semua pengalaman dan kisahnya yang menarik dan seru.  Terima kasih juga untuk Chaca dan Bimo yang sudah menjadi teman sekelompokku. Kerja sama tim kita dalam perjalanan ini sangat keren! Kita sudah bisa bekerja sama dengan baik dan sudah bisa kompak.  Semoga di Perjalanan Besar gini juga yaa…

Foto peta Cicalengka:


Sampai bertemu di perjalanan kami yang selanjutnya yaa!!